Polemik Film Pesta Babi Makin Ramai, Dandhy Laksono Minta Publik Tak Hakimi Mama Yasinta

4 hours ago 1

Jakarta -

Polemik yang melibatkan Mama Yasinta Moiwend dan film dokumenter Pesta Babi masih menjadi perbincangan di media sosial. Di tengah ramainya komentar publik, sutradara film tersebut, Dandhy Laksono, akhirnya memberikan tanggapan melalui akun Threads pribadinya pada Senin (25/5).

Alih-alih membela diri atau menjelaskan kontroversi yang berkembang, Dandhy justru mengajak masyarakat untuk tidak terburu-buru menghakimi Mama Yasinta. Menurutnya, publik tidak pernah benar-benar mengetahui situasi dan kondisi yang sedang dihadapi perempuan adat asal Papua Selatan tersebut.

"Kawan-kawan semua, kita tak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dialami Mama Yasinta Moiwend di pedalaman Papua sana. Apa pun yang muncul di media sosial, sepertinya kita perlu menahan diri untuk tidak menghakimi beliau," tulis Dandhy.

Ia juga menegaskan bahwa setiap orang memiliki hak untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri. Karena itu, menurut Dandhy, keputusan yang diambil seseorang seharusnya tetap dihormati.


"Bahkan jika semua yang disampaikan murni atas kehendak sendiri, bukankah setiap orang berhak membuat pilihan?" lanjutnya.

Pernyataan Dandhy muncul setelah video Mama Yasinta Moiwend viral di berbagai platform media sosial. Dalam video tersebut, perempuan berusia 61 tahun yang berasal dari Distrik Ilwayab, Kampung Wogekel, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, mengaku kecewa karena merasa kemunculannya dalam film Pesta Babi dilakukan tanpa izin dan tanpa sepengetahuannya.

"Akhirnya saya sudah telanjur viral di mana-mana sampai mereka sudah buat film Pesta Babi tanpa izin dari saya, tanpa sepengetahuan dari saya. Itu yang saya kecewa sekali sekarang dengan mereka," ujar Yasinta.

Mama Yasinta juga mempertanyakan alasan dirinya ditampilkan dalam film tersebut tanpa persetujuan yang menurutnya seharusnya diberikan terlebih dahulu.

"Apa saya ini boneka atau ukiran Asmat yang ditampilkan tanpa pengetahuan saya, tanpa izin dari saya?" katanya.

Dalam video yang sama, Mama Yasinta menyatakan dirinya tidak lagi berafiliasi dengan LBH Papua Pusaka. Ia juga mengaku kini mendukung perusahaan yang beroperasi di wilayahnya dan berharap ketiga anaknya dapat memperoleh kesempatan kerja.

Sementara itu, Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita merupakan film dokumenter investigatif yang disutradarai Dandhy Laksono bersama Cypri Paju Dale. Film tersebut mengangkat kisah perjuangan masyarakat adat di Papua Selatan, termasuk suku Malind, Yei, Awyu, dan Muyu, dalam mempertahankan wilayah adat mereka di tengah ekspansi berbagai proyek pembangunan berskala besar.

Dokumenter berdurasi sekitar 95 menit itu menyoroti rencana pembukaan lahan dalam skala luas di Papua untuk perkebunan dan kawasan industri pangan. Film tersebut pertama kali diputar dalam gala premiere di Taman Ismail Marzuki pada April 2026 sebelum kemudian diputar dalam sejumlah forum diskusi dan kegiatan akademik.

Judul Pesta Babi sendiri diambil dari tradisi masyarakat Papua yang identik dengan acara penyembelihan babi sebagai simbol kebersamaan. Dalam film ini, istilah tersebut digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan dampak pembangunan yang dinilai hanya menguntungkan pihak tertentu.

Hingga kini, perdebatan mengenai film tersebut masih terus berlangsung di ruang publik. Di tengah situasi itu, Dandhy memilih mengajak masyarakat untuk melihat persoalan secara lebih bijak dan tidak terburu-buru menjatuhkan penilaian terhadap pihak mana pun yang terlibat.

(yoa/and)

Loading ...

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi