Meisya Siregar Cerita Anak Kena Autoimun ITP, Jalani Terapi Panjang

9 hours ago 2

CNN Indonesia

Selasa, 14 Apr 2026 09:00 WIB

Anak Meisya Siregar didiagnosis ITP di usia 9 tahun. Ini kronologi gejala hingga perjuangan terapi yang dijalaninya. Ilustrasi. Meisya Siregar cerita anak laki-lakinya terkena autoimun langka. (Dok. Meisya Siregar/Facebook)

Jakarta, CNN Indonesia --

Kabar kurang menyenangkan datang dari keluarga artis Meisya Siregar. Ia mengungkap kondisi kesehatan putra ketiganya yang mendadak menurun hingga akhirnya didiagnosis penyakit autoimun langka.

Melalui unggahan di media sosial, istri Bebi Romeo ini menceritakan kesedihan yang ia rasakan saat mengetahui sang anak, Muhammad Bambang Arr Ray Bach atau Bambang, mengidap penyakit serius di usia yang masih sangat muda, yakni 9 tahun.

Padahal selama ini, Bambang dikenal sebagai anak yang aktif dan jarang sakit. Kondisi tersebut membuat Meisya dan keluarga merasa tak menyangka menghadapi situasi ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Selalu ada hikmah dari setiap ketentuan Allah. Mungkin kami terlalu takabur, menganggap anak kita sehat," tulis Meisya mengutip unggahan di akun Instagramnya, Selasa (14/4).

Berawal dari gejala ringan

Meisya menjelaskan, kondisi Bambang awalnya tampak seperti penyakit umum pada anak, yakni batuk dan pilek. Namun, gejala tersebut berkembang dengan munculnya lendir berlebih hingga keluar dari mata.

Setelah menjalani pemeriksaan, Bambang sempat didiagnosis sinusitis kronis dan menjalani pengobatan selama lima hari. Kondisinya sempat membaik, sebelum akhirnya muncul gejala lain yang tak biasa.

Beberapa hari setelah pengobatan, Bambang mengalami memar di tubuh tanpa sebab yang jelas. Memar tersebut bahkan semakin banyak, meski tanpa demam atau perubahan perilaku.

Pemeriksaan lanjutan mengungkap kondisi yang mengejutkan: trombosit Bambang hanya berada di angka 3.000, jauh di bawah normal.

Setelah serangkaian pemeriksaan, Bambang dinyatakan mengidap Idiopathic Thrombocytopenic Purpura atau ITP.

ITP merupakan kelainan autoimun di mana sistem kekebalan tubuh justru menyerang trombosit, komponen darah yang berperan penting dalam proses pembekuan. Akibatnya, jumlah trombosit menurun drastis dan tubuh menjadi mudah memar atau mengalami perdarahan.

Meisya menyebut kondisi ini terjadi karena sistem imun yang 'keliru mengenali' bagian tubuh sendiri sebagai ancaman.

Dengan kondisi trombosit yang sangat rendah, Bambang harus segera menjalani terapi medis berupa Intravenous Immunoglobulin (IVIG). Terapi ini dilakukan selama tiga hari berturut-turut, dengan total sembilan botol infus.

IVIG merupakan terapi yang mengandung antibodi dari plasma darah donor sehat, yang bertujuan membantu menstabilkan sistem imun.

Meski demikian, terapi ini memiliki sejumlah risiko efek samping, seperti pembengkakan, perubahan bentuk wajah (moon face), hingga reaksi alergi.

Perjuangan yang membuahkan hasil

Di tengah kondisi sulit, Meisya dan keluarga terus memberikan dukungan penuh kepada Bambang. Ia menyebut sang anak mampu menjalani seluruh rangkaian terapi dengan baik.

Hasilnya pun membawa kabar menggembirakan. Setelah sebelumnya berada di angka 3.000, trombosit Bambang meningkat signifikan menjadi 182.000, mendekati angka normal.

"Alhamdulillah, Bambang bisa menjalani terapi ini dengan sangat mudah dan lancar berkat doa dari orang-orang tersayang," ujar Meisya.

Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi Meisya dan keluarga. Ia berharap kondisi yang dialami Bambang bersifat sementara dan tidak berlanjut hingga jangka panjang.

Meski begitu, Bambang masih harus menjalani pengobatan lanjutan untuk memastikan kadar trombositnya tetap stabil.

"Doakan semoga ini hanya akut dan tidak dibawa seumur hidupnya," tutup Meisya.

(tis/tis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi