Kenapa Warga Iran yang Mau Tumbangkan Rezim Berbalik Kutuk Israel-AS?

12 hours ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah warga Iran yang awalnya mendukung Amerika Serikat dan Israel untuk menumbangkan rezim, kini berbalik.

Mereka mengutuk aksi biadab AS dan Israel yang membombardir Iran hingga menewaskan ribuan orang. Leila (nama samaran) misalnya. Dia awalnya menduga akan ada masa depan setelah rezim runtuh.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya pikir ini sudah berakhir. Saya pikir Republik Islam akhirnya akan berakhir," kata Leila, 25 tahun. "Saya bahkan berpikir AS dan Israel telah sepakat dengan Reza Pahlavi tentang masa depan Iran," ucap Leila menambahkan.

Mulanya dia berpikir perang ini hanya sebentar. Tetapi dia tidak menyangka serangan AS-Israel ke Iran merusak banyak fasilitas penting.

"Mengapa mereka menyerang jembatan? Mengapa menghancurkan jalur kereta api? Mengapa menargetkan depot minyak?" Dia menggelengkan kepalanya. "Bagaimana itu bisa membantu mengubah pemerintahan?" tanya Leila.

Laman The Guardian juga mewawancarai para mahasiswa yang awalnya beranggapan ada zaman baru.

Namun dengan serangan udara AS dan Israel yang menewaskan ratusan orang karena menghantam blok perumahan, toko, depot bahan bakar, dan bahkan sebuah sekolah, suasana hati mulai berubah.

"Mereka juga berbohong! Sama seperti rezim yang telah berbohong kepada kita," kata Amir, seorang mahasiswa di Universitas Teheran.

"Kalian semua lebih buruk satu sama lain. Kalian semua lebih buruk satu sama lain," kata seorang mahasiswa di Universitas Teheran.

Pengunjuk rasa anti-rezim itu membiarkan dirinya berharap lebih banyak dari AS dan Israel, yang pada hari pertama perang dengan cepat membunuh orang yang paling ditakuti dan berkuasa di Iran, pemimpin tertinggi.

Namun rezim tersebut tetap bertahan, dengan putra Ayatollah Ali Khamenei dengan cepat diangkat untuk menggantikannya, sementara Israel telah memperluas dan mengintensifkan serangannya terhadap negara berpenduduk lebih dari 90 juta orang itu.

"Kami tegang. Kami benar-benar tegang," kata Amir.

"Aku merasa lebih buruk saat sendirian. Kematian Khamenei telah meninggalkan kami dengan perasaan hampa yang aneh. Seolah-olah aku sekarang dipaksa untuk memikirkan masa depan, yang saat ini tampak begitu kacau," katanya.

Ali, 29 tahun, juga merasakan hal yang sama dengan Leila. Awalnya dia mengira perubahan bisa dilakukan melalui kekerasan.

Sampai akhirnya Pemerintah Iran menyebut sebanyak 3.117 orang tewas, termasuk demonstran, pasukan keamanan, hingga warga sipil.

Organisasi hak asasi manusia yang berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency, bahkan memperkirakan setidaknya 7.015 orang tewas.

"Mereka mengatakan akan menargetkan orang-orang tertentu dan situs militer. Kami pikir teknologi mereka cukup canggih untuk menghindari warga sipil," katanya."

Warga Iran kini bahkan berani memasang rantai manusia di depan pembangkit listrik yang ditarget AS.

Warga yang awalnya menentang rezim Khemenei, namun setelah aksi brutal Israel dan AS yang menewaskan warga sipil dan fasilitas publik, mereka kini berbalik melawan.

(imf/bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi