CNN Indonesia
Rabu, 04 Mar 2026 17:00 WIB
Ilustrasi. Tren 'love should be fun' menjadi pengingat bahwa hubungan seharusnya membawa rasa nyaman dan aman, bukan sesuatu yang toksik. (iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --
Belakangan ini muncul tren di TikTok dengan slogan 'love should be fun' atau cinta seharusnya terasa menyenangkan. Tren tersebut ramai dibicarakan karena dianggap mengingatkan banyak orang bahwa hubungan yang sehat seharusnya membawa rasa nyaman, aman, dan saling mendukung.
Namun, dalam kenyataannya, tidak semua hubungan berjalan sehat. Sebagian orang justru terjebak dalam hubungan yang membuat mereka stres, lelah secara emosional, atau bahkan kehilangan kepercayaan diri. Kondisi inilah yang sering disebut sebagai toxic relationship.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ciri-ciri hubungan toxic
Dikutip dari laman Murdoch University, hubungan toksik adalah relasi yang dapat berdampak negatif pada kondisi emosional, mental, bahkan fisik seseorang. Hubungan semacam ini biasanya dipenuhi konflik, manipulasi, atau perilaku tidak saling menghargai.
Berikut beberapa tanda yang dapat menunjukkan bahwa sebuah hubungan mulai menjadi tidak sehat.
1. Semua hal selalu berpusat pada pasangan
Dalam hubungan toksik, keputusan sering kali hanya ditentukan oleh satu pihak. Mulai dari hal kecil seperti memilih tempat makan hingga keputusan yang lebih besar, pasangan cenderung ingin selalu mengendalikan situasi.
2. Cemburu berlebihan
Rasa cemburu memang wajar dalam hubungan. Akan tetapi, jika pasangan terus-menerus curiga, memeriksa ponsel, atau marah ketika Anda bertemu orang lain, hal ini bisa menjadi tanda perilaku mengontrol yang tidak sehat.
3. Komunikasi dipenuhi kritik atau sindiran
Hubungan yang sehat biasanya dibangun dengan komunikasi yang saling menghargai. Sebaliknya, hubungan toxic sering dipenuhi komentar negatif, kritik tajam, atau sindiran yang membuat salah satu pihak merasa tidak dihargai.
4. Kurangnya dukungan
Dalam hubungan yang sehat, pasangan biasanya saling mendukung untuk berkembang. Berbeda halnya dalam hubungan toxic, keberhasilan pasangan justru bisa dianggap sebagai ancaman atau persaingan.
5. Tidak menghargai batasan pribadi
Seperti yang dikutip dari Healthline, seseorang dalam hubungan toksik sering merasa kesulitan mengatakan tidak. Pasangan bisa terus mendorong atau memaksa hingga batasan pribadi dilanggar.
6. Perilaku manipulatif
Manipulasi dalam hubungan sering muncul secara halus. Misalnya membuat pasangan merasa bersalah agar menuruti keinginan tertentu.
Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi kepercayaan diri seseorang.
7. Hubungan terasa melelahkan secara emosional
Menghabiskan waktu dengan pasangan seharusnya membuat seseorang merasa bahagia. Namun, dalam hubungan toksik, seseorang justru bisa merasa lelah, tertekan, atau terkuras secara emosional setelah bersama pasangannya.
8. Menjauh dari teman dan keluarga
Hubungan yang tidak sehat sering membuat seseorang perlahan menjauh dari lingkungan sosialnya. Pasangan mungkin bersikap posesif atau membuat seseorang merasa tidak nyaman berinteraksi dengan orang lain.
9. Selalu merasa cemas
Dalam hubungan toxic, seseorang bisa merasa takut mengatakan sesuatu karena khawatir memicu pertengkaran. Akibatnya, masalah sering dipendam dan hubungan menjadi semakin toksik sehat.
10. Merasa terjebak dalam hubungan
Beberapa orang tetap bertahan dalam hubungan toksik karena berharap pasangan akan berubah atau karena mengingat masa-masa awal hubungan yang terasa menyenangkan. Padahal, hubungan yang sehat seharusnya membuat kedua pihak merasa aman dan dihargai.
Tren 'love should be fun' yang ramai di media sosial menjadi pengingat bahwa hubungan yang sehat seharusnya membawa kebahagiaan, bukan justru menimbulkan tekanan emosional.
Jika sebuah hubungan lebih sering membuat seseorang merasa stres, cemas, atau tidak dihargai, hal tersebut bisa menjadi tanda bahwa hubungan tersebut perlu dievaluasi kembali.
(anm/asr)

3 hours ago
1
















































