Prof Marzuki DEA
FAJAR.CO.ID — Rencana pemerintah menghentikan sementara program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama libur Lebaran menuai sorotan dari kalangan ekonom. Kebijakan ini dinilai belum cukup kuat untuk meredam tekanan fiskal negara.
Pakar ekonomi dari Universitas Hasanuddin, Prof Marzuki DEA, menilai langkah tersebut memang patut diapresiasi, namun dampaknya dianggap tidak signifikan terhadap kondisi keuangan negara.
Menurutnya, situasi ekonomi global saat ini tengah bergejolak akibat konflik geopolitik, khususnya ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
“Hal ini menyebabkan kenaikan harga BBM yang sulit dihindari, serta gangguan distribusi barang dan input industri,” ujar Marzuki, Kamis (19/3/2026).
Defisit APBN Terancam Tembus Batas Aman
Marzuki mengungkapkan, tekanan global tersebut berdampak langsung terhadap kondisi fiskal Indonesia. Defisit APBN hingga Februari 2026 disebut semakin mendekati batas maksimal.
Jika tidak ada penyesuaian kebijakan, defisit berpotensi melampaui ambang batas aman 3 persen.
“APBN bisa semakin berat, bahkan defisitnya bisa melampaui aturan 3 persen,” tegasnya.
Ia menilai pemerintah perlu mengevaluasi ulang berbagai program prioritas yang menyedot anggaran besar, namun belum memberikan dampak langsung dalam jangka pendek.
Penghentian Sementara MBG Dinilai Hanya Solusi Darurat
Rencana penghentian sementara program MBG selama periode Lebaran diperkirakan hanya mampu menghemat sekitar Rp5 triliun.
Namun, menurut Marzuki, langkah tersebut bersifat sementara dan tidak menyentuh akar persoalan fiskal.
“Penghentian sementara ini hanya solusi darurat, dampaknya tidak struktural,” jelasnya.


















































