Hasan Aula Figur Kunci Di Balik Transformasi dan Melambungnya Kinerja Erajaya

5 hours ago 2

Selular.ID – Erajaya Swasembada membukukan kinerja spektakuler sepanjang 2025. Perusahaan mampu mencatatkan pertumbuhan dua digit di tengah dinamika pasar yang cenderung stagnan karena ketidakpastian ekonomi dan melemahnya daya beli masyarakat.

Erajaya mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp76,6 triliun sepanjang tahun 2025 lalu. Jumlah ini meningkat 17,35% dibandingkan tahun sebelumnya.

Penjualan bersih mencapai Rp76,6 triliun, meningkat 17,35% dibandingkan Rp65,3 triliun pada 2024.

Laba kotor sebesar Rp8,35 triliun, dengan margin laba kotor sebesar 10,9%.

Melonjaknya penjualan mendorong laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp1,20 triliun, meningkat 15,83% dibandingkan tahun 2024.

Melambungnya kinerja Erajaya tak lepas dari tangan dingin Hasan Aula.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Hasan Aula bergabung dengan Erajaya Group pada tahun 2012. Saat ini dirinya menjabat sebagai Wakil Direktur Utama/Vice President Director dan memegang peran penting dalam ekspansi serta transformasi perusahaan.

Sebelum membesut Erajaya, alumnus IPB (Institut Pertanian Bogor) itu, pernah berkarir di sejumlah perusahaan multinasional, seperti Frisian Flag, Pepsi Cola, Kodak, hingga Nokia.

Di Nokia Mobile Phones Indonesia, Hasan memiliki pengalaman panjang sebagai eksekutif utama. Berbagai jabatan diemban oleh Hasan, mulai dari marketing manager, direktur, executive advisor, hingga country manager.

Keberhasilan Nokia selama lebih dari dua dekade menguasai pasar ponsel Indonesia, tak lepas dari kontribusinya membesarkan merek asal Finlandia itu.

Baca Juga: Erajaya Panen Raya, Raup Pendapatan Rp76,6 Triliun

Ilustrasi terkait Erajaya

Gunakan Jurus Inovasi, Adaptasi, dan Kolaborasi

Sejak bergabung dengan Erajaya, Hasan terus mendorong perusahaan untuk terus melakukan ekspansi sebagai upaya mempertahankan keunggulan kompetitif, sekaligus memperluas pasar.

Saat ini Erajaya telah berhasil memantapkan diri sebagai pemain utama dalam industri ritel, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di kawasan Asia Tenggara.

Hingga awal tahun 2026, Erajaya mengoperasikan lebih dari 2.300 gerai ritel di seluruh Indonesia.

Menyadari bahwa inovasi, adaptasi dan kolaborasi menjadi utama kunci dalam menjaga pertumbuhan bisnis, Hasan kembali mendorong transformasi perusahaan.

Agar tidak bergantung pada perangkat telekomunikasi, pada 2021, Erajaya melakukan lompatan besar dengan memperkenalkan empat vertikal bisnis baru yang dirancang untuk mengakomodasi perubahan prefrensi konsumen, khususnya di era digital saat ini.

Vertikal bisnis pertama bernama Erajaya Digital. Vertikal yang fokus pada produk elektronik konsumen, handset, laptop, komputer, bisnis operator dan voucher, serta produk relevan lainnya dengan konsep toko yang beragam.

Mulai dari konsep multibrand seperti toko Erafone hingga konsep monobrand, seperti iBox, Samsung, Mi-store, dan beberapa merek lainnya.

Lalu, Erajaya Active Lifestyle. Vertikal yang berfokus pada penjualan atas produk lifestyle, seperti accessories, Internet of Things (IoT), sport fashion apparel, serta produk aktivitas outdoor dengan beragam konsep toko dari multibrand.

Seperti Urban Republic & JD Sports maupun monobrand, seperti Asics, DJI, Garmin, dan lainnya dengan beberapa brand principal.

Selanjutnya Erajaya Beauty & Wellness, yang terdiri dari gerai Apotek Wellings dan The Face Shop, untuk melayani pasar kesehatan dan kecantikan.

Terakhir, adalah Erajaya Food & Nourishment yang menawarkan makanan melalui brand Paris Baguette, restoran Sushi Tei, dan supermarket Grand Lucky.

Ilustrasi terkait Erajaya

Segmen Premium Untuk Tingkatkan Margin Keuntungan

Dengan memasuki segmen-segmen baru yang kebanyakan membidik kalangan menengah atas, Erajaya berupaya menghadirkan pengalaman belanja yang premium, sekaligus memperluas footprint ritel di seluruh Indonesia.

Langkah ini menjadi strategi jangka panjang untuk menangkap peluang baru di tengah perubahan tren konsumsi masyarakat.

Diversifikasi bisnis ini bukan hanya untuk memperbesar pasar, tetapi juga untuk meningkatkan margin keuntungan.

Erajaya dengan jeli memanfaatkan tren gaya hidup aktif, konsumsi produk premium, serta meningkatnya daya beli masyarakat urban untuk memperkuat kinerja jangka panjang.

Saat Erajaya memperkenalkan empat lini bisnis barunya pada 2021 lalu, perusahaan ingin memperkuat kehadirannya di dua karakter konsumen yang berbeda—yang memeriksa ulasan melalui media online , channel berbagi video YouTube dan platform media sosial lainnya, serta yang ingin melihat dan menyentuh barang tersebut secara fisik.

Oleh karena itu, perusahaan yang berdiri sejak 1996 ini memadukan dua pengalaman berbelanja sekaligus.

Ilustrasi terkait Erajaya

Yaitu belanja online dan offline dengan menerapkan model bisnis online-to-offline (O2O) atau yang biasa disebut omnichannel di empat vertikal bisnisnya.

Konsep ini memungkinkan sebuah bisnis ritel mengintegrasikan pengalaman berbelanja secara online melalui aplikasi, dengan berbelanja langsung ke sebuah gerai ritel di pusat perbelanjaan.

Transformasi pada empat vertikal bisnis itu, kini terbukti menjadi katalisator pertumbuhan Erajaya, seperti tercermin dari kinerja perusahaan yang diraih sepanjang 2025.

Pencapaian itu sekali lagi menegaskan kapabilitas Hasan Aula dalam menavigasi arah perusahaan. Erajaya Group kini semakin meraksasa, meski menghadapi persaingan ketat dengan banyak pemain lainnya, dan kondisi ekonomi Indonesia yang tidak baik-baik saja.

Baca Juga: Upaya yang Dilakukan Erajaya Mampu Catat Pertumbuhan 17%, di Tengah Stagnasi Industri

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi