Jakarta, CNN Indonesia --
Bank Indonesia (BI) kembali memperketat pembelian dolar Amerika Serikat (AS) di pasar domestik tanpa dokumen underlying.
Setelah sebelumnya memangkas batas transaksi dari US$100 ribu menjadi US$50 ribu per orang per bulan, bank sentral kini menyiapkan penurunan lanjutan menjadi hanya US$25 ribu per orang per bulan.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan langkah itu menjadi salah satu kebijakan tambahan yang disiapkan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan pasar keuangan global.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang tadi pembatasan pembelian dolar yang sudah kami turunkan dari US$100 ribu menjadi US$50 ribu, kami persiapkan kami akan turunkan lagi menjadi US$25 ribu sehingga pembelian dolar sampai dengan atau di atas US$25 ribu itu harus pakai underlying," ujar Perry dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (5/5).
Artinya, masyarakat maupun pelaku usaha yang ingin membeli dolar AS dalam jumlah US$25 ribu atau lebih per bulan nantinya wajib menyertakan dokumen yang menunjukkan tujuan transaksi, seperti kebutuhan impor, pembayaran utang, pendidikan, kesehatan, atau aktivitas bisnis lain yang sah.
Kebijakan ini memperketat aturan yang baru saja diterapkan BI pada April 2026. Sebelumnya, bank sentral telah menurunkan ambang batas pembelian dolar tanpa underlying dari US$100 ribu menjadi US$50 ribu per orang per bulan sebagai bagian dari upaya menahan gejolak rupiah.
Perry menegaskan kebijakan tersebut sudah dikoordinasikan bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk memperkuat pasokan valas domestik dan menekan pembelian dolar yang bersifat spekulatif.
"Kami sudah keluarkan adalah pembatasan pembelian dolar di pasar domestik tanpa underlying. Yang dulunya US$100 ribu dolar per orang per bulan, kita turunkan US$50 ribu dolar per orang per bulan. Itu yang kami langsung koordinasi dengan KSSK untuk penguatan-penguatan," ujarnya.
Selain memperketat pembelian dolar, BI juga menyiapkan strategi diversifikasi transaksi valas melalui penguatan penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional.
Perry menyebut salah satu yang mulai berkembang adalah pasar transaksi yuan China terhadap rupiah di dalam negeri. Menurut dia, penggunaan local currency settlement antara Indonesia dan China yang makin besar akan membantu mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
"Termasuk di dalam negeri itu adalah pasar yuan, Chinese yuan dengan rupiah sudah berkembang di dalam negeri karena local currency kita dengan China sama yuan China sama rupiah itu sangat tinggi," tutur Perry.
Ia mengatakan pembentukan pasar domestik yuan-rupiah menjadi salah satu instrumen untuk memperluas pilihan mata uang transaksi sekaligus meredam tekanan permintaan dolar.
"Sehingga itu mengurangi atau melakukan diversifikasi dari dolar sehingga itu bisa memperkuat," lanjutnya.
Rencana BI menurunkan lagi batas pembelian dolar muncul di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang pada perdagangan Selasa sore ditutup di level Rp17.424 per dolar AS.
Posisi tersebut menjadi salah satu titik terlemah rupiah sepanjang sejarah perdagangan modern.
(del/sfr)
Add
as a preferred source on Google

8 hours ago
6

















































