Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan pemerintah berhasil mengamankan dua kargo minyak yang sempat tertahan di perairan sekitar Singapura.
Kargo tertahan di tengah gejolak pasar energi akibat perang Iran melawan Amerika Serikat (AS)-Israel yang berlangsung sejak 29 Februari lalu.
Bahlil menjelaskan kondisi perdagangan minyak global saat ini tidak berjalan normal karena pasokan energi menjadi semakin ketat di tengah konflik yang meluas di kawasan Timur Tengah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Namun, ada beberapa kejadian sekarang. Tiga-dua hari lalu, kita sudah membeli minyak dari Singapura, sudah berangkat, ditender oleh Pertamina lewat trader, sudah berangkat, sudah masuk ke Laut Indonesia, kemudian suruh kembali lagi dua kargo. Jadi sekarang perekonomian untuk urusan minyak ini, hukum normalnya sudah tidak berlaku," ujar Bahlil dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta Pusat, Jumat (13/3).
Ia mengatakan pemerintah bersama PT Pertamina (Persero) segera melakukan komunikasi dan komplain kepada pihak terkait setelah dua kapal tersebut diminta kembali oleh pihak penjual.
Menurut Bahlil, langkah itu dilakukan agar pasokan energi nasional tetap terjaga di tengah ketidakpastian pasar global.
"Nah, untuk dua kapal itu, kami melakukan komunikasi dengan Pertamina, kami telah melakukan komplain, dan tanggal 18 sudah ada pengembaliannya, dua kargo itu," ujarnya.
Selain mengamankan kargo tersebut, pemerintah juga menyiapkan pasokan tambahan dari negara lain untuk memperkuat cadangan energi nasional. Bahlil menyebut dalam waktu dekat Indonesia akan menerima tambahan pasokan LPG dari Australia.
"Di akhir minggu ini, kita masuk dua kargo dari Australia. Itu untuk LPG," katanya.
Pemerintah, sambung Bahlil, juga tengah memperluas kontrak pasokan energi dengan sejumlah negara guna mengantisipasi dampak konflik di Timur Tengah terhadap perdagangan minyak global.
Terkait pasokan energi, Bahlil memastikan tetap aman, baik untuk kebutuhan BBM, minyak mentah, maupun LPG.
Ia menjelaskan cadangan Pertalite (RON 90) saat ini mencapai sekitar 24,39 hari, lebih tinggi dari batas minimal cadangan nasional yang telah ditetapkan.
Untuk Pertamax (RON 92), cadangan nasional tercatat sekitar 28 hari, juga melampaui batas minimal yang ditetapkan sekitar 19 hari.
"Jadi untuk Pertalite, RON 90 ini yang bensin subsidi. Itu cadangan kita adalah 24,39 hari, melampaui batas minimal dari apa yang direncanakan oleh nasional kita. Kemudian Pertamax, RON 92 ini yang harga pasar, itu 28 hari, minimal 19 hari," ujarnya.
Selain itu, cadangan untuk jenis bensin beroktan lebih tinggi seperti Pertamax Turbo (RON 98) juga berada di atas batas minimal, dengan stok mencapai sekitar 31 hari.
Selanjutnya, cadangan solar subsidi tercatat sekitar 16,41 hari, yang juga melampaui batas minimal cadangan nasional. Sementara itu, cadangan avtur mencapai sekitar 38 hari, dan LPG berada pada kisaran 15,66 hari.
(del/sfr)
Add
as a preferred source on Google

17 hours ago
3

















































