Jakarta, CNN Indonesia --
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung fluktuatif belakangan. Pergerakan indeks saham naik-turun tajam, terlebih karena adanya ketegangan geopolitik global perang Iran melawan agresi Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Sejak perang di Timur Tengah pecah pada 28 Februari lalu, pasar modal Indonesia cenderung terus menurun setiap harinya. Bahkan, pada penutupan Selasa (7/4), IHSG menyentuh 6.989, turun dari level 7.000. Pada penutupan hari itu, 255 saham menguat, 412 ambruk, dan 151 stagnan.
Sebelum perang, tepatnya pada penutupan Jumat (27/2), IHSG masih berada di level 8.235. Pada penutupan perdagangan kemarin (8/4), IHSG mampu bangkit 308,18 poin atau menanjak 4,42 persen ke level 7.279 dari perdagangan sebelumnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
IHSG yang membaik diduga karena Iran dan Amerika Serikat telah sepakat gencatan senjata selama dua pekan pada Selasa (7/4) usai perang selama lebih dari sebulan sejak Sabtu (28/2) lalu.
Lantas, sebetulnya apa penyebab IHSG bergerak liar akhir-akhir ini?
Pengamat Pasar Keuangan Ibrahim Assuaibi menjelaskan saat perang terjadi, investor cenderung takut dan menarik uangnya dari pasar. Pada perang ini, hal yang disasar merupakan pupuk dan infrastruktur-infrastruktur yang cukup strategis. Dengan begitu, harga minyak dunia juga akan naik tinggi.
Kemudian, saat harga minyak dunia tinggi, maka seluruh harga-harga lainnya juga akan ikut naik. Terlebih hal tersebut juga berdampak terhadap nilai tukar rupiah yang melemah sempat menyentuh di atas Rp17 ribu per dolar AS, dan harga minyak mentah di atas US$113 per barel.
"Yang terjadi apa, barang-barang impor mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Seperti barang-barang retail ya. Sehingga membuat pemerintah ini harus memiliki dolar yang cukup besar untuk melakukan pembelian terhadap minyak mentah," terang Ibrahim kepada CNNIndonesia.com, Rabu (8/4).
Ibrahim pun menjelaskan kondisi ini juga bersamaan dengan masa pembagian dividen per kuartal I 2026 yang berdampak negatif terhadap IHSG.
"Nah, bersamaan juga dengan masa pembagian dividen. Per kuartalan kan, Januari, Februari, Maret... Nah, ini berdampak negatif terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)," katanya.
Menurutnya, masalah defisit anggaran pun juga ikut melemahkan IHSG, terlebih Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan adanya kemungkinan APBN defisit lebih dari 3 persen.
"Kita melihat bahwa gonjang-ganjing tentang masalah defisit anggaran pun juga ini membantu melemahkan Indeks Harga Saham Gabungan. Apalagi Menteri Keuangan sendiri mengatakan bahwa kita kemungkinan besar akan terkena defisit anggaran lebih dari 3 persen," ungkap Ibrahim.
Lebih lanjut, Ibrahim menjelaskan gencatan senjata antara Iran dan AS berdampak terhadap IHSG yang menguat tajam. Para investor kembali ke pasar dan mengerak indeks saham naik.
"Jadi bukan IHSG saja, rupiah pun juga menguat tajam. Euforia ini terjadi karena kapal-kapal tanker minyak secara global bisa melewati Selat Hormuz selama dua minggu. Nah, selama dua minggu inilah yang membuat para investor itu senang, gembira," jelasnya.
"Sehingga yang tadinya ketakutan, investor kembali masuk ke pasar mengambil posisi beli. Dan ini yang membuat IHSG kembali mengalami kenaikan," ujar Ibrahim.
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita menyampaikan dalam kondisi roller coaster IHSG seperti sekarang, terdapat beberapa hal yang bisa dilakukan investor, terutama investor retail.
Pertama, jangan ikut drama pasar, yakni dengan fokus ke fundamental saham, bukan noise atau informasi ramai yang tidak benar-benar penting. Kedua, pilih saham dengan cash flow yang kuat, utang terkontrol, dan posisi pasar jelas, seperti bank besar, consumer goods, dan emiten energi tertentu.
"Ketiga, hindari overtrading. Volatilitas tinggi kadang menggoda untuk 'trading harian', tapi mayoritas retail justru kalah di sini," ungkap Ronny.
Keempat, gunakan strategi beli bertahap atau averaging. Jika yakin dengan suatu saham, maka masuk bertahap saat koreksi. Kelima, jangan menaruh keseluruhan investasi di satu saham saja, serta jaga likuiditas dengan selalu punya cash buffer akan jauh lebih baik.
"Terakhir, reframe mindset. Mindsetnya Volatilitas adalah risiko plus peluang. Bahkan Investor matang melihatnya sebagai diskon, bukan ancaman," sarannya.
Menurutnya, dalam kondisi IHSG yang berfluktuasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) sebaiknya melakukan tiga langkah utama.
Pertama, perkuat stabilitas dan kepercayaan pasar melalui transparansi kebijakan, respons cepat terhadap rumor atau panic selling, serta penguatan mekanisme market stabilization misalnya trading halt yang lebih adaptif.
Kedua, perluas basis investor domestik. Ronny menilai pasar modal Indonesia masih terlalu bergantung pada dana asing. Ketika asing keluar, IHSG goyah.
"Solusinya, dorong dana pensiun, asuransi, dan sovereign fund lebih aktif di pasar saham," kata Ronny.
Ketiga, tingkatkan kualitas emiten dengan mendorong perusahaan yang hendak Initial Public Offering (IPO) benar-benar berkualitas, bukan sekadar listing.
"Perketat governance. Kurangi praktik goreng saham yang merusak kepercayaan retail," pungkasnya.
(pta)
Add
as a preferred source on Google

8 hours ago
1













































