Amran Pastikan HET Minyak Goreng Tak Naik Meski Harga Plastik Melonjak

6 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah tidak akan menaikkan harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng meski terjadi lonjakan harga plastik yang disebut berdampak pada biaya distribusi dan kemasan.

"Jangan dinaikkan lah (HET minyak goreng)," kata pria yang juga menjabat sebagai menteri pertanian (mentan) ini di kantornya, Jakarta Selatan, Rabu (15/4).

Hal itu disampaikan di tengah keluhan pedagang terkait kenaikan harga minyak goreng curah yang dikaitkan dengan mahalnya plastik kemasan. Namun, Amran menegaskan persoalan tersebut tak boleh menjadi alasan untuk menaikkan harga di tingkat konsumen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Itu minyak goreng, enggak boleh macam-macam. Kasih tahu aja. Jangan cari persoalan," ujarnya.

Ia juga menekankan akan menindaklanjuti laporan jika ditemukan pelaku usaha yang menaikkan harga secara tidak wajar. Pemerintah, kata dia, siap melakukan pemeriksaan terhadap pihak-pihak yang diduga melanggar ketentuan.

"Nanti aku suruh cek di mana tempatnya. PT apa yang jual. Coba sebut PT-nya. Aku suruh periksa sekarang," tegasnya.

Amran mengakui terdapat kenaikan biaya dari sisi kemasan plastik. Namun ia meminta pelaku usaha tetap mempertimbangkan aspek empati dan tidak serta-merta membebankan kenaikan tersebut secara berlebihan kepada konsumen.

"Janganlah, (boleh) naik-naiklah dikit, tapi jangan naik (harga) banyak banget. Udah," katanya.

Saat ini, pemerintah masih mempertahankan HET minyak goreng, yakni Rp14 ribu per liter untuk minyak goreng curah dan Rp15.700 per liter untuk Minyakita. Kebijakan ini menjadi acuan untuk menjaga stabilitas harga di pasar.

Seorang pedagang di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, sebelumnya mengeluhkan harga minyak goreng curah yang mencapai Rp23 ribu per kilogram. Kenaikan tersebut disebut dipicu oleh lonjakan harga plastik kemasan yang meningkat signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

Kenaikan harga plastik terjadi seiring tekanan pada bahan baku nafta yang sebagian besar masih diimpor, terutama dari Timur Tengah.

Gangguan pasokan akibat konflik geopolitik, termasuk penutupan jalur distribusi utama seperti Selat Hormuz, turut memicu lonjakan harga bahan baku tersebut.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah berupaya mencari alternatif pasokan bahan baku dari negara lain seperti Afrika, India, dan Amerika Serikat untuk meredam tekanan harga.

Selain itu, optimalisasi bahan baku substitusi dan pemanfaatan plastik daur ulang juga mulai didorong.

Meski demikian, pemerintah memastikan ketersediaan minyak goreng dan produk plastik di dalam negeri tetap aman.

[Gambas:Youtube]

(del/sfr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi