Rismon Hasiholan Sianipar.
FAJAR.CO.ID, JAKARTA - Rismon Hasiholan Sianipar, ahli digital forensik yang menimbulkan kontroversi dengan tudingan ijazah palsu mantan presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, menghadapi berbagai intimidasi dan tekanan serius sepanjang 2025.
Dari catatan dan temuan jejak digital, sejak meneliti dan mengungkap kejanggalan ijazah Jokowi, serangkaian peristiwa intimidasi dialaminya bahkan disebut ada yang mengancam keselamatannya. Mulai dari perusakan mobil hingga tekanan psikologis yang berat hingga dilaporkan ke polisi.
Ancaman dan Kerusakan Fisik yang Dialami Rismon
Rismon mengungkapkan bahwa mobilnya dirusak dua kali dalam satu tahun oleh orang tidak dikenal. Kerusakan pertama terjadi pada kaca depan sebelah kiri, kemudian beberapa minggu setelahnya, kaca depan sebelah kanan dan pintu tengah juga dirusak. Selain itu, saat berada di Bali, ban mobilnya bahkan disayat.
"Mobil saya dirusak secara berulang dan ban saya disayat saat di Bali," katanya menegaskan mengenai bentuk intimidasi fisik yang dialaminya beberapa waktu lalu saat tegas meneliti kejanggalan ijazah Jokowi.
Proses Hukum dan Tekanan Psikologis yang Menimpa
Tidak hanya mengalami kerusakan fisik, Rismon juga menjadi tersangka dalam kasus pencemaran nama baik yang dilaporkan oleh pendukung Jokowi. Tekanan psikologis berupa hinaan dan caci maki terus menghantui akibat tudingannya terhadap keaslian ijazah tersebut.
"Saya mendapatkan hinaan dan caci maki yang sangat berat setelah mengungkapkan dugaan tersebut," jelasnya saat berbicara mengenai dampak psikologis yang dirasakan.
Pengakuan dan Permintaan Maaf Rismon
Setelah menghadapi berbagai intimidasi dan laporan balik, termasuk laporan terhadap ijazahnya sendiri, Rismon akhirnya menyampaikan permintaan maaf dan mengakui kesalahannya atas temuan kejanggalan ijazah tersebut.
















































