Harga Minyak Naik 2,7 Persen ke US$97 Meski AS-Iran Gencatan Senjata

7 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak mentah dunia kembali naik pada perdagangan Kamis (9/4) meski Amerika Serikat dan Iran sepakat gencatan senjata selama dua minggu.

Namun, gencatan senjata itu tak berhasil meredakan kekhawatiran investor terkait pasokan minyak dari kawasan utama penghasil utama, Timur Tengah. Pasar menilai distribusi tidak sepenuhnya pulih di tengah keraguan apakah gencatan senjata dua pekan.

Pemicu kenaikan harga lainnya adalah akses pelayaran di Selat Hormuz masih terbatas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Harga minyak mentah Brent naik US$2,6 atau 2,74 persen menjadi US$97,35 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$3,02 atau 3,2 persen menjadi US$97,43 per barel.

Kedua harga acuan tersebut sempat turun di bawah US$100 per barel kemarin.

Selat Hormuz menghubungkan pasokan dari produsen minyak dari kawasan Teluk seperti Irak, Arab Saudi, Kuwait, dan Qatar ke pasar global, kembali dibuka. Jalur vital ini biasanya menyalurkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

Iran telah mengeluarkan peta untuk memandu kapal menghindari ranjau di jalur tersebut. Teheran juga menetapkan jalur aman untuk pelayaran, bekerja sama dengan Garda Revolusi Iran (IRGC).

Namun, pembukaan Selat Hormuz belum sepenuhnya meredakan rasa was-was investor.

"Transit melalui Selat Hormuz tidak serta-merta bebas risiko. Hal itu masih bergantung pada keputusan Iran," kata analis di Standard Chartered dikutip Reuters.

"Gangguan logistik, kekhawatiran keamanan, premi asuransi yang meningkat, dan kendala operasional berarti sangat sedikit tambahan pasokan energi yang kemungkinan akan dikirim melalui Selat Hormuz dalam dua pekan ke depan," imbuh analis.

Investor mengatakan mereka membutuhkan kejelasan lebih lanjut mengenai syarat gencatan senjata, sebelum melanjutkan pelayaran melalui Selat Hormuz.

Pesimisme pasar muncul Iran menuding Israel menodai gencatan senjata lantaran terus melanjutkan invasi ke Lebanon. Agresi gila Israel itu dinilai Iran tidak masuk akal untuk melanjutkan pembahasan yang bertujuan mencapai kesepakatan damai permanen dengan AS.

Fasilitas minyak di Timur Tengah juga masih terancam, dengan Iran menyerang lokasi di negara-negara sekitar setelah gencatan senjata, termasuk pipa di Arab Saudi yang digunakan untuk menghindari blokade Selat Hormuz, menurut sumber industri minyak.

Kuwait, Bahrain, dan Uni Emirat Arab juga melaporkan serangan rudal dan drone. Selain itu, pernyataan yang saling bertentangan terkait Selat Hormuz masih terus berlanjut.

"Pasar masih meragukan gencatan senjata dapat bertahan," Haitong Futures dalam sebuah catatan.

[Gambas:Video CNN]

(pta)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi