Selular.ID – Puluhan robot humanoid buatan China mencuri perhatian dunia setelah mencatatkan performa luar biasa dalam ajang half marathon di Beijing, Minggu 19 April.
Dalam lomba sejauh 21 kilometer itu, beberapa robot bahkan mampu mengungguli pelari manusia profesional. Ini menandai percepatan signifikan dalam perkembangan teknologi robotika.
Ajang yang digelar di Beijing E-Town ini menjadi panggung unjuk kemampuan terbaru sektor robot humanoid.
Selain itu, juga mempertegas ambisi China untuk memimpin industri masa depan berbasis kecerdasan buatan.
Baca juga:
- Honor Perkenalkan Robot Humanoid Perdana Pekan Depan
- China Kerahkan Robot Humanoid AI untuk Mengatur Lalu Lintas
Robot Lebih Cepat dari Rekor Dunia Manusia
Robot pemenang dikembangkan oleh perusahaan teknologi Honor, yang berhasil mencatat waktu 50 menit 26 detik.
Catatan ini melampaui rekor dunia half marathon manusia yang sebelumnya dipegang oleh Jacob Kiplimo.
Tak hanya satu, tiga posisi teratas seluruhnya diisi oleh robot dari tim Honor, yang semuanya mampu bernavigasi secara mandiri tanpa kendali jarak jauh.
Performa ini kontras dengan edisi sebelumnya pada 2025, di mana banyak robot gagal finis dan waktu terbaik masih jauh di bawah pelari manusia.
Kemajuan Teknologi yang Terlihat Nyata
Tahun ini, jumlah peserta melonjak drastis dari sekitar 20 tim menjadi lebih dari 100 tim.
Hampir separuh robot berhasil menyelesaikan lintasan dengan kemampuan navigasi otonom, sebuah lompatan besar dibanding tahun sebelumnya.
Robot-robot tersebut dirancang menyerupai anatomi pelari manusia, termasuk penggunaan kaki sepanjang 90–95 cm serta sistem pendingin cair yang diadaptasi dari teknologi smartphone.
“Berlari lebih cepat mungkin terlihat tidak terlalu penting, tetapi ini memungkinkan transfer teknologi ke aspek lain seperti keandalan struktur dan sistem pendinginan,” ujar salah satu insinyur tim.
Bukan Sekadar Balapan, Tapi Uji Masa Depan
Meski terlihat seperti ajang hiburan teknologi, para ahli menilai kemampuan yang ditunjukkan robot ini memiliki implikasi luas—mulai dari industri manufaktur hingga pekerjaan berisiko tinggi.
Namun, tantangan besar masih ada. Robot humanoid saat ini dinilai belum mampu menyamai fleksibilitas, persepsi lingkungan, dan ketangkasan manusia dalam pekerjaan kompleks di dunia nyata.
Pemerintah China secara agresif mendorong pengembangan robot humanoid melalui berbagai kebijakan, mulai dari subsidi hingga pembangunan infrastruktur industri.
Ajang seperti ini juga menjadi bagian dari strategi besar untuk memperkuat dominasi teknologi, termasuk yang sempat ditampilkan dalam acara nasional seperti gala Tahun Baru CCTV.
Di mata publik, perkembangan ini bukan sekadar kemajuan teknis, tetapi gambaran masa depan.
Seorang mahasiswa teknik yang menyaksikan lomba tersebut menyebut performa robot sudah “sangat mengesankan” mengingat teknologi AI masih relatif baru berkembang.
Sementara itu, generasi muda mulai terinspirasi. Seorang pelajar bahkan mengaku ingin menekuni robotika setelah melihat langsung kemampuan robot di lintasan.
Meski komersialisasi skala besar masih dalam tahap awal, tren ini menunjukkan arah yang jelas: robot humanoid akan memainkan peran penting dalam berbagai sektor.
















































