Jakarta, CNN Indonesia --
Kualitas udara di Jakarta tercatat berada pada kategori tidak sehat pada Rabu (18/3) pagi. Masyarakat pun diimbau untuk mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah guna mengurangi paparan polusi.
Berdasarkan data laman pemantau kualitas udara IQAir per pukul 05.00 WIB, indeks kualitas udara (AQI) Jakarta berada di angka 151. Sementara itu, konsentrasi polutan PM2,5 tercatat sebesar 56 mikrogram per meter kubik.
Angka tersebut jauh melampaui nilai panduan kualitas udara tahunan yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni lebih tinggi hingga 21 kali lipat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
PM2,5 merupakan partikel halus berukuran kurang dari 2,5 mikron yang berasal dari debu, asap, hingga jelaga. Partikel ini dapat masuk ke dalam saluran pernapasan dan berisiko memicu gangguan kesehatan serius.
Paparan jangka panjang bahkan dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian dini, terutama pada penderita penyakit jantung dan paru-paru kronis.
Seiring kondisi tersebut, masyarakat disarankan untuk membatasi aktivitas di luar ruangan. Selain menggunakan masker, warga juga dianjurkan menutup jendela rumah untuk mencegah masuknya udara kotor serta menyalakan alat penyaring udara jika tersedia.
Mengutip Antara, dalam perbandingan nasional, kualitas udara Jakarta berada di posisi kelima terburuk. Kota dengan kualitas udara terburuk adalah Tangerang Selatan dengan indeks 189, diikuti Serpong (184), Bandung (170), dan Bekasi (156).
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta saat ini tengah mengevaluasi Strategi Pengendalian Pencemaran Udara (SPPU). Evaluasi dilakukan secara menyeluruh, mencakup tren PM2,5, sumber beban emisi dari berbagai sektor, hingga dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.
Pemprov menekankan bahwa pengendalian pencemaran udara tidak dapat dilakukan secara parsial oleh satu wilayah. Upaya tersebut membutuhkan kolaborasi lintas sektor dan kerja sama antarwilayah di sekitar Jakarta.
Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Dudi Gardesi Asikin, mengatakan penguatan SPPU berbasis data menjadi kunci dalam menekan pencemaran udara.
"Dengan penguatan strategi, evaluasi berbasis data, dan kolaborasi lintas daerah, upaya pengendalian pencemaran udara diharapkan lebih terarah dan berdampak nyata bagi kesehatan masyarakat serta kualitas lingkungan Jakarta," ujar Dudi.
(tis/tis)
Add
as a preferred source on Google

4 hours ago
2

















































