1 dari 5 Anak RI Alami Stunting-Anemia, Studi Temukan Efeknya ke IQ

5 hours ago 2

CNN Indonesia

Rabu, 15 Apr 2026 16:30 WIB

Studi terbaru dari IHDS menemukan, 1 dari 5 anak Indonesia alami stunting dan anemia yang berhubungan langsung dengan penurunan kemampuan kognitif. Ilustrasi. Studi terbaru dari IHDS menemukan, 1 dari 5 anak Indonesia alami stunting dan anemia yang berhubungan langsung dengan penurunan kemampuan kognitif. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Jakarta, CNN Indonesia --

Masalah gizi pada anak di Indonesia ternyata tidak hanya berdampak pada tinggi badan, tetapi juga kemampuan berpikir dan belajar.

Studi terbaru dari Indonesia Health Development Center (IHDC) mengungkap, satu dari lima anak Indonesia mengalami stunting dan anemia yang berhubungan langsung dengan penurunan kemampuan kognitif, termasuk working memory.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua Dewan Pembina IHDC, Nila Djuwita Moeloek, menegaskan bahwa persoalan ini masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia, meskipun indikator pembangunan manusia terus meningkat.

"Indonesia masih mempunyai stunting. Satu dari lima anak Indonesia stunting, masih 20 persen," kata Nila dalam pemaparan studi di Jakarta, Rabu (15/4).

Bukan cuma pengaruh ke fisik, tapi juga kemampuan otak

Selama ini, stunting memang kerap dipahami sebagai masalah pertumbuhan fisik. Namun, studi IHDC menunjukkan dampaknya jauh lebih luas.

Anak dengan stunting dan anemia cenderung memiliki kemampuan akademik dan perkembangan otak yang lebih rendah. Bahkan, dalam temuan penelitian tersebut, kemampuan kognitif anak bisa turun hingga beberapa kali lipat dibanding anak dengan kondisi gizi baik.

"Dengan stunting ternyata daya kemampuan akademik atau perkembangan otaknya lima kali lebih rendah. Jadi, artinya daya tangkap mereka juga tidak sama dengan anak normal," ujarnya.

Selain itu, anemia atau kekurangan zat besi juga berperan besar. Kadar hemoglobin (Hb) yang rendah terbukti berkaitan dengan kemampuan working memory, yakni kemampuan otak untuk menyimpan dan mengolah informasi saat belajar.

"HB yang rendah berkorelasi dengan daya tangkap atau working memory, operasinya hampir 4, sekitar 3,08," kata Nila.

IHDC juga menemukan bahwa satu dari lima anak mengalami defisit working memory, terutama pada anak dengan kondisi stunting, anemia, serta asupan protein dan kalori yang rendah.

Masalah gizi masih kompleks

[Gambas:Video CNN]

Dalam studi yang dilakukan pada anak sekolah dasar di Jakarta, IHDC menemukan bahwa banyak anak masih kekurangan asupan nutrisi penting, seperti protein, kalori, dan zat besi. Faktor-faktor ini sangat menentukan kesiapan belajar anak.

Kekurangan gizi membuat anak sulit fokus, lebih lambat memahami pelajaran, dan berisiko tertinggal secara akademik.

Nila juga menyoroti bahwa masalah ini tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan berbagai faktor, mulai dari akses gizi, sanitasi, hingga pola asuh.

Menurut Nila, intervensi gizi tidak bisa dimulai saat anak sudah besar. Periode paling krusial justru terjadi sejak kehamilan hingga usia dua tahun, yang dikenal sebagai 1.000 hari pertama kehidupan.

"Ini diperlukan sejak awal usia, terutama dalam seribu hari kehidupan, artinya di dalam kehamilan dan sampai usia dua tahun," jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya kesiapan ibu sebelum hamil, terutama dari sisi kesehatan dan status gizi.Pasalnya, intervensi setelah usia dua tahun dinilai tidak lagi optimal. Meski ada perbaikan, tapi dampaknya tidak akan signifikan.

"Kami pernah mencoba pada anak stunting diberikan makanan yang baik, IQ-nya hanya naik sekitar 15 persen, jadi tidak signifikan betul," kata Nila.

Masalah gizi anak juga berkaitan langsung dengan kualitas sumber daya manusia (SDM) di masa depan. Nila bahkan menyinggung rata-rata IQ yang masih menjadi tantangan.

Ia menegaskan bahwa peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tidak cukup jika tidak diiringi pemerataan kualitas gizi dan kesehatan.IHDC mendorong intervensi yang lebih komprehensif, tidak hanya dari sisi makanan, tetapi juga edukasi, sanitasi, dan pola asuh.

Sejumlah anak usia dini menyimak guru dan bermain di PAUD Anggrek, Jakarta, Jumat, 13 Desember 2019. CNNIndonesia/Adhi Wicaksono.Ilustrasi. Stunting dan anemia bisa berpengaruh terhadap IQ anak. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Adapun beberapa langkah yang dinilai penting antara lain:
- memastikan asupan protein, kalori, dan zat besi cukup,
- meningkatkan akses air bersih dan sanitasi,
- memperbaiki kualitas parenting dan pendidikan.

"Kalau negara kita mau punya SDM yang baik, yang berkualitas, awalnya adalah kita berikan yang benar makanannya, kondisi yang baik, dan tentu parenting atau pendidikannya juga berkualitas," ujar Nila.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa masalah gizi anak bukan sekadar isu kesehatan, tetapi juga menyangkut masa depan generasi. Tanpa intervensi sejak dini, dampaknya bisa terasa hingga kemampuan belajar, produktivitas, bahkan daya saing bangsa ke depan.

(anm/asr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi