Mengapa Adopsi Mobil Listrik di Thailand Tidak Secepat Indonesia?

3 hours ago 1

Bangkok, Selular.ID – Bulan lalu, berbarengan dengan festival Songkran (13 – 15 April 2026), saya berkesempatan mengunjungi Bangkok, Thailand.

Di tengah-tengah festival yang kental dengan aksi saling menyiram atau menembakkan air dengan senapan mainan – sebagai wujud kegembiraan – pemandangan jalan di Bangkok sering kali dipenuhi dengan mobil dan lalu lintas yang sibuk, terutama di pusat kota dan area komersial.

Seperti halnya di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia, mobil-mobil buatan Jepang mendominasi. Toyota, Honda, Nissan, dan Suzuki, adalah merek-merek yang sepertinya sangat diminati masyarakat Thailand.

Corolla Altis lansiran terbaru – yang di Indonesia umumnya menjadi tunggangan pengemudi papan atas – di Bangkok turun kelas menjadi taksi. Baik borongan atau pakai argo.

Mobil-mobil buatan Eropa, seperti Mercedez dan BMW, sesekali melintas. Namun, saya jarang sekali melihat mobil-mobil buatan Korea.

Entah kalah bersaing atau fokusnya berbeda lebih ke negara lain, mobil-mobil top buatan Hyundai atau KIA, nyaris tak kelihatan di jalan-jalan di kota Bangkok.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Malahan mobil buatan China, seperti BYD, Great Wall Motor (GWM), MG (SAIC), dan Hozon (Neta), yang banyak terlihat lalu lalang.

Di berbagai tempat strategis, berbagai billboard mobil-mobil buatan China terlihat mencolok. Promosi luar ruang itu, menunjukkan upaya agresif mereka menembus pasar otomotif Thailand.

Didorong oleh insentif pemerintah, harga yang kompetitif, dan produksi lokal, merek-merek ini tengah berupaya merebut pangsa pasar yang signifikan, menantang dominasi tradisional Jepang.

Hasilnya terbilang mengejutkan. Pabrikan otomotif China dengan cepat mendominasi pasar Thailand, terutama di sektor kendaraan listrik (EV), dengan pangsa pasar total sebesar 24%.

Tercatat lebih dari 10% penjualan kendaraan baru di negara itu pada 2024 berupa EV.

Foto: Uday Rayana

Thailand Pusat Industri Otomotif Asia Tenggara

Tak dapat dipungkiri, invasi merek-merek mobil buatan China itu, bertujuan mengubah Thailand menjadi pusat EV regional.

Sebagai mana diketahui, Thailand telah lama dianggap sebagai pusat otomotif Asia Tenggara, memainkan peran penting dalam kegiatan manufaktur dan ekspor di kawasan ini.

Dikutip dari laman ASEAN Briefing (27/3/2025), industri otomotif di negeri Gajah Putih itu, bernilai US$12,67 miliar. Skala itu menempatkan Thailand ke peringkat ke-10 secara global dalam produksi kendaraan.

Pada 2023, sebanyak 2,55 juta unit diproduksi, angka yang diperkirakan akan mencapai 2,98 juta pada 2028. Jumlah itu mencerminkan tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 2,5 persen.

Baca Juga: Wanti-Wanti Ridwan Hanif Buat Pengguna Mobil Listrik, Jaga Baterai Dengan Baik Jika Tidak Ingin Nangis Bombay

Dengan komitmen pemerintah yang kuat untuk terus memajukan industri otomotif, termasuk kendaraan listrik (EV), sejalan dengan upaya memperluas kemampuan industri, negara monarki di Asia Tenggara itu tetap menjadi magnet bagi investor global.

Dengan ekosistem yang sudah kuat terbangun selama lebih dari empat dekade, Thailand menawarkan peluang yang menguntungkan bagi investor asing yang ingin membangun basis manufaktur.

Memanfaatkan rantai pasokan regional, sekaligus memanfaatkan insentif pemerintah untuk mendapatkan keunggulan kompetitif di pasar ASEAN.

Di sisi lain, saat pertumbuhan mobil konvensional yang mulai mandek karena tingginya harga BBM, industri otomotif Thailand menghadapi tantangan yang ringan, terutama terkait dengan transisi ke mobil listrik.

Foto: Uday Rayana

Pertumbuhan Moderat Mobil Listrik

Seperti dilaporkan Bangkok Post, penjualan kendaraan listrik (EV), baik mobil penumpang dan kendaraan ringan di Thailand, meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya menjadi lebih dari 44.000 unit pada Januari 2026, sebuah bulan rekor bagi negara tersebut.

Tingkat penetrasinya tumbuh menjadi 48%, rekor bulanan lainnya, melampaui angka tertinggi sebelumnya sebesar 37% yang dicapai pada Desember 2025.

Meski demikian, pertumbuhan tersebut masih terbilang moderat. Pasalnya, tren penggunaan kendaraan listrik itu belum menjadi “masif” atau diadopsi secara universal.

Berbagai alasan mengemuka dibalik tersendatnya adopsi mobil listrik di negara itu. Namun semuanya merupakan kombinasi dari biaya awal yang tinggi, kekhawatiran yang signifikan tentang jangkauan tempuh, dan infrastruktur pengisian daya yang tidak memadai di daerah pedesaan.

Di sisi lain, preferensi pasar saat ini masih terbilang sangat kuat terhadap kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE/Internal Combustion Engine).

Padahal, kendaraan listrik (EV) layak digunakan sehari-hari karena biaya operasional yang jauh lebih rendah, kebutuhan perawatan yang berkurang, dan kenyamanan yang lebih unggul untuk perjalanan harian.

Penghematan harian dicapai melalui tarif listrik yang lebih murah dibandingkan dengan bahan bakar, dengan banyak pengemudi menghemat hingga 70% biaya energi.

EV menawarkan pengalaman berkendara yang lebih tenang, lebih halus, dan lebih efisien, terutama di lalu lintas padat yang jamak terjadi di kota-kota besar.

Di sisi lain, Thailand saat ini tengah menghadapi guncangan energi yang parah akibat lonjakan harga minyak global yang berasal dari konflik di Timur Tengah, khususnya setelah gangguan di Selat Hormuz.

Thailand, yang sangat bergantung pada impor energi, telah mengalami lonjakan tagihan bahan bakar dan pembelian panik, memaksa pemerintah untuk mempertimbangkan pembatasan penggunaan bahan bakar sambil mengelola defisit Oil Fuel Fund (Dana Bahan Bakar Minyak) yang signifikan.

Dipicu oleh perang Iran – AS yang mendorong kenaikan harga minyak, serta kebutuhan untuk mempertahankan statusnya sebagai “Detroit Asia” sekaligus mengatasi tantangan lingkungan dan ekonomi,  transisi Thailand menuju kendaraan listrik (EV) merupakan langkah strategis.

Sebagai pusat otomotif terbesar di Asia Tenggara, Thailand berisiko kehilangan keunggulan kompetitifnya jika tidak segera beradaptasi dengan pergeseran global dari mesin pembakaran internal (ICE) ke mesin listrik.

Baca Juga: Mobil Listrik China Sepenuhnya Jadi Raja Jalanan Indonesia

Foto: Uday Rayana

Penjualan Mobil Listrik Memakan Pangsa Pasar Mobil Konvensional

Jika adopsi mobil listrik Thailand terbilang moderat, terjual hanya hanya puluhan ribu, di Indonesia ceritanya sekarang sungguh berbeda.

Pasalnya, hanya dalam tempo lima tahun, mobil-mobil listrik China telah mendominasi pasar Tanah Air.

Ratusan mobil listrik buatan pabrikan China kini terjual di Indonesia. Mencerminkan perilaku baru pengguna, sekaligus mengubah peta pasar secara signifikan.

Semua itu berkat bandrol harga yang sangat kompetitif (terjangkau), teknologi baterai mutakhir (jarak tempuh jauh, aman), desain yang keren, serta fitur canggih/AI yang melimpah.

Beragam keunggulan itu juga didukung garansi panjang dan biaya operasional rendah. Apalagi imbas perang Iran – AS, harga BBM bisa melambung tinggi, terutama BBM non subsidi.

Dukungan pemerintah juga terlihat nyata dengan semakin banyaknya fasilitas SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) di berbagai pelosok kota. Semua itu, membuat orang Indonesia makin percaya dengan kendaraan bebas emisi.

Alhasil, merek-merek China yang satu dekade lalu masih belum familiar, kini semakin popular di Indonesia.

Dimotori oleh BYD, Wuling, Cherry, Jaecoo, dan MG, produsen otomotif China berhasil menarik konsumen milenial/urban yang mencari kendaraan praktis, tidak bikin kantong bolong, sekaligus ramah lingkungan.

Melonjaknya popularitas mobil listrik, dengan sendirinya menggerus pangsa pasar mobil konvensional yang semakin menurun setiap tahunnya.

Dilansir dari Detikcom (27/4/2026), penjualan mobil bermesin konvensional di Indonesia terus menurun seiring dengan naik daunnya popularitas mobil listrik.

Berikut rinciannya berdasarkan laporan Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia). Pada 2021 (883.997 unit), 2022 (1.027.539 unit), 2023 (934.444 unit), 2024 (765.495 unit), dan 2025 (628.543 unit).

Data di atas menunjukkan, kalau dulu mobil bermesin konvensional bisa tembus sejuta dalam setahun, sekarang cuma ratusan ribu saja.

Kondisi berbeda dicapai oleh mobil listrik. Catatan penjualannya justru terus meningkat dalam lima tahun terakhir.

Hal itu menunjukkan telah terjadi kanibalisme pasar. Karena pada dasarnya tidak terjadi pertumbuhan penjualan mobil di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Data Gaikindo pada 2021 misalnya penjualan mobil listrik tak sampai 1.000 unit. Sepanjang 2021 hanya ada 687 unit mobil listrik yang terjual.

Tapi pada 2022, jumlahnya langsung meroket hingga tembus 10.327 unit. Alhasil, pangsa pasar mobil listrik yang tadinya hanya 0,1 persen langsung berubah jadi 1 persen.

Kala itu, mobil elektrifikasi jenis hybrid justru lebih populer. Pada tahun yang sama, keduanya sama-sama menyumbang 1 persen pangsa pasar dari total penjualan.

Pada 2023 saat pandemic covid-19 mulai menghilang, penjualan mobil listrik naik menjadi 17.051 unit atau meraup sekitar 1,7 persen dari pangsa pasar.

Meski terjadi lonjakan, jumlah itu masih kalah jauh dari mobil hybrid yang membukukan penjualan sebanyak 54.179 unit.

Namun momentum mulai tercipta pada 2024. Penjualan mobil listrik terus naik bahkan mulai mengejar mobil hybrid.

Sepanjang tahun itu, penjualan mobil listrik itu tembus 43.188 unit atau 5 persen dari pangsa pasar. Sementara mobil hybrid penjualannya sebesar 59.903 unit atau 6,9 persen dari pangsa pasar.

Sepanjang 2025, mobil listrik semakin banyak peminatnya. Penjualannya naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2024 seiring dengan kehadiran ragam model baru dan harga yang lebih terjangkau.

Mobil listrik membukukan catatan penjualan sebanyak 103.931 unit, sekaligus melampaui mobil hybrid yang hanya 65.943 unit.

Kenaikan penjualan mobil listrik itu justru berbanding terbalik dengan mobil bermesin konvensional yang tercatat terus menurun dalam lima tahun belakangan.

Di sisi lain, jika dulu mobil bermesin konvensional penjualannya bisa tembus 1 juta unit per tahun, maka pada 2025 penjualannya hanya mencapai 628.543 unit.

Indonesia Bisa Menjadi Pusat Industri Mobil Listrik Regional

Nah, berdasarkan data penjualan di atas, penjualan mobil listrik di Indonesia – yang mulai mengejar mobil bermesin konvensional  – terbukti jauh melebihi pencapaian Thailand.

Lonjakan penjualan itu menunjukkan, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk menggeser Thailand. Momentum yang telah tercipta menjadi modal berharga bagi Indonesia untuk dapat menjadi pusat (hub) industri mobil listrik di Asia Tenggara.

Berbagai indikator strategis menunjukkan bahwa posisi Indonesia semakin menguat mengungguli Thailand, baik dari segi bahan baku, investasi, hingga kebijakan pemerintah.

Tak kalah penting, persepsi masyarakat yang kini tak ragu membeli mobil listrik karena menawarkan banyak kelebihan.

Tak dapat dipungkiri, alasan utama orang Indonesia membeli mobil listrik (EV) adalah penghematan biaya operasional, khususnya BBM yang harganya terus meningkat. Begitu pun perawatan yang lebih murah dibandingkan mobil bensin, didukung oleh insentif pajak oleh pemerintah.

Selain itu, faktor ramah lingkungan, teknologi futuristik, kemudahan pengisian daya di rumah, serta bebas ganjil-genap di kota besar, menjadi daya tarik lainnya.

Nah, sekarang bola di tangan pemerintah Indonesia. Otoritas terkait, terutama Kementerian Perindustrian seharusnya bergerak lebih cepat agar cita-cita Indonesia menjadi pusat industri mobil listrik di kawasan regional bisa sepenuhnya tercapai. Sehingga berdampak pada kemajuan ekonomi bangsa.

Baca Juga: Insiden Tabrakan di Bekasi, Benarkah Mobil Listrik Rawan Mogok Saat Melintasi Rel Kereta Api?

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi