CNN Indonesia
Senin, 27 Apr 2026 17:00 WIB
Ilustrasi. Ada alasan kenapa orang suka meramal, karena mereka penasaran dengan nasib masa depan. (iStock/undefined undefined)
Jakarta, CNN Indonesia --
Tahu masa depan, apakah itu benar-benar bisa menenangkan hati, atau justru memicu kecemasan? Jawabannya tidak sesederhana 'ya' atau 'tidak'. Dalam banyak kasus, efeknya sangat bergantung pada apa yang kita cari, serta bagaimana informasi itu disampaikan dan dimaknai.
Psikolog Klinis dari Tabula Rasa, Arnold Lukito, menjelaskan bahwa manusia tidak selalu ingin mengetahui masa depannya. Temuan ini sejalan dengan riset Gerd Gigerenzer dan Rocio Garcia-Retamero dalam studi berjudul Cassandra's Regret: The Psychology of Not Wanting to Know (2017) yang dipublikasikan di jurnal Psychological Review.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam dua studi yang melibatkan lebih dari 2.000 orang dewasa di Jerman dan Spanyol, sekitar 85-90 persen partisipan justru tidak ingin mengetahui peristiwa negatif yang akan terjadi dalam hidup mereka. Menariknya, 40-70 persen responden juga memilih untuk tidak tahu bahkan terhadap peristiwa positif.
"Hanya sekitar 1 persen yang secara konsisten ingin mengetahui masa depan. Fenomena ini dikenal sebagai deliberate ignorance, kondisi ketika ketidaktahuan justru terasa lebih menenangkan dibandingkan kepastian," kata Arnold saat dihubungi CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.
Ilusi ketenangan dari ramalan
Dalam konteks tarot atau berbagai bentuk ramalan, yang sebenarnya memberi rasa tenang bukanlah 'pengetahuan tentang masa depan' itu sendiri. Lebih dari itu, rasa tenang muncul karena seseorang merasa hidupnya memiliki struktur, makna, dan arah yang bisa dipahami.
Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai sense of coherence, perasaan bahwa hidup dapat dimengerti, dikelola, dan memiliki arti.
Namun, efek ini tidak selalu bertahan lama. Jika hasil ramalan terasa negatif atau ambigu, justru bisa memicu kecemasan. Bahkan, ada risiko munculnya self-fulfilling prophecy, yakni ketika seseorang tanpa sadar bertindak sesuai ramalan buruk yang ia terima, hingga akhirnya hal tersebut benar-benar terjadi.
Dengan kata lain, ketenangan dari praktik divinasi seperti tarot bersifat rapuh. Ia sangat bergantung pada bagaimana pesan tersebut dibingkai dan diinterpretasikan.
Otak manusia memang 'mesin prediksi'
Rasa penasaran terhadap masa depan sejatinya bukan sekadar dorongan iseng. Secara biologis, otak manusia memang dirancang untuk terus memprediksi.
Dalam neuropsikologi, terdapat konsep predictive processing yang menjelaskan bahwa otak terus-menerus membuat perkiraan tentang apa yang akan terjadi, lalu membandingkannya dengan kenyataan.
"Proses ini membantu manusia bertahan hidup dengan mengantisipasi kemungkinan bahaya," kata dia.
Ketidakpastian, di sisi lain, sering kali dipersepsikan sebagai ancaman. Bagian otak yang disebut amigdala, yang berperan dalam mengatur emosi, merespons ketidakpastian dengan cara yang mirip saat menghadapi bahaya fisik.
Tak heran, keinginan untuk 'mengintip' masa depan menjadi sangat kuat, terutama ketika seseorang berada dalam situasi penuh ketidakpastian.
Mengapa kita sulit berdamai dengan ketidakpastian?
Dalam psikologi, ada istilah intolerance of uncertainty. Ini merujuk pada kecenderungan seseorang merasa tidak nyaman terhadap hal-hal yang tidak pasti.
Semakin tinggi tingkat ketidakpastian dalam hidup, baik terkait karier, relasi, maupun kondisi ekonomi, semakin besar pula dorongan untuk mencari kepastian, apa pun bentuknya. Termasuk melalui tarot, astrologi, atau ramalan lainnya.
Kondisi ini terasa semakin relevan di era sekarang. Banyak orang, khususnya generasi muda, hidup di tengah ketidakpastian struktural: pasar kerja yang dinamis, krisis iklim, inflasi, hingga disrupsi teknologi seperti kecerdasan buatan.
Secara psikologis, mencari pegangan dalam situasi seperti ini adalah hal yang wajar.
Bukan fenomena baru, hanya mediumnya yang berbeda
Meski tampak marak di kalangan generasi Z, ketertarikan pada ramalan sebenarnya bukan fenomena baru. Sepanjang sejarah, manusia selalu mencari cara untuk memahami masa depan.
Kata Arnold, di Yunani kuno, ada praktik oracle. Dalam tradisi Jawa, dikenal primbon. Sementara di Tiongkok, ada I Ching. Astrologi pun hadir di berbagai kebudayaan dunia.
"Yang berubah hanyalah mediumnya. Jika dulu orang datang ke dukun atau membaca kitab, kini cukup membuka media sosial atau berkonsultasi dengan pembaca tarot secara online," kata dia.
Generasi Z terlihat lebih aktif bukan karena mereka lebih 'percaya', melainkan karena mereka lebih akrab dengan teknologi yang memudahkan akses terhadap praktik-praktik tersebut.
Keinginan untuk mengetahui masa depan adalah bagian dari naluri manusia yang paling mendasar yakni mencari rasa aman di tengah ketidakpastian. Namun, penting untuk diingat, ketenangan sejati tidak selalu datang dari mengetahui apa yang akan terjadi, melainkan dari bagaimana kita merespons apa pun yang datang.
(tis/tis)
Add
as a preferred source on Google

4 hours ago
1

















































