Selular.ID – Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) menekankan bahwa kesiapan infrastruktur pusat data (data center) komputasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menjadi syarat mutlak bagi Indonesia untuk bersaing dalam kancah teknologi global.
Sarwoto Atmosutarno, Ketua Umum Mastel, menyatakan bahwa pengembangan teknologi AI tidak hanya bertumpu pada kecepatan konektivitas telekomunikasi seperti jaringan 5G.
Melainkan pada keandalan infrastruktur fisik data center yang mampu menampung pemrosesan data berskala besar.
Sarwoto menilai Indonesia memiliki keunggulan geografis dan potensi kapasitas yang jauh lebih besar dibanding negara tetangga seperti Singapura.
“Luas wilayah Indonesia memungkinkan adanya penyebaran dan diversifikasi lokasi data center di luar wilayah metropolitan Jakarta, seperti ke wilayah Surabaya, Malang, Makassar, hingga Balikpapan guna menjaga ketahanan sistem,”ujar Sarwoto, kepada Selular dalam Bincang Eksekutif baru-baru ini.
Di sisi lain, Singapura saat ini mulai menghadapi keterbatasan lahan, isu lingkungan, dan pasokan energi untuk memperluas kapasitas pusat data mereka.
Kondisi tersebut membuka peluang strategis bagi Indonesia untuk menarik investasi infrastruktur AI global, sekaligus mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional melalui percepatan arus digitalisasi.
Tantangan Pasokan Energi Bersih dan Regulasi Investasi
Meskipun potensi pasar dan wilayah sangat mendukung, ekspansi data center pendukung AI di Tanah Air masih membentur sejumlah kendala struktural.
Sarwoto menjelaskan bahwa tantangan utama pengembangan infrastruktur ini bersumber dari regulasi investasi yang perlu diperlonggar serta ketersediaan pasokan energi bersih (clean energy) yang memadai.
“Pengoperasian pemrosesan komputasi AI membutuhkan konsumsi daya listrik yang sangat tinggi.,”ungkap Sarwoto lagi.
Kebutuhan energi skala besar ini menuntut adanya pendekatan baru dalam rantai pasok energi nasional, termasuk fleksibilitas aturan pasokan agar tidak bergantung penuh pada struktur monopoli energi yang ada.
- Potensi Lahan & Geografis: Memungkinkan penyebaran data center di berbagai kota utama untuk meminimalisasi risiko gangguan terpusat.
- Kebutuhan Komputasi Tinggi: Memerlukan dorongan kapasitas listrik nasional yang signifikan untuk menopang kebutuhan data center AI.
- Ketersediaan Pasokan Listrik: Diperlukan kemandirian dan pasokan energi bersih yang stabil untuk mendukung operasional jangka panjang.
- Kebutuhan Deregulasi: Penyesuaian aturan investasi dan monopoli energi diperlukan apabila eksekusi penyediaan energi belum berjalan efektif dalam kurun satu hingga dua tahun ke depan.
Peran Sektor Telekomunikasi sebagai Enabler Teknologi Masa Depan
Pengembangan infrastruktur data center berbasis AI juga diproyeksikan akan mentransformasi ekosistem industri telekomunikasi secara luas.
Operator telekomunikasi (telco) tidak lagi sekadar berperan sebagai penyedia jaringan internet, melainkan bertindak sebagai penggerak utama (enabler) bagi berbagai implementasi teknologi canggih seperti kendaraan otonom (autonomous car).
Pemanfaatan teknologi otonom dan adopsi AI di berbagai sektor industri pada dasarnya didorong oleh kebutuhan efisiensi dan efektivitas operasional.
Integrasi antara jaringan telekomunikasi berlatensi rendah, data center AI yang tebar di berbagai wilayah.
Baca Juga:Mastel Beberkan Realita Kecepatan 5G Belum Maksimal, Akibat Kendala Infrastruktur
Serta kepastian pasokan energi bersih menjadi fondasi utama bagi transformasi digital Indonesia menuju pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.



















































