Jakarta, CNN Indonesia --
Mitsubishi Power menegaskan komitmennya dalam mendukung transformasi sistem kelistrikan Indonesia di tengah peningkatan kebutuhan energi dan target transisi energi nasional. Komitmen ini menjawab tantangan lonjakan permintaan listrik global yang tidak banyak diprediksi sebelumnya.
Dalam wawancara bersama CNN Indonesia di sela-sela forum Energy Forward pada Kamis (12/2), forum industri yang diselenggarakan oleh Mitsubishi Power, Executive Vice President Mitsubishi Power, Daichi Nakajima, menyebut angka yang cukup mencolok.
"Market size energi dari turbin gas adalah 55 gigawatt pada tahun 2024. Dan pada tahun 2025, meski angka pastinya belum keluar secara pasti, kami optimis akan mendekati 100 gigawatt," ujarnya kepada CNN Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lonjakan nyaris dua kali lipat dalam satu tahun itu, menurut Nakajima, bukan semata soal pertumbuhan populasi atau industrialisasi biasa. Gelombang investasi besar-besaran di sektor kecerdasan buatan (AI) dan data center di Amerika Utara, Timur Tengah, hingga Asia Tenggara menjadi pemacu utamanya.
Ia secara khusus menyebut Malaysia dan Indonesia sebagai kawasan yang merasakan tekanan permintaan energi baru tersebut. Di tengah percepatan target energi terbarukan Indonesia, Mitsubishi Power menawarkan Gas Turbine Combined Cycle (GTCC) sebagai solusi yang dinilai tidak bertentangan dengan agenda hijau.
GTCC, menurut Nakajima, memiliki fleksibilitas pengendalian beban yang krusial untuk menyeimbangkan pasokan dari energi intermiten seperti surya dan angin. Model terbaru Mitsubishi Power, turbin gas J-Series Air-Cooled (JAC), diklaim mampu mencapai efisiensi 64%, dan berpotensi memangkas emisi CO2 hingga 65% dibandingkan pembangkit batu bara.
Keberhasilan penerapan teknologi efisiensi tinggi ini dapat dilihat pada proyek Pembangkit Listrik Muara Karang Blok 3 di Jakarta. Fasilitas ini mencatatkan tingkat efisiensi di atas 60 persen dan menjadi pembangkit paling efisien di wilayah ibu kota.
Pembangkit Muara Karang Blok 3 memiliki peran strategis karena turut memasok listrik bagi infrastruktur vital pemerintahan dan transportasi, termasuk Istana Kepresidenan, Gedung DPR, serta operasional MRT, LRT, dan Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Proyek ini berhasil diselesaikan lebih awal dari jadwal meskipun pengerjaannya dilakukan di tengah situasi pandemi COVID-19.
Pengiriman turbin gas M701F Mitsubishi Power untuk Pembangkit Listrik Muara Karang, yang mulai beroperasi secara komersial pada 2021. (Foto: Arsip Mitsubishi Power)
Nakajima memastikan, Mitsubishi Power juga mendukung target transisi energi pemerintah Indonesia untuk mengimplementasikan lebih dari 50 persen energi terbarukan dalam sepuluh tahun mendatang. Langkah ini dilakukan melalui pendekatan bertahap guna menjaga kesinambungan pasokan listrik nasional.
Seluruh turbin gas GTCC milik Mitsubishi Power telah dirancang untuk siap melakukan pembakaran campuran atau co-firing menggunakan hidrogen. Investasi pada aset gas saat ini dipastikan tetap relevan untuk penggunaan bahan bakar bersih di masa depan.
Kesiapan co-firing hidrogen ini bukan sekadar klaim. Ia menyebut bahwa pengujian intensif telah dilakukan di Takasago Hydrogen Park, Jepang, sebuah fasilitas khusus untuk validasi teknologi pembakaran hidrogen tingkat lanjut.
Takasago Hydrogen Park Mitsubishi Power di Jepang. (Foto: Arsip Mitsubishi Power)
"Jadi begitu hidrogen siap di Indonesia, tanpa mengubah peralatan di sini, kita bisa mulai membakar hidrogen tersebut dengan kadar sampai dengan 30 persen," tegas dia.
Mitsubishi Power bersama Georgia Power juga telah berhasil mendemonstrasikan pencampuran hidrogen sebesar 50% dengan gas alam pada turbin gas kelas lanjut (advanced-class) di Plant McDonough-Atkinson, Georgia, Amerika Serikat. Uji coba tersebut menghasilkan penurunan emisi karbon sebesar 22% dibandingkan beroperasi dengan 100% gas alam.
Di samping mendorong pembangunan unit baru, Mitsubishi Power juga menyasar peningkatan kinerja aset pembangkit yang sudah ada. Indonesia memiliki banyak aset pembangkit yang relatif baru dan membuka peluang untuk optimalisasi dan pengurangan emisi melalui peningkatan teknologi.
Teknologi co-firing amonia dan biomassa menjadi andalan Mitsubishi Power untuk memodifikasi pembangkit eksisting guna menekan emisi karbon. Perusahaan menyatakan sudah siap mengaplikasikan teknologi ini pada pembangkit-pembangkit yang ada di Indonesia.
"Sangat penting juga untuk memanfaatkan aset-aset ini, terutama ketika permintaan listrik terus meningkat. Alih-alih menutupnya begitu saja, kita dapat meningkatkan kinerjanya melalui modifikasi atau dengan beralih ke bahan bakar yang lebih rendah karbon, seperti teknologi pembakaran amonia atau teknologi biomassa," kata Nakajima.
Untuk semakin memajukan solusi tersebut, Mitsubishi Power memperdalam kolaborasi dengan mitra lokal. Perusahaan baru-baru ini mengumumkan kemitraan riset dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mempelajari pembakaran amonia dan menilai penerapannya pada turbin gas, serta berencana memperluas kolaborasi riset energi bersih serupa dengan pemangku kepentingan energi lainnya di Indonesia.
Di sisi operasional, sejak dekade 1980-an Mitsubishi Power telah mengembangkan dan memasok sistem kendali canggih yang dirancang untuk mendukung keandalan tinggi sekaligus memenuhi kebutuhan dukungan pemeliharaan dan standar keselamatan.
Melanjutkan fondasi tersebut, perusahaan memperkenalkan sistem digital bernama TOMONI®, yang dalam bahasa Jepang berarti 'bersama'. Sistem ini memungkinkan para spesialis memberikan pemantauan real-time dan diagnostik prediktif guna mendukung optimalisasi kinerja.
Jika terdeteksi sinyal anomali sekecil apa pun, tim spesialis langsung memberikan rekomendasi kepada operator di lapangan sebelum gangguan berkembang menjadi pemadaman. Nakajima menegaskan bahwa Mitsubishi Power kini tengah mengintegrasikan kecerdasan buatan ke dalam sistem TOMONI untuk mempertajam kemampuan deteksi dini tersebut.
Nakajima menutup pernyataannya dengan menekankan dimensi hubungan jangka panjang yang menjadi fondasi kehadiran Mitsubishi Power di Indonesia. Perusahaan asal Jepang itu pertama kali memasok turbin uap dan boiler ke Indonesia pada 1971, lebih dari setengah abad lalu.
"Komitmen jangka panjang terhadap negara ini, kepercayaan yang kita miliki, dan berbagi tanggung jawab adalah kunci bagi transisi energi ini," pungkasnya.
Dengan target lebih dari 50% energi terbarukan dalam 10 tahun ke depan sesuai rencana pembangunan ketenagalistrikan Indonesia, Mitsubishi Power memandang posisinya bukan sebagai pelaku yang terpinggirkan oleh agenda hijau, melainkan mitra untuk memastikan transisi berjalan tanpa mengorbankan keandalan dan keterjangkauan pasokan listrik nasional.
(rir)

3 hours ago
1

















































