Samsung Mulai Beli Layar Buatan Tiongkok Untuk Ponsel Mid-Range

2 hours ago 1

Selular.ID –Samsung dilaporkan mulai membeli panel layar dari pemasok asal China untuk digunakan pada jajaran smartphone kelas menengah (mid-range).

Perubahan ini muncul di tengah dinamika industri komponen display dan tekanan biaya produksi global, menurut laporan industri teknologi terbaru.

Keputusan Samsung ini mencakup pemesanan panel-panel layar dari produsen China seperti BOE Technology Group dan kemungkinan pemasok lain seperti CSOT (China Star Optoelectronics Technology) untuk beberapa model di lini Galaxy seri A dan seri FE.

Langkah ini menjadi sinyal penting bahwa Samsung membuka diri terhadap rantai pasok global yang lebih luas, terutama di segmen mid-range di mana persaingan harga menjadi faktor krusial.

Samsung sebelumnya dikenal memproduksi sebagian besar panel layar secara internal melalui divisi Samsung Display, yang berbasis di Korea dan Vietnam.

Panel buatan internal ini terutama digunakan pada produk-produk flagship Samsung, termasuk seri Galaxy S26, yang masih mengandalkan teknologi Dynamic LTPO AMOLED 2X** dengan tingkat kecerahan tinggi dan *refresh rate* adaptif.

Namun, laporan terbaru menunjukkan pergeseran strategi di mana Samsung melonggarkan ketergantungan eksklusif pada panel produksi internal.

Pergeseran ini terpantau setelah Samsung menghadapi tekanan kenaikan biaya produksi komponen lain seperti memori dan chip, mendorong perusahaan mempertimbangkan opsi panel layar dari sumber alternatif yang dinilai lebih kompetitif dari segi harga.

BOE Technology Group, salah satu calon pemasok utama panel China, merupakan perusahaan komponen elektronik yang memproduksi berbagai jenis panel termasuk LCD dan OLED, serta display fleksibel yang semakin populer di industri smartphone modern.

BOE dalam beberapa tahun terakhir memantapkan diri sebagai salah satu produsen panel terbesar di dunia dalam volume produksi.

Penggunaan panel dari pemasok China ini diperkirakan akan mulai diterapkan pada model-model Galaxy kelas menengah, termasuk seri Galaxy A seperti Galaxy A37 dan Galaxy A57 yang tengah masuk fase pra-peluncuran di beberapa pasar global. Model-model tersebut diprediksi mengusung display dengan dukungan resolusi FHD+ dan teknologi OLED yang lebih efisien biaya produksi.

Samsung mengambil langkah ini untuk menjaga daya saingnya di segmen mid-range, di mana persaingan dengan merek-merek seperti Xiaomi, vivo, dan OPPO semakin ketat.

Harga jual yang kompetitif merupakan salah satu kunci utama untuk mempertahankan pangsa pasar di level volume tinggi, sementara margin keuntungan tetap diperhitungkan dengan cermat.

Laporan industri juga menunjukkan bahwa pergeseran Samsung ke panel China bukan berarti komitmen terhadap kualitas display turun.

Samsung tetap menerapkan standar kualitas yang ketat dan kemungkinan akan menguji kelayakan panel dari pemasok eksternal agar kompatibel dengan software dan hardware di perangkat Galaxy.

Perusahaan juga diperkirakan akan menerapkan kombinasi panel internal dan eksternal tergantung pada segmen produk dan pasar.

Aspek lain yang turut memengaruhi keputusan ini adalah dinamika produksi panel global, di mana kapasitas produksi panel OLED semakin tersebar di luar Korea Selatan.

Produsen panel China seperti BOE telah meningkatkan kapasitas globalnya dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus menambah kemampuan manufaktur panel OLED dan panel fleksibel yang relevan dengan kebutuhan industri mid-range saat ini.

Tindakan Samsung ini mencerminkan tren dalam industri smartphone yang semakin mempertimbangkan efisiensi biaya tanpa mengorbankan kualitas pengalaman visual.

Tren ini juga muncul di tengah pembicaraan eksternal soal diversifikasi rantai pasok komponen elektronik, termasuk kemungkinan kerja sama lebih lanjut antara Samsung Display dan BOE pada masa depan untuk lini produk tertentu yang lebih luas.

Implikasi ke depan, langkah Samsung membeli panel layar China berpotensi mempercepat penetrasi teknologi display berkualitas di perangkat kelas menengah dengan harga lebih terjangkau, sekaligus memberi tekanan kompetitif baru di pasar ponsel global.

Baca Juga:Belum Juga Masuk Indonesia, Samsung Hentikan Produksi Galaxy Z TriFold

Strategi ini juga menunjukkan perubahan taktik manufaktur yang lebih fleksibel dalam menghadapi tantangan biaya komponen dan dinamika pasar global.

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi