Jakarta, CNN Indonesia --
PT Danantara Indonesia melaporkan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) atau Sugar Co merugi Rp680 miliar pada tahun lalu. Kerugian dipicu oleh impor gula yang tidak terkontrol, sehingga menekan harga.
"Sugar Co membukukan rugi Rp680 miliar akibat daripada harga yang memang tidak cukup baik, akibat daripada impor gula yang tidak terkontrol," ujar Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria dalam rapat bersama Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (8/4).
Meski demikian, Dony meminta kerugian tersebut tidak dilihat semata sebagai kinerja negatif. Ia menilai kondisi tersebut menjadi sinyal perlunya transformasi industri gula nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau tidak dilakukan perbaikan, bahkan sekelas perusahaan SGN aja harus rugi ya kan, apalagi masyarakat," ujar Dony.
Dalam rapat yang sama, Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan Kementerian Perdagangan melakukan pengaturan impor gula berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 18 Tahun 2025 sebagaimana telah diubah dengan Permendag Nomor 31 Tahun 2025 tentang kebijakan dan pengaturan impor barang pertanian dan peternakan.
Ia menyebut impor gula yang diatur meliputi Gula Kristal Mentah (GKM), Gula Kristal Rafinasi (GKR), dan Gula Kristal Putih (GKP) dalam enam nomor pos tarif. Kebijakan itu juga membatasi pelaku impor.
GKM dan GKR hanya dapat diimpor oleh importir produsen (Angka Pengenal Importir-Produsen/API-P), sedangkan GKP hanya dapat diimpor oleh BUMN pemilik (Angka Pengenal Importir-Umum/API-U).
"Jumlah gula yang diimpor ditetapkan berdasarkan neraca komoditas yang digunakan sebagai dasar penerbitan persetujuan impor dengan masa berlaku sesuai masa berlaku neraca komoditas dan dilakukan pengawasan penggunaan bahan baku di kawasan pabean atau border," ujar Budi.
(dhz/sfr)
Add
as a preferred source on Google

8 hours ago
1













































