Mau Dibersihkan Pemprov Jakarta, Ini Fakta Tentang Ikan Sapu-sapu

2 hours ago 1
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan menggelar aksi pembersihan ikan sapu-sapu secara massal dan serentak di lima wilayah kota administrasi pada Jumat (17/4) pagi. Simak fakta-fakta spesies ikan invasif ini.

Langkah pembersihan massal diambil menyusul temuan laboratorium yang menunjukkan kandungan logam berat berbahaya dalam tubuh ikan tersebut telah melampaui ambang batas aman.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Besok pada hari Jumat pagi secara serentak seluruh lima kota yang ada di Jakarta akan mengadakan acara untuk pembersihan ikan sapu-sapu," ujar Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (15/4).

Lantas, apa sebenarnya fakta di balik ikan yang kerap dianggap remeh ini?

Spesies invasif dari Amerika Selatan

Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air (PRLSDA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Triyanto menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) dan kerabatnya berasal dari Amerika Selatan, khususnya kawasan tropis Brasil.

Ikan ini awalnya masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan ikan hias. Namun, banyak yang kemudian dilepas ke perairan umum, baik secara sengaja maupun tidak, hingga akhirnya berkembang menjadi spesies invasif di sungai-sungai Indonesia, termasuk Ciliwung.

Indikator kualitas air yang buruk

Populasi ikan sapu-sapu yang melimpah bisa menjadi penanda memburuknya kualitas air sungai. Triyanto menyebut ikan ini memiliki tingkat adaptasi tinggi dan mampu bertahan di kondisi perairan yang sudah terdegradasi.

"Ikan sapu-sapu karena daya hidupnya sangat tinggi, tingkat adaptasinya terhadap kualitas air yang kurang baik, maka bisa hidup. Tapi pada range tertentu bila perairannya makin buruk ikan ini juga akan terdampak bahkan bisa mengalami kematian," katanya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (28/1).

Kualitas air yang menurun, tingginya kandungan organik, serta perubahan ekosistem akibat pencemaran dan sedimentasi justru memberi ruang bagi spesies ini untuk berkembang pesat, sementara ikan lokal yang lebih sensitif terhadap polutan mengalami penurunan.

Reproduksi cepat dan tanpa predator alami

Salah satu alasan populasi ikan sapu-sapu sulit dikendalikan adalah laju reproduksinya yang tinggi. Seekor ikan sapu-sapu mampu menghasilkan 1.000 hingga 5.000 telur, dengan proses penetasan yang dijaga ketat oleh ikan jantan sehingga tingkat kelulusan hidup anakannya sangat besar.

Ikan ini juga mencapai kematangan reproduksi dalam waktu 6 hingga 12 bulan saja.

Selain itu, kulit tubuhnya yang keras membuat ikan ini tahan dari predator, sehingga hampir tidak memiliki musuh alami di perairan Indonesia.

Mengancam ekosistem dan ikan lokal

Di sungai, ikan sapu-sapu bersaing langsung dengan ikan lokal untuk memperebutkan ruang dan sumber daya. Sifatnya yang agresif dan dominan di dasar perairan membuat populasi ikan asli tergeser.

"Jika populasinya terus meningkat tanpa kendali, ikan sapu-sapu berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem sungai. Dominasi spesies invasif dapat mengurangi keanekaragaman ikan asli, mengubah rantai makanan, dan menurunkan nilai ekonomi perikanan lokal," ujar Triyanto.

Pengendalian

Selain pembersihan massal yang digagas Pemprov Jakarta, Triyanto menyarankan sejumlah langkah pengendalian jangka panjang, seperti monitoring rutin oleh lembaga riset dan pemerintah daerah serta edukasi masyarakat agar tidak melepas ikan non-asli ke perairan umum.

Selain itu, ia juga menyarankan perbaikan kualitas air sungai, serta kajian pemanfaatan alternatif ikan sapu-sapu, misalnya sebagai bahan pakan ternak atau produk olahan lainnya. Dengan demikian, populasinya ikan ini dapat ditekan secara ekonomis.

(lom/dmi)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi