Jakarta, CNN Indonesia --
Musim pancaroba, atau periode peralihan dari musim hujan ke musim kemarau masih terjadi di Jakarta dalam beberapa waktu terakhir. Lantas, kapan periode ini berakhir?
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut wilayah Jakarta akan memasuki musim kemarau pada dasarian pertama bulan Mei.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Per hari ini belum masuk kemarau, mulai [masuk kemarau] Mei dasarian pertama," ujar Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan kepada CNNIndonesia.com, Kamis (9/4).
Dalam Buku Prediksi Musim Kemarau 2026, BMKG memperkirakan dua zona musim (ZOM) di wilayah Jakarta memulai musim kemarau pada Mei.
ZOM BantenDKI 15 disebut berpotensi memulai musim kemarau pada Mei dasarian pertama, sedangkan BantenDKI 16 diprediksi masuk musim kemarau pada Mei dasarian kedua. Keduanya disebut memulai musim kemarau lebih cepat satu dasarian dibandingkan rata-rata klimatologisnya.
ZOM BantenDKI 15 meliputi Jakarta Barat (Kebon Jeruk, Kembangan, Palmerah), Jakarta Pusat (Cempaka Putih, Johar Baru, Menteng, Senen, Tanah Abang ), Jakarta Timur (Jatinegara, Makasar, Pulogadung, Matraman), serta Jakarta Selatan (Kebayoran).
Sementara itu, BantenDKI 16 meliputi Jakarta Selatan (Cilandak, Kebayoran Baru, Mampangprapatan, Pancoran, Jagaraksa, Pasar Minggu), Jakarta Timur (Cipayung, Kramatjati, Ciracas, Pasar Rebo).
Dalam buku tersebut beberapa wilayah Jakarta yang masuk dalam ZOM BantenDKI 14 diprediksi telah masuk musim kemarau lebih awal pada April dasarian pertama.
Wilayah tersebut di antaranya Kepulauan Seribu (Kep. Seribu Utara, Kep. Seribu Selatan), Jakarta Barat (Cengkareng, Grogol Petamburan, Kalideres, Tamansari,
Tambora), Jakarta Pusat (Gambir, Kemayoran, Sawah Besar), Jakarta Timur (Cakung, Duren Sawit), Jakarta Utara (Cilincing, Kelapa Gading, Koja, Pademangan, Penjaringan, Tanjungpriok).
Lebih lanjut, seluruh wilayah Jakarta diperkirakan akan mengalami puncak musim kemarau pada Agustus mendatang.
Wilayah Jakarta masih rutin diguyur hujan jelang musim kemarau ini.
BMKG menjelaskan, hujan di dalam beberapa waktu terakhir dipicu oleh berbagai dinamika atmosfer, mulai dari aktivitas gelombang Rossby Ekuatorial, Kelvin, hingga Mixed Rossby-Gravity (MRG), serta fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO).
Selain itu, peralihan dari Monsun Asia ke Monsun Australia turut membentuk pola angin dan konvergensi yang mendukung pertumbuhan awan hujan.
"Sehingga meningkatkan peluang pertumbuhan awan hujan baik di sekitar pusat sirkulasi maupun di wilayah yang dipengaruhi pola angin tersebut," ujar BMKG.
BMKG mencatat hingga akhir Maret, baru sekitar 7 persen zona musim di Indonesia yang telah memasuki musim kemarau. Sementara sebagian besar wilayah lainnya akan menyusul secara bertahap pada April hingga Juni 2026.
Wilayah yang lebih dulu memasuki kemarau antara lain sebagian Aceh, Sumatra Utara, Riau, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua Barat.
Puncak musim kemarau di Indonesia diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 di lebih dari 60 persen wilayah.
(lom/dmi)
Add
as a preferred source on Google

10 hours ago
1













































