Ketua Harian DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Ahmad Ali (zak/fajar)
FAJAR.CO.ID, TERNATE -- Ketua Harian DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Ahmad Ali menyoroti praktik politik transaksional yang menurutnya masih dijalankan sejumlah partai. Dalam forum Rakorwil PSI Maluku Utara Ahmad Ali menegaskan bahwa cara berpolitik dengan menagih pengakuan, meminta mahar, hingga mengklaim keberhasilan kader, sudah tidak relevan lagi.
“Ada partai-partai yang begitu kadernya sukses langsung berubah jadi debt collector. Minta pengakuan, minta balas budi, minta mahar, seolah-olah merekalah yang mencetak pemimpin. Padahal yang mencintai pemimpin itu rakyat, bukan struktur partai,” tegasnya, disambut riuh tepuk tangan peserta Rakorwil.
Ahmad Ali kemudian mencontohkan kader internal PSI, yakni Erwin Sutanto, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pulau Morotai sekaligus Ketua DPW PSI Maluku Utara, sebagai figur yang memperoleh kepercayaan publik tanpa tekanan balas budi dari partainya.
“Erwin ini kerja keras, turun ke masyarakat, dan dipercaya rakyat. PSI tidak pernah menagih balik. Karena PSI paham: pemimpin itu lahir dari kerja, takdir, dan restu Allah, bukan hasil klaim sepihak partai,” ujarnya.
Ia juga menyindir partai yang kerap menepuk dada ketika kadernya berhasil, namun cepat cuci tangan saat kadernya gagal.
“Kalau kadernya sukses, mereka langsung bilang: ‘itu karena kami’. Tapi kalau kadernya gagal, langsung cuci tangan. Jangan begitu. Berbesar hati lah. Belajarlah menghargai mereka yang bekerja dan mengharumkan nama partai,” katanya.
Lebih lanjut, Ahmad Ali menegaskan PSI tidak ingin mengikuti pola politik lama yang dianggap merusak integritas demokrasi.
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:















































