Jakarta, CNN Indonesia --
Perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel tidak hanya meninggalkan jejak kehancuran bangunan dan korban jiwa, tapi juga mempercepat datangnya 'kiamat' iklim. Perang ini terbukti menjadi bencana ganda, menghancurkan kemanusiaan sekaligus tempat tinggal manusia.
Analisis terbaru menunjukkan bahwa dalam 14 hari pertama saja, perang ini sudah menghasilkan sekitar 5 juta ton emisi gas rumah kaca. Selain itu, perang ini juga menguras anggaran karbon global lebih cepat daripada gabungan 84 negara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setiap serangan rudal merupakan langkah lain menuju planet yang lebih panas dan tidak stabil, dan tak satu pun dari itu membuat siapa pun lebih aman," kata Patrick Bigger, direktur penelitian di Climate and Community Institute, mengutip The Guardian, Sabtu (21/3).
Kerusakan bangunan menjadi penyumbang emisi terbesar, mencapai 2,4 juta ton CO2. Konsumsi bahan bakar militer menyumbang sekitar 529.000 ton, sementara kebakaran depot minyak menghasilkan hingga 1,88 juta ton CO2.
Secara total, dua minggu pertama perang menghasilkan 5.055.016 ton CO2e-setara emisi tahunan negara seperti Kuwait, atau gabungan 84 negara dengan emisi terendah.
Fred Otu-Larbi, penulis utama analisis ini, memperkirakan emisi akan meningkat pesat seiring berlanjutnya konflik, terutama karena fasilitas minyak menjadi sasaran serangan.
"Kita semua harus menghadapi dampak perubahan iklim. Berapa biayanya, tidak ada yang benar-benar tahu, itulah mengapa studi seperti ini sangat penting. Membakar emisi tahunan Islandia dalam dua minggu adalah sesuatu yang benar-benar tidak bisa kita tanggung," kata Fred.
Ancam target iklim global
Para ilmuwan memperkirakan manusia hanya memiliki "jatah karbon" sekitar 130 miliar ton CO2 untuk menjaga peluang 50 persen membatasi pemanasan global di bawah 1,5 derajat Celsius. Dengan laju emisi saat ini, batas ini bisa habis pada 2028.
Bigger juga memperingatkan bahwa perang dapat memperparah ketergantungan pada bahan bakar fosil.
"Secara historis, setiap guncangan energi yang dipicu oleh AS selalu diikuti oleh lonjakan pengeboran baru, terminal LNG baru, dan infrastruktur bahan bakar fosil baru. Perang ini berisiko mengunci ketergantungan pada karbon untuk satu generasi lagi," katanya.
Ia menilai perang ini bukanlah demi keamanan, melainkan demi kepentingan ekonomi politik bahan bakar fosil, dan yang menanggung akibatnya adalah warga sipil Iran serta komunitas kelas pekerja di seluruh dunia.
Di tengah kerusakan tersebut, energi terbarukan menjadi harapan. Sumber seperti matahari dan angin tidak bergantung pada jalur distribusi yang rentan konflik, serta lebih sulit diserang dibandingkan infrastruktur energi terpusat.
Sistem energi ter-desentralisasi seperti panel surya atap dan jaringan lokal, dapat menjaga layanan penting tetap berjalan saat krisis.
Merusak sistem vital di halaman berikutnya...
Add
as a preferred source on Google

4 hours ago
3














































