Perbandingan Sistem Keamanan iOS vs Android

3 hours ago 2

Selular.ID – Perbandingan keamanan antara sistem operasi iOS milik Apple Inc. dan Android besutan Google LLC kembali menjadi sorotan pada 2025, seiring meningkatnya ancaman siber terhadap perangkat seluler secara global.

Kedua perusahaan sama-sama mengklaim platform mereka dirancang dengan pendekatan keamanan berlapis, namun memiliki arsitektur, model distribusi aplikasi, dan mekanisme pembaruan yang berbeda.

Apple sejak awal mengembangkan iOS dengan pendekatan ekosistem tertutup. Distribusi aplikasi dilakukan secara terpusat melalui App Store yang dikelola langsung oleh Apple.

Setiap aplikasi melewati proses kurasi dan peninjauan sebelum tersedia bagi pengguna. Selain itu, Apple mengendalikan penuh pembaruan sistem operasi untuk seluruh lini iPhone yang masih didukung, sehingga patch keamanan dapat dikirimkan secara serentak.

Di sisi lain, Google mengembangkan Android dengan pendekatan sumber terbuka (open source) melalui Android Open Source Project (AOSP).

Sistem ini digunakan oleh berbagai produsen perangkat dengan penyesuaian masing-masing. Distribusi aplikasi utama dilakukan lewat Google Play Store, namun Android juga memungkinkan instalasi aplikasi dari sumber lain.

Model ini memberi fleksibilitas lebih luas, tetapi menghadirkan tantangan tambahan dalam pengawasan keamanan.

Dari sisi arsitektur, iOS menerapkan sistem sandboxing yang membatasi akses aplikasi terhadap data dan sistem inti perangkat.

Setiap aplikasi berjalan di ruang terisolasi sehingga tidak dapat mengakses data aplikasi lain tanpa izin eksplisit dari pengguna.

Apple juga mengintegrasikan enkripsi perangkat secara default dan memanfaatkan chip keamanan khusus seperti Secure Enclave untuk melindungi data biometrik dan informasi sensitif.

Android juga menerapkan mekanisme sandboxing berbasis kernel Linux. Setiap aplikasi memiliki user ID (UID) unik yang membatasi aksesnya.

Google memperkuat sistem ini melalui Google Play Protect, layanan pemindaian keamanan yang secara otomatis memeriksa aplikasi di Google Play Store maupun yang terpasang di perangkat.

Play Protect dirancang untuk mendeteksi malware, perilaku mencurigakan, dan aplikasi berbahaya secara berkala. Perbedaan signifikan terlihat pada mekanisme pembaruan. Apple mendistribusikan pembaruan iOS secara langsung ke perangkat yang kompatibel pada hari yang sama.

Hal ini membuat tingkat adopsi versi terbaru relatif tinggi dalam waktu singkat. Sebaliknya, pada ekosistem Android, distribusi pembaruan sistem utama bergantung pada produsen perangkat dan operator seluler.

Untuk mengatasi fragmentasi tersebut, Google memperkenalkan pembaruan modular melalui Project Mainline yang memungkinkan komponen keamanan tertentu diperbarui langsung lewat Google Play tanpa menunggu pembaruan sistem penuh.

Dalam konteks ancaman siber, laporan berbagai perusahaan keamanan siber global secara konsisten menunjukkan bahwa malware lebih banyak ditemukan pada perangkat Android.

Faktor yang memengaruhi antara lain skala distribusi perangkat Android yang lebih besar secara global serta fleksibilitas instalasi aplikasi dari luar toko resmi.

Namun demikian, perangkat iOS juga tidak sepenuhnya kebal terhadap serangan. Kasus eksploitasi zero-day dan spyware tingkat lanjut yang menargetkan iPhone tetap ditemukan, terutama pada serangan yang menyasar individu atau institusi tertentu.

Regulasi juga mulai memengaruhi lanskap keamanan kedua platform. Di kawasan Uni Eropa, implementasi Digital Markets Act (DMA) mendorong Apple membuka opsi distribusi aplikasi alternatif di wilayah tersebut.

Kebijakan ini berpotensi mengubah model distribusi tertutup yang selama ini menjadi salah satu pilar keamanan iOS. Apple menyatakan tetap menerapkan persyaratan keamanan dan notarisasi aplikasi untuk meminimalkan risiko.

Google, di sisi lain, terus memperketat kebijakan Google Play Store dengan memperbarui aturan privasi data dan pembatasan izin aplikasi.

Perusahaan juga memperluas program bug bounty untuk mendorong peneliti keamanan melaporkan celah sebelum dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab.

Secara teknis, baik iOS maupun Android mengandalkan kombinasi enkripsi, otentikasi biometrik, kontrol izin aplikasi, serta pembaruan keamanan berkala.

Perbedaan utama terletak pada filosofi ekosistem: Apple mengedepankan kontrol terpusat dan integrasi perangkat keras-perangkat lunak, sementara Google mengusung keterbukaan dan kolaborasi dengan banyak mitra manufaktur.

Dengan meningkatnya ketergantungan pada perangkat seluler untuk transaksi keuangan, komunikasi bisnis, hingga penyimpanan data pribadi, keamanan menjadi faktor strategis bagi Apple dan Google.

Kedua perusahaan terus memperbarui sistem dan kebijakan mereka sebagai respons terhadap dinamika ancaman siber global.

Baca Juga:Android 16 Rilis, Bawa Fitur AI dan Keamanan yang Lebih Canggih

Ke depan, efektivitas perlindungan tidak hanya ditentukan oleh desain sistem operasi, tetapi juga oleh kecepatan pembaruan, kepatuhan pengembang aplikasi terhadap standar keamanan, serta kesadaran pengguna dalam menjaga perangkat mereka tetap mutakhir.

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi