Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
Muliadi Saleh — Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
Di sebuah diskusi subuh. Pada sesi tanya jawab, seorang jamaah bertanya kepada ustaz yang memberikan ceramah.
Dengan nada ragu namun jujur ia berkata, "Ustaz, bagaimana saya bisa belajar merasakan empati kepada mereka yang lapar, sementara saya sendiri kalau puasa justru tidak lagi merasa lapar. Biasa saja."
Pertanyaan itu melayang di udara seperti burung yang mencari tempat hinggap. Tidak keras, tetapi cukup untuk membuat orang-orang di ruangan itu berpikir.
Sejak lama kita diajarkan bahwa puasa adalah cara paling sederhana untuk memahami penderitaan orang miskin. Menahan lapar agar kita merasakan apa yang mereka rasakan. Tetapi kehidupan sering lebih kompleks dari rumus-rumus yang sederhana.
Ada orang yang di hari-hari awal Ramadhan merasakan perutnya bergejolak, tetapi setelah beberapa hari tubuh menjadi tenang. Lapar tidak lagi terasa seperti tamu yang mengetuk keras pintu kesadaran. Ia datang pelan, bahkan kadang hampir tak disadari.
Ketika itu terjadi, sebagian orang merasa kehilangan pelajaran lapar dari puasa.
Tapi mungkin di situlah pelajaran yang lebih dalam sedang dimulai.
Puasa tidak selalu bekerja di perut. Kadang ia bekerja di ruang yang lebih substantif . Di hati manusia.
Ada orang yang lapar di tubuhnya tetapi hatinya tetap keras. Ia menahan makan, tetapi tidak menahan ego. Ia menunggu waktu berbuka, tetapi tidak pernah membuka hatinya kepada orang lain.
Ada pula orang yang tubuhnya tidak terlalu merasakan lapar, tetapi hatinya justru menjadi lebih peka. Ia mulai melihat dunia dengan mata yang berbeda. Ia menyadari bahwa di balik kenyamanan hidupnya ada banyak peristiwa yang tidak pernah sampai ke meja makan.


















































