CNN Indonesia
Sabtu, 21 Mar 2026 05:30 WIB
Ilustrasi. Kampus di China justru suruh mahasiswanya jatuh cinta. (REUTERS/STRINGER)
Jakarta, CNN Indonesia --
Di tengah budaya akademik yang dikenal kompetitif, sebuah kampus di China justru mengambil langkah tak biasa. Alih-alih menekankan belajar, mahasiswa didorong untuk, jatuh cinta.
Adalah Sichuan Southwest Vocational College of Aviation yang mengimbau para mahasiswanya untuk "menikmati bunga dan romansa" selama libur tengah semester musim semi, yang berlangsung pada 1 hingga 6 April.
Imbauan tersebut disampaikan melalui akun resmi WeChat kampus, dengan pesan sederhana namun tidak biasa, letakkan buku sejenak, keluar menikmati alam, dan buka diri terhadap kemungkinan cinta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Instruksi ini muncul hanya dua pekan setelah pemerintah China mengumumkan rencana penambahan libur musim semi dan musim gugur di sekolah, di luar libur panjang musim panas dan musim dingin yang sudah ada.
Sejumlah daerah seperti Sichuan, Jiangsu, hingga kota-kota seperti Suzhou dan Nanjing juga mulai merancang jadwal libur musim semi, umumnya jatuh pada April hingga awal Mei.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Pemerintah China tengah berupaya mendorong konsumsi domestik, termasuk sektor pariwisata dan gaya hidup. Dengan memberi waktu luang lebih banyak, masyarakat diharapkan lebih aktif bepergian, berbelanja, dan menikmati hidup.
Meski begitu, melansir VN Express, di balik ajakan 'jatuh cinta', ada isu yang lebih besar, yakni krisis demografi.
Data menunjukkan populasi China pada 2025 kembali menyusut untuk keempat kalinya secara berturut-turut. Angka kelahiran pun mencetak rekor terendah, memicu kekhawatiran akan penurunan populasi yang berkelanjutan.
Dalam konteks ini, waktu luang dan relasi sosial dipandang sebagai faktor penting untuk mendorong pernikahan dan kelahiran.
National Development and Reform Commission bahkan merilis panduan untuk membangun 'kota ramah anak', dengan peningkatan layanan publik mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga fasilitas rekreasi.
Menurut James Liang, salah satu pakar demografi sekaligus pendiri perusahaan perjalanan Trip.com, masyarakat membutuhkan cukup waktu dan sumber daya untuk membesarkan anak.
"Upaya lebih besar diperlukan untuk mengedukasi generasi muda tentang manfaat sosial dan personal dari memiliki keluarga yang lebih besar," ujarnya.
Ajakan untuk jatuh cinta mungkin terdengar ringan, bahkan romantis. Namun di China, pesan ini membawa dimensi yang lebih luas, menghubungkan gaya hidup, ekonomi, hingga masa depan populasi.
Di tengah tekanan akademik dan tuntutan hidup modern, mungkin memang ada ruang yang perlu diisi: waktu untuk berhenti sejenak, menikmati bunga yang bermekaran, dan siapa tahu menemukan cinta di antaranya.
(tis/tis)
Add
as a preferred source on Google

4 hours ago
1

















































