Perang Iran vs AS-Israel, Industri Telco di Indonesia Ikut Terdampak?

5 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

XLSmart menyebut perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS)-Israel di Timur Tengah tidak memberikan dampak langsung kepada industri telekomunikasi Tanah Air, tetapi dampaknya terhadap perekonomian global tentu akan memberi dampak tidak langsung pada industri.

"Selama ini sih mudah-mudahan tidak ada apa-apa. Kita tentu berharap perang ini segera berhenti," kata Merza di XLSmart Tower, Jakarta, Jumat (13/3).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tidak tahu di industri lain, tapi kita (telekomunikasi) masih belum rasa apa-apa," tambahnya.

Meski demikian, ia menyinggung dampak konflik tersebut terhadap nilai tukar mata uang. Pasalnya, sebagian besar investasi industri telekomunikasi masih bergantung pada komponen impor yang dibeli dengan valuta asing.

"Kalau situasi seperti ini terus berlangsung, biasanya nilai valuta naik. Sementara investasi telekomunikasi hampir semuanya menggunakan valuta asing, karena perangkat jaringan masih banyak yang impor," terangnya.

Menurutnya, kenaikan tersebut bisa berdampak pada biaya investasi operator, mulai dari kebutuhan perangkat jaringan hingga pengembangan infrastruktur.

Selain itu, kondisi ekonomi global yang memburuk juga berpotensi mempengaruhi daya beli masyarakat. Jika daya beli menurun, kata Merza, konsumsi layanan telekomunikasi tentu akan terdampak.

"Kita sudah pernah terjadi krisis tahun berapa pecah perang Iran-Irak. Jangan sampai lagi terjadi seperti itu. Krisis moneter, semua daya beli kita merosot, harga BBM naik, harga-harga pangan mahal, semua mahal," katanya.

"Kalau kondisi seperti itu, pilih mana, beli beras atau beli pulsa? Perut itu utama" tambahnya.

Sebagai informasi, nilai tukar rupiah berada di level Rp16.997 per dolar AS pada Senin (16/3) sore. Mata uang Garuda melemah 39 poin atau 0,23 persen dari perdagangan sebelumnya.

Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp16.990 per dolar AS.

Analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS di tengah kekhawatiran kenaikan harga minyak yang akan membebani APBN.

Harga minyak dunia sendiri terus melanjutkan kenaikan pada Senin (16/3) di tengah berlarutnya perang Iran melawan AS dan Israel. Minyak mentah melesat nyaris 2 persen hingga tembus US$105 per barel hari ini.

Perang ini menempatkan infrastruktur minyak di negara Teluk dalam risiko, serta membuat Selat Hormuz tertutup. Kedua hal tersebut memicu gangguan pasokan global terbesar yang pernah terjadi.

(lom/dmi)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi