Selular.ID – Modena Energy terus mendorong transformasi penggunaan energi terbarukan di Indonesia melalui penyediaan ekosistem teknologi panel surya yang lebih efisien dan terjangkau bagi masyarakat maupun sektor komersial.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar perusahaan untuk mempermudah akses energi bersih sekaligus menekan biaya operasional konsumen.
Muhammad Agiya Fersya, Head of Modena Energy, menyatakan bahwa fokus utama perusahaan saat ini adalah menghadirkan solusi terintegrasi yang mencakup perangkat keras hingga sistem pengontrol energi.
“Langkah ini diambil guna memastikan ketersediaan energi terbarukan dapat dimanfaatkan secara optimal sepanjang tahun,”ujar Agiya, dalam Bincang Eksekutif Selular, di Jakarta (21/7/27).
Agiya menjelaskan, teknologi panel surya telah mengalami perkembangan pesat dalam satu dekade terakhir.
Sekitar sepuluh tahun lalu, kapasitas satu modul panel surya efisien hanya berkisar di angka 300 Watt dengan harga yang relatif tinggi.
Saat ini, efisiensi modul meningkat lebih dari dua kali lipat hingga mencapai kapasitas 700 Watt per modul, sementara biaya produksinya mengalami penurunan hingga 80%.
Perkembanan Teknologi dan Efisiensi Biaya
Penurunan biaya manufaktur dan peningkatan kapasitas produksi global menjadikan teknologi PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) jauh lebih kompetitif dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Dari sisi ekonomi, investasi pada perangkat panel surya kini memiliki masa pembalikan modal (break-even point) yang lebih singkat, yaitu sekitar tahun kelima atau keenam setelah pemasangan.
Efisiensi ini didorong oleh ketersediaan teknologi konversi daya modern yang stabil. Dengan adanya sistem pengolahan energi yang mumpuni, pasokan listrik yang dihasilkan dari sinar matahari dapat dimanfaatkan secara konsisten sepanjang hari untuk menopang kebutuhan harian pengguna.
Selain memberikan nilai tambah secara finansial, adopsi energi surya juga memberikan dampak positif bagi ekosistem lingkungan.
Pemerintah sendiri terus memberikan dukungan regulasi yang kuat untuk mempercepat transisi energi bersih di wilayah domestik.
Tantangan Edukasi di Indonesia
Meski skema pembiayaan dan efisiensi teknologi semakin membaik, tingkat adopsi panel surya di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan di lapangan.
Salah satu hambatan utama adalah persepsi masyarakat mengenai besarnya biaya investasi awal (upfront cost) serta anggapan bahwa energi terbarukan masih menjadi kebutuhan tersier.
Karakteristik harga listrik domestik yang relatif terjangkau dibandingkan negara-negara berkembang maupun kawasan Eropa juga mempengaruhi tingkat urgensi konsumen dalam beralih ke energi alternatif.
Kondisi ini membuat penetrasi teknologi panel surya memerlukan pendekatan skema bisnis yang lebih fleksibel dari para pelaku industri.
Selain faktor biaya, tingkat pemahaman publik terhadap keandalan teknologi PLTS dinilai belum merata.
Masih terdapat kekhawatiran di kalangan masyarakat terkait potensi kendala teknis atau gangguan pada perangkat panel surya saat diimplementasikan di hunian maupun tempat usaha.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Modena Energy menyiapkan berbagai skema implementasi yang fleksibel guna mempermudah pelaku industri dan konsumen rumah tangga.
Baca Juga:Modena Energy Dorong Adopsi Tenaga Surya Lebih Cerdas
Edukasi publik secara berkelanjutan mengenai keamanan, keandalan, serta manfaat jangka panjang teknologi energi surya terus dilakukan demi mempercepat transformasi energi nasional.



















































