Rusia Disebut Tawarkan Setop Pertukaran Intelijen dengan Iran ke AS

7 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Rusia Vladimir Putin disebut menawarkan menghentikan kerja sama pertukaran intelijen dengan Iran, jika Amerika Serikat (AS) melakukan hal yang sama dengan Ukraina, menurut sebuah laporan pada Jumat (20/3).

Dikutip dari Anadolu Agency, usulan tersebut diajukan oleh Utusan Khusus Putin Kirill Dmitriev saat bertemu dengan Steve Witkoff, rekan sejawatnya dari AS dan menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner di Miami, Florida pada pekan lalu, demikian dilaporkan oleh media Politico Europe, mengutip dua sumber anonim.

Tawaran tersebut ditolak oleh pemerintahan Trump. Namun, hal tersebut tetap memicu kekhawatiran di kalangan pejabat Eropa bahwa Putin mencoba untuk menciptakan perpecahan di antara sekutu NATO.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seorang pejabat Uni Eropa yang berbicara kepada Politico Europe menggambarkan tawaran Putin sebagai hal yang 'keterlaluan'.

Pada Jumat lalu, Trump mengecam aliansi transatlantik tersebut. Ia mengatakan bahwa tanpa AS, aliansi itu menjadi 'macan kertas' dan mengkritik keras penolakan sekutu untuk membantu upayanya membuka kembali Selat Hormuz.

"Mereka tidak mau bergabung dalam pertempuran untuk menghentikan Iran yang memiliki senjata nuklir. Sekarang pertempuran itu telah dimenangkan secara militer, dengan sedikit bahaya bagi mereka, mereka mengeluh tentang harga minyak tinggi yang terpaksa mereka bayar, tetapi tidak mau membantu membuka Selat Hormuz, manuver militer sederhana yang merupakan satu-satunya alasan tingginya harga minyak," ujar Trump di platform Truth Social miliknya.

"Sangat mudah bagi mereka untuk melakukannya, dengan risiko yang sangat kecil. Pengecut, dan kita akan mengingatnya!," lanjutnya.

Ketegangan di Timur Tengah meningkat sejak Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari yang sejauh ini menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei.

Iran telah membalas dengan serangan drone dan rudal di seluruh wilayah dan secara efektif menutup Selat Hormuz untuk sebagian besar lalu lintas komersial, rute transit minyak utama yang biasanya menangani sekitar 20 juta barel per hari dan sekitar 20 persen dari perdagangan gas alam cair global.

(dis/sfr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi