Jakarta, CNN Indonesia --
Wakil Perdana Menteri Pakistan Ishaq Dar mendesak Amerika Serikat (AS) dan Iran tetap mematuhi kesepakatan gencatan senjata usai negosiasi damai keduanya mandek pada Minggu (12/4).
Dalam sebuah pernyataan, Dar menekankan sangat penting bagi kedua belah pihak "untuk terus menjunjung tinggi komitmen mereka terhadap gencatan senjata".
"Kami berharap kedua pihak akan terus melanjutkan semangat positif guna mencapai perdamaian dan kemakmuran yang berkelanjutan bagi seluruh kawasan dan sekitarnya," kata Dar, seperti dikutip Al Jazeera.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dar menegaskan Pakistan akan terus berupaya memfasilitasi dialog antara Iran dan AS. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada kedua negara karena telah menghargai upaya Islamabad dalam membantu tercapainya gencatan senjata.
"(Pakistan berharap kedua pihak dapat terus melanjutkan) semangat positif untuk mencapai perdamaian yang langgeng," tutupnya.
Perundingan damai AS dan Iran gagal mencapai mufakat pada Minggu (12/4) pagi. Perundingan tatap muka perdana yang berlangsung 21 jam tersebut digelar di Islamabad dengan dimediasi Pakistan.
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan mandeknya pembicaraan terjadi karena Iran menolak permintaan Washington, salah satunya terkait penghentian semua program nuklir Teheran. Vance pun berujar hasil negosiasi ini merupakan "kabar buruk" bagi Iran.
Sebelum gencatan senjata berlaku pada Rabu (8/4), Presiden AS Donald Trump sempat mengancam akan menghapus "seluruh peradaban Iran" jika Teheran tidak menyetujui kesepakatan.
Seorang sumber yang dekat dengan tim negosiasi Iran mengatakan kepada kantor berita Fars bahwa Iran sejauh ini tak berencana menggelar pembicaraan putaran berikutnya. Iran, menurutnya, masih bersikeras ingin agar AS menyetujui semua tuntutan mereka.
"Iran tidak terburu-buru, dan sampai AS menyetujui kesepakatan yang wajar, tidak akan ada perubahan status Selat Hormuz," ujar dia.
Sebelum pembicaraan dimulai, seorang sumber senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa pencairan aset Teheran di Qatar menjadi salah satu tuntutan Iran dalam negosiasi dengan AS. Sumber itu mengeklaim AS sudah setuju mencairkan miliaran dolar aset Iran yang selama ini dibekukan di Qatar dan bank-bank asing.
Selain pembebasan dana, Iran juga disebut menuntut kendali atas Selat Hormuz, ganti rugi perang, serta gencatan senjata di seluruh wilayah termasuk Lebanon.
Teheran juga ingin memungut biaya transit bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
(blq/fea)
Add
as a preferred source on Google

7 hours ago
1














































