CNN Indonesia
Kamis, 16 Apr 2026 20:30 WIB
Ilustrasi. Kasus balita 1,5 tahun yang mengalami hipotermia saat pendakian di Gunung Ungaran menjadi pertanyaan, sebenarnya kapan sebenarnya anak aman diajak naik gunung. (Unsplash/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kasus bayi berusia 1,5 tahun yang mengalami hipotermia saat pendakian di Gunung Ungaran menjadi pertanyaan, sebenarnya kapan sebenarnya anak aman diajak naik gunung?
Insiden yang viral di media sosial itu memperlihatkan proses evakuasi oleh tim Basarnas terhadap bayi berinisial LL di kawasan Puncak Bondolan, Sabtu (11/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam video yang beredar, bayi tersebut tampak terus menangis dengan kondisi tubuh melemah akibat suhu dingin ekstrem.
"Suhu tubuhnya turun drastis, kondisi kritis. Tim Basarnas yang tengah siaga di event Semarang Mountain Race langsung bergerak cepat," ujar pihak Basarnas melalui kanal resmi @BasarnasOfficial.
Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia, Piprim Basarah Yanuarso menegaskan bahwa anak kecil tidak bisa disamakan dengan orang dewasa, terutama dalam hal ketahanan tubuh.
"Kami dari sisi anak itu, kan, kita safety first. Anak-anak umur 1,5 tahun sangat mudah kehilangan panas dibandingkan dewasa. Jadi jaraknya jauh, belum lagi potensi hujan, lama, itu hal-hal yang harus dipikirkan sebelumnya," tegas Piprim, Senin (13/4) seperti dikutip dari detikHealth.
Bahkan, ia secara tegas tidak merekomendasikan balita dibawa ke kondisi ekstrem.
"Tidak direkomendasikan membawa batita ke lokasi dengan potensi kehujanan, basah kuyup, atau kepanasan," tambahnya.
Kapan anak boleh naik gunung?
Kasus itu menarik perhatian banyak netizen. Tak sedikit juga yang bertanya-tanya, kapan sebenarnya seorang anak diperbolehkan ikut kegiatan naik gunung?
Pada dasarnya, tak ada batas usia kapan anak boleh diajak naik gunung. Hanya saja, Ketua IDAI Jakarta Rismala Dewi menekankan, ada fase usia yang sangat rentan pada anak.
Menurut Rismala, anak di bawah usia tertentu memiliki risiko jauh lebih tinggi saat berada di lingkungan ekstrem. Anak di bawah usia 3 tahun dianjurkan untuk tidak dulu dibawa ke suhu ekstrem.
"Tapi pasti di bawah 5 tahun, di bawah 3 tahun, itu sangat rentan. Jadi yang perlu adalah tahapannya seperti apa," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kesiapan orang tua juga menjadi faktor penting, terutama bagi mereka yang sudah berpengalaman di alam terbuka.
"Jadi, persiapannya pasti harus lebih banyak lagi. Kalau tidak bisa memenuhi itu, ya, jangan dulu," ujar Rismala.
Beberapa orang tua yang berpengalaman dengan aktivitas alam, menurut Risma, boleh jadi sudah memahami tindakan-tindakan preventif saat ada kasus serupa. Tapi, beberapa orang tua yang lain belum tentu. Penanganan setiap anak juga akan berbeda.
Artinya, tidak semua anak memiliki kesiapan yang sama sehingga keputusan tidak bisa disamaratakan.
"Kalau anak yang memang lebih rentan mungkin nanti akan lebih besar usianya boleh ikut [naik gunung]," lanjutnya.
Ketua Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, Yogi Prawira mengingatkan agar orang tua tidak memaksakan aktivitas ekstrem kepada anak hanya karena latar belakang mereka sebagai pendaki.
"Secara prinsip, jangan orang tua berasumsi kalau ortunya naik gunung, anaknya jadi anak gunung," ujarnya.
Ia menjelaskan, secara biologis anak lebih cepat kehilangan cairan dan panas tubuh, sehingga risiko di gunung menjadi jauh lebih besar. Sebagai langkah aman, ia menyarankan pendekatan bertahap dalam mengenalkan alam pada anak.
"Kalau mau mulai memperkenalkan dengan alam, start low go slow," katanya.
Kasus di Gunung Ungaran menjadi pengingat bahwa mengenalkan anak pada alam harus dilakukan dengan penuh pertimbangan. Risiko seperti hipotermia bisa terjadi dengan cepat, terlebih di lingkungan yang jauh dari akses medis.
Tidak ada larangan membawa anak naik gunung. Namun, usia di bawah tiga tahun adalah fase paling rentan yang membutuhkan perhatian ekstra.
(nga/asr)
Add
as a preferred source on Google

5 hours ago
1














































