Selular.ID – Ancaman penipuan digital di Asia Tenggara termasuk di Indonesia memasuki tahap mengkhawatirkan.
Bukan hanya jumlah korbannya yang menjadi persoalan, tetapi uang yang sudah berpindah ke tangan penipu ternyata sangat sulit kembali.
Laporan terbaru GSMA mengungkap 82% korban yang mengalami kerugian finansial gagal memulihkan uang mereka.
Temuan tersebut berasal dari GSMA ASEAN Consumer Scam Report 2026, yang mencakup konsumen di enam negara Asia Tenggara, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.
Baca juga:
- Waspada! 7.908 Lowongan Kerja Luar Negeri Ternyata Penipuan
- Jangan Telepon Balik Jika Dapat Panggilan dari Nomor Ini, Waspada Penipuan
Laporan yang diluncurkan dalam Digital Trust Summit di M360 ASEAN, Kuala Lumpur, juga menemukan 45% kasus penipuan yang sudah dilaporkan masih belum terselesaikan.
Kondisi ini mulai berdampak lebih luas karena korban kehilangan kepercayaan terhadap saluran komunikasi, platform digital hingga praktik berbagi data.
Uang Hilang, Hanya 10% Bisa Kembali Sepenuhnya
Angka kerugian korban menjadi salah satu temuan paling mencolok.
Hampir satu dari sepuluh atau 8% konsumen yang disurvei mengaku menjadi korban penipuan dalam 12 bulan terakhir.
Dari para korban tersebut, sebanyak 68% mengalami kerugian finansial. Masalahnya, 82% dari kelompok korban yang kehilangan uang tidak berhasil memulihkan kerugiannya.
Bahkan hanya 10% korban yang berhasil mendapatkan kembali seluruh uang yang hilang.
Dampaknya tidak berhenti pada kerugian finansial. Konsumen yang pernah menjadi korban penipuan memiliki kemungkinan lebih dari dua kali lipat untuk berpindah rekening atau penyedia layanan dibandingkan mereka yang tidak pernah menjadi korban.
Temuan ini menunjukkan bahwa fraud bukan lagi sekadar persoalan keamanan siber. Penipuan mulai menjadi ancaman terhadap kepercayaan konsumen kepada ekosistem digital.
WhatsApp dan Aplikasi Pesan Jadi Medan Empuk?
GSMA tidak menyebut satu merek aplikasi tertentu sebagai sumber utama penipuan.
Namun laporan tersebut menemukan aplikasi messaging menjadi saluran paling umum bagi konsumen untuk menemukan scam, dengan 41% pengalaman penipuan terjadi melalui saluran tersebut.
Modusnya juga semakin beragam. Aktivitas penipuan mulai bergeser ke investasi, mata uang kripto, belanja online hingga lowongan pekerjaan, dengan korban dibujuk untuk mengirimkan uangnya sendiri.
Tingkat kekhawatiran masyarakat pun sangat tinggi. Sebanyak 96% konsumen mengaku khawatir menjadi korban penipuan atau peretasan.
Artinya, hampir seluruh konsumen yang disurvei telah melihat fraud sebagai ancaman nyata ketika beraktivitas secara digital.
AI Bikin Penipu Makin Sulit Dikenali
Ancaman berikutnya datang dari kecerdasan artifisial alias AI di Indonesia maupun Asia Tenggara.
GSMA menyebut hampir 9 dari 10 konsumen mengenali setidaknya satu bentuk penggunaan AI dalam penipuan. Teknologi tersebut membuat modus scam berkembang semakin canggih.
AI kini memungkinkan pelaku membuat phishing, deepfake, kloning suara hingga pemalsuan identitas digital yang semakin sulit dibedakan dari interaksi asli.
Perubahan tersebut menjadi tantangan besar karena masyarakat bukan hanya harus menilai apakah sebuah tautan berbahaya.
Mereka juga harus mempertanyakan apakah suara, wajah, identitas bahkan orang yang sedang berkomunikasi dengan mereka benar-benar asli.
GSMA: Akses Internet Saja Tak Lagi Cukup
Head of Asia Pacific GSMA Julian Gorman menilai perkembangan ekonomi digital ASEAN membuat persoalan kepercayaan semakin penting.
“Akses saja kini tidak lagi cukup,” ujar Gorman.
Menurutnya, masyarakat harus percaya bahwa layanan digital yang mereka gunakan aman, andal dan dapat dipertanggungjawabkan.
GSMA melihat kepercayaan digital kini menjadi prasyarat bagi partisipasi masyarakat, inovasi hingga pertumbuhan ekonomi digital.
Pemerintah, operator seluler, platform digital dan institusi keuangan karena itu harus bekerja bersama untuk memverifikasi identitas, mengautentikasi komunikasi dan mencegah fraud sebelum kerugian terjadi.
Operator Seluler Tak Bisa Cuma Jual Koneksi
Ada pesan lain yang cukup penting dari laporan GSMA: peran operator telekomunikasi harus berkembang melampaui penyedia konektivitas.
Laporan Digital Nations 2026: Building Trusted Digital Ecosystems in ASEAN mengidentifikasi empat fondasi utama untuk membangun kepercayaan digital, yakni identitas, komunikasi, jaringan yang tangguh, dan intelijen kolektif.
Operator seluler dinilai memiliki posisi penting karena dapat berkontribusi melalui verifikasi identitas, keamanan jaringan, pencegahan fraud, autentikasi hingga berbagi intelijen ancaman.
Namun operator tidak dapat bekerja sendirian. Pemerintah, regulator, institusi keuangan dan platform digital juga harus berada dalam ekosistem pertahanan yang sama, terlebih penipuan digital dapat bergerak melintasi platform maupun batas negara.
Temuan 45% kasus yang belum terselesaikan dan 82% korban yang gagal mendapatkan kembali kerugiannya menjadi alarm bagi transformasi digital ASEAN.
Sebab ketika masyarakat mulai takut menerima pesan, melakukan transaksi, membagikan data atau menggunakan layanan digital karena khawatir ditipu, persoalannya bukan lagi sekadar berapa banyak korban scam.
Yang ikut dipertaruhkan adalah kepercayaan masyarakat terhadap masa depan ekonomi digital ASEAN itu sendiri.



















































