FAJAR.CO.ID - Di tengah ketenangan sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, Dokter Tifa memilih untuk menarik diri dari hiruk-pikuk publik dan fokus pada ibadah. Namun, meski demikian, ia tidak bisa menutup mata terhadap perkembangan isu penting yang melibatkan Rismon Hasiholan Sianipar, khususnya langkah Rismon mengajukan restorative justice kepada Presiden Joko Widodo di Solo.
Dokter Tifa menegaskan bahwa dirinya menyesalkan keputusan tersebut dan memilih untuk tetap berada di jalur perjuangan yang diyakininya. "Saya memilih memusatkan diri pada ibadah, sholat, tadarus, dan lebih banyak berdiam di rumah," katanya saat mengeluarkan pernyataan tertulis.
Penyesalan atas Langkah Restorative Justice
Dokter Tifa secara tegas menyatakan sikapnya yang berbeda dengan Rismon. Ia menilai langkah restorative justice yang diambil Rismon tidak mencerminkan karakter sosok yang selama ini dikenal berani, blak-blakan, dan memiliki analisis kuat.
"Terus terang, saya menyesalkan langkah tersebut," jelasnya, menegaskan bahwa ia tidak akan memilih jalan yang menurutnya lebih rendah tersebut. Perubahan sikap Rismon ini pun dianggapnya cukup mengejutkan dan tidak sesuai dengan citra yang selama ini dikenalnya.
Sorotan terhadap Tekanan Halus dalam Lingkar Kekuasaan
Lebih lanjut, Dokter Tifa mengungkapkan bahwa tekanan yang dialami seseorang dalam situasi tertentu tidak selalu berbentuk ancaman langsung. Ia menyebutkan bahwa tekanan sering kali hadir dalam bentuk halus seperti bujukan atau kompromi yang sulit dikenali.
"Tekanan itu bisa berupa ancaman kasar, tetapi sering kali lebih kuat dalam bentuk halus: iming-iming dan kompromi," bebernya. Ia juga menyinggung berbagai isu yang menyeret nama Rismon, termasuk polemik terkait ijazah akademik dan rumor yang beredar di publik, yang menurutnya merupakan beban berat bagi siapa pun.


















































