700 Ribu Anak Indonesia Alami Gejala Cemas dan Depresi

8 hours ago 1

CNN Indonesia

Jumat, 13 Mar 2026 07:30 WIB

Skrining Kemenkes menemukan ratusan ribu anak Indonesia mengalami gejala kecemasan dan depresi. Kondisi ini jadi alarm serius bagi kesehatan mental anak. Ilustrasi. Angka anak depresi di Indonesia semakin memprihatinkan. (Pixabay/buerserberg)

Jakarta, CNN Indonesia --

Anak Indonesia gangguan kecemasan kini menjadi sorotan serius setelah hasil skrining kesehatan nasional menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Pemeriksaan dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025-2026 menemukan indikasi masalah kesehatan jiwa pada hampir 10 persen anak di Indonesia.

Dari sekitar 7 juta anak yang telah menjalani pemeriksaan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mendeteksi gejala kecemasan dan depresi dalam jumlah yang sangat signifikan. Secara total, sekitar 700 ribu anak terindikasi mengalami gejala tersebut.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, merinci bahwa sebanyak 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak menunjukkan gejala gangguan kecemasan (anxiety disorder). Sementara itu, 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak lainnya menunjukkan gejala depresi (depression disorder).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini menunjukkan masalah kesehatan jiwa itu besar sekali," ujar Budi dalam keterangannya, Kamis (12/3).

Temuan ini memperlihatkan bahwa anak Indonesia gangguan kecemasan bukan sekadar kasus sporadis, melainkan fenomena yang semakin meluas dan membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak.

Kekhawatiran pemerintah pun bukan tanpa alasan. Persoalan kesehatan mental yang tidak tertangani sejak dini dapat berkembang menjadi masalah yang lebih berat di masa depan.

Data dari Global School-Based Student Health Survey menunjukkan tren peningkatan anak yang mencoba bunuh diri. Angkanya naik dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023.

Menurut Budi, pendekatan penanganan tidak bisa hanya berfokus pada anak. Lingkungan keluarga dan sekolah juga perlu terlibat aktif dalam menciptakan kondisi yang mendukung kesehatan mental.

"Yang perlu diperbaiki bukan hanya anaknya, tetapi juga pola asuh keluarga serta lingkungan belajar. Kita perlu mensosialisasikan life skill dan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP)," jelasnya.

Sebagai tindak lanjut, Kemenkes menargetkan perluasan skrining kesehatan mental hingga menjangkau 25 juta anak di seluruh Indonesia. Upaya ini diharapkan dapat mempercepat deteksi dini sehingga anak yang membutuhkan bantuan bisa segera mendapatkan penanganan.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, menyatakan bahwa hasil skrining nantinya akan ditindaklanjuti oleh fasilitas layanan kesehatan tingkat pertama, terutama Puskesmas.

Namun, tantangan masih ada. Saat ini jumlah psikolog klinis di Puskesmas masih sangat terbatas, yakni sekitar 203 orang di seluruh Indonesia.

Sebagai solusi sementara, masyarakat yang membutuhkan bantuan terkait kesehatan mental dapat mengakses layanan krisis melalui situs Healing119.

Upaya deteksi dini dan penanganan yang cepat menjadi kunci agar anak Indonesia gangguan kecemasan tidak berkembang menjadi masalah kesehatan mental yang lebih serius di masa depan. Dukungan keluarga, sekolah, dan layanan kesehatan menjadi fondasi penting untuk menjaga kesejahteraan psikologis anak.

(tis/tis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi