Selular.ID – Perkembangan teknologi jaringan mulai dari 2G, 3G, 4G hingga 5G menciptakan perubahan signifikan dalam pola penggunaan perangkat.
Pada era 2G, fungsi utama ponsel masih terbatas pada layanan dasar seperti SMS dan panggilan suara.
Memasuki 3G, kemampuan data mulai berkembang, namun belum menjadi pendorong utama pertumbuhan industri.
Menurut Joy Wahjudi, CEO Erjaya Digital lonjakan terbesar terjadi pada era 4G, ketika konektivitas data menjadi lebih cepat dan stabil.
Kondisi ini mendorong pertumbuhan penggunaan aplikasi digital secara masif, mulai dari media sosial, layanan streaming, hingga transaksi keuangan berbasis mobile.
Pada fase ini, smartphone mulai menjadi perangkat utama dalam kehidupan sehari-hari.
Transformasi tersebut berdampak langsung pada bisnis Erajaya Group. Jika sebelumnya perusahaan lebih berfokus pada distribusi perangkat, maka sejak era 4G terjadi pergeseran signifikan ke ritel.
Joy menyebut komposisi bisnis yang sebelumnya didominasi distribusi kini berbalik, dengan ritel menjadi kontributor utama pertumbuhan.
“Perubahan ini tidak terlepas dari meningkatnya kebutuhan konsumen terhadap pengalaman pembelian yang lebih komprehensif,”ujar Joy, kepada Selular, dalam Bincang Eksekutif, di Jakarta (07/04/26).
Seiring berkembangnya teknologi, konsumen tidak hanya mencari perangkat, tetapi juga layanan pendukung, ekosistem aplikasi, serta interaksi langsung dengan brand.
Memasuki era 5G, peran smartphone semakin meluas. Perangkat tidak lagi hanya digunakan untuk komunikasi dan hiburan.
Tetapi juga menjadi platform utama untuk berbagai layanan digital, termasuk transaksi keuangan, produktivitas, hingga pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Joy menilai bahwa integrasi AI dalam smartphone akan semakin memperkuat ketergantungan pengguna terhadap perangkat tersebut.
Ia menambahkan bahwa perkembangan ini tidak dapat dilepaskan dari peran operator telekomunikasi. Infrastruktur jaringan yang andal menjadi fondasi utama dalam mendukung fungsi smartphone yang semakin kompleks.
Tanpa dukungan jaringan, kemampuan perangkat tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.
Dalam konteks industri, Erajaya melihat adanya keterkaitan erat antara penyedia perangkat, operator, dan ekosistem digital.
Kolaborasi antar pelaku industri menjadi kunci dalam menciptakan pengalaman pengguna yang terintegrasi.
Joy menekankan bahwa perangkat, jaringan, dan layanan harus berjalan seiring untuk menghasilkan nilai tambah bagi konsumen.
Selain itu, ia menyoroti bahwa berbagai sektor industri kini telah terhubung melalui smartphone, termasuk fotografi digital, layanan keuangan, dan platform online.
Perangkat menjadi pusat dari berbagai aktivitas tersebut, menjadikannya sebagai “single device” yang mampu memenuhi beragam kebutuhan pengguna.
Perubahan perilaku konsumen juga terlihat dari meningkatnya penggunaan layanan online dalam kehidupan sehari-hari.
Smartphone menjadi pintu utama untuk mengakses berbagai layanan, mulai dari komunikasi hingga transaksi digital.
Hal ini memperkuat posisi perangkat sebagai elemen penting dalam ekosistem digital global.
Seiring dengan perkembangan tersebut, Erajaya juga mulai memperluas strategi bisnisnya, termasuk memperkuat kehadiran di kanal e-commerce yang mulai berkembang sejak 2020.
Langkah ini dilakukan untuk menjangkau konsumen yang semakin terbiasa dengan transaksi digital.
Joy menegaskan bahwa strategi ekspansi tetap menjadi bagian penting dalam pertumbuhan perusahaan, terutama untuk memperluas jangkauan di berbagai wilayah Indonesia.
Namun, ekspansi dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan dinamika pasar dan kebutuhan konsumen yang terus berubah.
Baca Juga:Erajaya Panen Raya, Raup Pendapatan Rp76,6 Triliun
Dengan melihat perjalanan dari era 2G hingga 5G, Erajaya memposisikan diri sebagai bagian dari ekosistem yang terus berkembang, dengan fokus pada penyediaan perangkat dan layanan yang relevan dengan kebutuhan digital masyarakat.















































