Mengenal Teknologi Persinyalan Perkeretaapian di Indonesia Usai Kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur

4 hours ago 1

Selular.ID – Teknologi persinyalan dalam perkeretaapian di Indonesia menjadi sorotan usai terjadinya kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur.

Seperti Selular beritakan sebelumnya, kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur ini mengakibatkan belasan korban meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka, sekaligus mengganggu jalur padat Bekasi–Cibitung.

Kecelakaan berawal dari kelalaian seorang driver taksi online yang menerobos palang pintu kereta api, dan akhirnya tertemper Commuterline dari arah Cikarang.

Hal itu membuat Commuterline dari arah Jakarta akhirnya tersendat di Stasiun Bekasi Timur karena adanya gangguan dari peristiwa sebelumnya.

Nahas, karena ada kesalahan persinyalan membuat Kereta Api Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek jurusan Gambir ke Pasar Turi Surabaya tetap melaju.

Kereta Argo Bromo Anggrek akhirnya menabrak dari belakang Commuterline yang masih berhenti di Stasiun Bekasi Timur.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Hingga kini, penyebab pasti kejadian masih menunggu hasil investigasi resmi dari pemerintah melalui Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Hasil investigasi tersebut akan menentukan apakah insiden dipicu oleh faktor teknis, manusia, atau sistem, termasuk kemungkinan terkait persinyalan.

Bagaimana Sistem Persinyalan Kereta Bekerja?

Dalam operasional kereta api, dikutip dari berbagai sumber, sistem persinyalan berfungsi sebagai mekanisme utama untuk mengatur pergerakan kereta dan menjaga jarak aman antar rangkaian.

Sistem persinyalan kereta api di Indonesia kini didominasi oleh teknologi elektrik (sekitar 57%) dan sebagian masih mekanik, yang berfungsi mengatur pergerakan, menjaga jarak aman (blok), serta mencegah kecelakaan melalui interlocking.

Sistem ini mencakup sinyal masuk, keluar, dan muka dengan aspek warna (hijau, kuning, merah) untuk memandu masinis.

Sistem ini bekerja dengan membagi jalur rel menjadi beberapa petak atau blok yang dipantau secara terpisah.

Pada sistem fixed block signaling yang umum digunakan, setiap blok hanya boleh ditempati satu kereta.

Ketika sebuah blok masih terisi, sinyal di blok sebelumnya akan otomatis menunjukkan aspek merah, yang berarti kereta berikutnya tidak diizinkan masuk.

Sistem ini dikendalikan oleh perangkat interlocking yang memastikan jalur aman sebelum izin perjalanan diberikan.

Baca juga:

Teknologi ini menjadi fondasi keselamatan karena mencegah dua kereta berada di jalur yang sama dalam waktu bersamaan.

Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada keandalan sistem, kepatuhan terhadap prosedur, serta koordinasi antar petugas dan masinis.

Sistem Persinyalan yang Lebih Canggih

Di tingkat global, perkembangan teknologi telah membawa sistem persinyalan ke level yang lebih maju.

Beberapa negara mulai mengadopsi sistem berbasis komunikasi seperti Communication-Based Train Control (CBTC) dan European Train Control System (ETCS).

Menurut International Union of Railways dan European Union Agency for Railways, sistem ini memungkinkan pemantauan posisi kereta secara real-time dengan akurasi tinggi.

Dengan pendekatan ini, jarak antar kereta dapat diatur secara dinamis, tidak lagi bergantung pada pembagian blok statis.

Selain meningkatkan kapasitas jalur, teknologi ini juga dirancang untuk meminimalkan risiko kecelakaan akibat kesalahan manusia melalui otomatisasi dan sistem proteksi berlapis.

Kecelakaan di Bekasi Timur menunjukkan bahwa teknologi saja tidak cukup tanpa didukung oleh prosedur operasional yang ketat dan disiplin pelaksanaan di lapangan.

Pengamat menilai, hasil investigasi KNKT nantinya akan menjadi dasar evaluasi penting, termasuk kemungkinan peningkatan sistem persinyalan serta penguatan aspek pengawasan dan pelatihan sumber daya manusia ke depannya.

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi