Penularan Malaria Knowlesi Terbatas, Tidak Terjadi Antarmanusia

5 hours ago 1

CNN Indonesia

Kamis, 14 Mei 2026 15:10 WIB

Jangan khawatir, penularan malaria knowlesi atau malaria monyet tidak dapat terjadi antarmanusia. Simak penjelasannya berikut ini. Ilustrasi. Jangan khawatir, penularan malaria knowlesi atau malaria monyet tidak dapat terjadi antarmanusia. (Pixabay/skeeze)

Jakarta, CNN Indonesia --

Malaria knowlesi atau yang lebih dikenal sebagai malaria monyet, tak menyebar melalui penularan antarmanusia, sehingga tidak perlu ada kekhawatiran akan ada penyebaran yang meluas dan cepat.

Pada awal Mei ditemukan 357 kasus malaria knowlesi di Sabah Malaysia dan menyebabkan satu kematian. Adapun pada waktu bersamaan, di Kabupaten Aceh Jaya ditemukan 30 kasus.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Agar tak menimbulkan kekhawatiran dan kepanikan, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyelenggarakan media briefing untuk edukasi mengenai jenis malaria ini.

Penyakit ini tergolong malaria zoonotik yang disebabkan oleh parasit Plasmodium knowlesi yang ada pada monyet, lalu menular ke manusia melalui gigitan nyamuk tertentu. Adapun nyamuk tersebut aktif dari sejak sore hingga fajar dan biasanya ada di pinggir hutan.

"Malaria knowlesi terutama menggigit di jam-jam tertentu. Kalau di sini disampaikan, jam 5 pagi sampai jam 8, lalu Jam 6 sore sampai jam 8 malam," kata Inke Nadia Diniyanti Lubis, dokter spesialis anak yang juga tergabung di Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, dalam media briefing secara daring pada Rabu (13/5).

Inke mengatakan, ada tiga komponen yang harus terpenuhi agar terjadi penularan pada manusia. Pertama, adanya parasit Plasmodium knowlesi.

Kedua, monyet berekor panjang (macaca fascicularis) dan beruk (M. nemestrina) yang memang secara alami membawa parasit P. knowlesi tersebut. Ketiga, adanya nyamuk Anopheles kelompok leucosphyrus.

Penularan dapat terjadi pada manusia ketika nyamuk Anopheles yang sudah menggigit monyet kemudian menggigit manusia.

Jadi, kontak langsung antara monyet dan manusia tidak menyebabkan penularan jika tidak ada nyamuk Anopheles. Sebaliknya, kontak manusia dengan nyamuk Anopheles yang tidak membawa parasit P. knowlesi, juga tak dapat menyebabkan penularan.

Hal ini membuat penyebaran malaria knowlesi tergolong terbatas, karena tidak bisa ditularkan antarmanusia, apalagi melalui batuk.

"Penularan ini tetap harus dilakukan dari gigitan nyamuk dari monyet ke manusia. Jadi, bukan dari udara ataupun bukan dengan kontak," kata Inke.

Yang perlu diperhatikan, yakni habitat dari monyet dan nyamuk tertentu ini banyak ditemukan di hutan hingga pinggiran hutan.

Jadi, bagi masyarakat dengan profesi tertentu yang bekerja di hutan dan kebun, atau tempat tinggalnya berada di pinggiran hutan, bisa berisiko mendapat penularan dari nyamuk.

Inke mengatakan, dari beberapa informasi didapatkan IDAI di daerah endemik, ada kekhawatiran penularan terjadi dari kebiasaan makan monyet.

"Nah, itu juga tidak termasuk menjadi faktor risiko karena penularannya harus melalui gigitan nyamuk yang membawa parasit. Lalu digigit kembali masuk melalui darah. Jadi, bukan melalui makanan, bukan melalui udara ataupun dengan kontak," tutur Inke.

Gejala malaria knowlesi

Mengidentifikasi gejala malaria knowlesi menjadi tantangan tersendiri. Inke mengatakan, gejalanya sulit dibedakan dengan jenis malaria lainnya dan demam biasa. Selain itu, malaria knowlesi bisa menyebabkan gejala yang sangat besar.

"Siklus hidupnya jauh lebih pendek. Jadi, mereka itu sangat cepat bereplikasi di dalam tubuh manusia," katanya.

Ditambah lagi, tubuh manusia yang tidak mengenal patogen baru, bisa membuat penyakit jadi jauh lebih berat. Berdasarkan pemaparan Inke, berikut ini gejala umumnya:

  • Demam dengan siklus harian. Setiap 24 jam, suhu tubuh naik turun.
  • Menggigil dan berkeringat.
  • Sakit kepala, nyeri otot, dan sendi.
  • Lemas, mual, dan muntah.
  • Kadang disertai batuk ringan dan nyeri perut.

Jika kondisi sudah parah, penderita akan mengalami gejala yang lebih berat. Ini gejala yang harus diwaspadai dan segera ditangani:

  • Jumlah trombosit turun cepat dan mudah mengalami memar.
  • Napas cepat atau sesak.
  • Air kencing sedikit atau berwarna pekat.
  • Mata dan kulit berwarna kuning.
  • Kesadaran menurun.

Orang yang berada di tempat berisiko tinggi untuk penularan atau ada riwayat perjalanan ke tempat tersebut dalam satu sampai dua minggu terakhir, perlu memperhatikan gejala yang muncul dengan saksama.

"Waktunya [masa inkubasi] biasanya satu sampai dua minggu setelah gigitan [nyamuk] baru terjadi gejala, dan ini tidak berbeda dengan malaria jenis lainnya," kata Inke.

(rti)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi