Kolong Kota: Pacu Langkah Menjemput Sahur

3 hours ago 1

Pacu Langkah
Menjemput Sahur

Oleh:

Adi Maulana Ibrahim

Please rotate your device for better experience

Keheningan malam perlahan pecah mulai pukul 01.00 dini hari. Dari kejauhan, sorak sorai menggema menembus udara malam.

Satu per satu warga berdatangan, dari orang tua hingga anak-anak, berkumpul di sekitar stadion, seakan terpanggil oleh tradisi yang selalu dinantikan tiap Ramadan.

Antusiasme masyarakat terlihat dari penuhnya slot pendaftaran yang disediakan panitia Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kabupaten Bogor.

Tradisi balap lari dini hari kembali digelar, menghadirkan semangat yang hidup di antara langkah-langkah kaki yang bersiap memecah sunyi malam.

Pintu VIP Stadion Pakansari berubah menjadi lautan manusia. Ratusan peserta dan penonton memadati area tersebut, membawa energi yang menghangatkan suasana dini hari. Tawa, tepuk tangan, dan teriakan dukungan berbaur menjadi satu irama yang menggugah semangat.

Warga datang dari berbagai penjuru Kabupaten Bogor. Mereka tidak sekadar menonton perlombaan, tetapi juga merayakan kebersamaan. Di bulan Ramadan yang penuh berkah, malam terasa lebih hidup oleh pertemuan dan kegembiraan yang sederhana.

Ketika aba-aba dimulai, langkah-langkah kaki pun berderap memecah sunyi. Para pelari melesat di lintasan, berlari secepat yang mereka mampu. Sorakan penonton menggema, mengiringi setiap gerak langkah yang berpacu dengan waktu.

Di bawah gelapnya langit menjelang sahur, cahaya lampu stadion memantulkan keramaian yang tak biasa.

Peserta datang dari berbagai kalangan. Anak muda, perempuan, hingga anak-anak turut ambil bagian. Mereka berlari bukan hanya untuk menjadi yang tercepat, tetapi juga untuk merasakan kegembiraan yang sama di bawah langit Ramadan.

Di garis start, para peserta bersiap dengan wajah penuh tekad. Tanpa alas kaki, mereka berdiri di atas lintasan, menyentuh langsung aspal yang dingin. Kesederhanaan itu justru menghadirkan keberanian dan semangat yang berbeda.

Luka kecil tak masalah demi tak ingin melewatkan kesempatan untuk merasakan sensasi berlari di tengah dinginnya udara dini hari.

Di sela perlombaan, suasana hangat kebersamaan terasa begitu nyata. Warga saling berbincang, tertawa, dan berbagi cerita sambil menunggu waktu sahur yang kian mendekat. Malam terasa lebih bermakna ketika dilalui bersama.

Tradisi balap lari menjelang sahur ini bukan sekadar perlombaan. Ia adalah cerita tentang semangat, tentang keberanian, dan tentang kebersamaan yang tumbuh di tengah masyarakat. Di antara langkah kaki yang berlari di dini hari, Ramadan menghadirkan kegembiraan yang sederhana namun penuh makna.

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi