Jakarta, CNN Indonesia --
Fenomena tutupnya sejumlah dealer mobil merek Jepang di Indonesia belakangan menjadi sorotan. Di tengah gempuran merek baru, khususnya dari China, persaingan industri otomotif ke depan dinilai bakalan semakin ketat.
Toyota pun angkat bicara menanggapi kondisi tersebut. "Tapi secara umum harus dilihat, tutupnya kenapa?" kata Wakil Presiden Direktur Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam di Jakarta, Kamis (16/4).
Pada dasarnya, kata Bob, kompetisi di industri otomotif berjalan adil. Namun, persoalan bisa muncul ketika ada perbedaan perlakuan yang membuat persaingan menjadi tidak seimbang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya selama fair competition ini is okay ya kan. Tapi jangan sampai kompetisinya gak fair gitu ya kan. Ya lebih murah karena ya gak kena pajak, kita kena pajak ya kan. Nah itu kan gak fair dong," katanya.
Bob juga menyinggung soal investasi yang telah mereka kucurkan di dalam negeri. Mereka menilai upaya lokalisasi produksi tidak mudah dan membutuhkan biaya besar, termasuk dalam menciptakan lapangan kerja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nah kemudian harus diingat juga produk-produk yang ada di Indonesia ini sudah dilokalisasi di Indonesia. Dengan tenaga kerja yang ada di Indonesia," ucap Bob.
Ia menambahkan, keputusan berinvestasi di Indonesia bukan tanpa tantangan. Biaya yang lebih tinggi kerap menjadi tantangan, namun tetap diambil demi kontribusi terhadap ekonomi nasional.
Bob lantas mengingatkan dampak lebih luas jika ekosistem industri otomotif terganggu, termasuk potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) hingga berkurangnya kontribusi pajak.
"Dan ingat juga bahwa otomotif itu banyak employment-nya. Terutama di Cikarang, di Karawang. Nah sekarang kalau misalnya terjadi ditutup, kemudian terjadi PHK. Kemudian mereka tidak membayar pajak, malah menjadi penerima bansos. Itu kan membebani negara. Itu apa gak dipikirin tuh," katanya.
Bob melanjutkan persaingan tetap diperlukan sepanjang dilakukan secara adil.
"Jadi kalau persaingan sempurna karena kita komit untuk menyenangkan konsumen is okay. Tapi jangan sampai unfair gitu," kata Bob.
Merek mobil asal Jepang, Honda, sebelumnya ramai diberitakan menutup sejumlah dealer di Indonesia. Hal ini telah kejadian sejak pertengahan 2025, di mana dealer Honda tutup dan dugaannya beralih fungsi untuk melayani konsumen dari merek mobil China.
Terbaru Honda kembali menutup satu dealer lagi di Indonesia, berlokasi di Pondok Pinang. Pada tempat yang sama, dealer akan disulap menjadi outlet Jaecoo.
Kondisi itu bahkan telah direspons Menteri Perindustrian Agus Gumiwang dengan menyebut kondisi ini merupakan tantangan bagi produsen otomotif Jepang agar mampu menyesuaikan perubahan permintaan pasar.
Menurut Agus, produsen Jepang harus lebih teliti membaca arah kebijakan pemerintah yang konsisten bergeser kepada dukungan terhadap penggunaan kendaraan kendaraan listrik (EV).
Terlebih lagi, dinamika global seperti konflik di Timur Tengah terus mendorong pemerintah mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sehingga pergeseran ini menjadi semakin kuat.
Agus menambahkan pemerintah telah memberikan arahan jelas guna mempercepat adopsi kendaraan listrik nasional, mulai dari sepeda motor, mobil penumpang, hingga truk dan bus.
"Saya kira itu produsen-produsen Jepang harus bisa melihat bahwa kita akan shifting ke situ dan ini arahan langsung dari Bapak Presiden agar kita bisa segera full pada EV, baik itu motor maupun mobil termasuk truk, termasuk bus juga," tutup Agus.
(ryh/fea)
Add
as a preferred source on Google

4 hours ago
3






































