CNN Indonesia
Sabtu, 28 Mar 2026 09:35 WIB
Sejumlah turis saat mengunjungi Sensoji Temple di Tokyo, Jepang. (AFP/YUICHI YAMAZAKI)
Jakarta, CNN Indonesia --
Ramai tren di media sosial "Japan Effect", menyindir Jepang sebagai destinasi yang terlalu diromantisasi. Banyak orang bereaksi negatif terhadap fenomena "Demam Jepang" yang tengah berlangsung akhir-akhir ini, karena konten citra Jepang yang berlebihan dan tidak realistis.
Jepang dinobatkan sebagai destinasi paling favorit di dunia dalam penghargaan Conde Nast Traveler Readers' Choice Awards 2025. Menyambut 42,7 juta turis tahun lalu, diyakini wisatawan berbondong datang ke Jepang karena nilai yen yang sedang melemah.
Di samping itu karena hal ini, Jepang mencetak rekor kunjungan turis tahun lalu, disertai dengan kelebihan wisatawan (overtourism). Penduduk di kota besar seperti Kyoto dan di sejumlah tempat wisata populer mulai jengah, karena kesal melihat kerumunan turis yang dinilai 'Demam Jepang'.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka mengambil selfie dan video di semua sudut, menambahkan musik bergaya anime, menggunakan filter yang bernuansa merah muda, dan membagikannya di media sosial seolah-olah itu adalah liburan impian yang ideal di Jepang.
Seperti dilansir VN Express, konten seperti ini mulai menarik reaksi negatif di media sosial karena dianggap terlalu berlebihan, palsu, dan tidak realistis. YouTuber asal Prancis, Rocky Lozembi menganalisis tren "Japan Effect" ini sebagai sindiran terhadap citra Jepang yang terlalu diromantisasi.
"Intinya adalah untuk mengolok-olok citra 'imut' Jepang secara online, dengan semua klise dan stereotipnya," kata Lozembi kepada AFP. Ia menambahkan, beberapa orang terlalu mencintai Jepang dan memuji secara berlebihan.
Terlebih lagi dengan populernya serial anime maupun film Jepang yang menggambarkan negeri ini begitu indah dan otentik. Ini semakin memicu fenomena 'Demam Jepang', karena banyak wisatawan yang datang untuk memenuhi sejumlah titik lokasi yang ditampilkan sebagai latar film.
Di balik fenomena 'Demam Jepang' yang terlalu melebih-lebihkan Negeri Sakura tersebut, ternyata realita negara tersebut tidak seindah citranya. Terutama dari segi kebersihan, karena justru banyak penolakan yang mengeluhkan hal ini.
Ramai di media sosial warganet khususnya Gen Z yang fokus menguliti gagasan berlebihan bahwa jalanan di Jepang sangat bersih, bahkan diklaim bahwa orang bisa berjalan tanpa sepatu. Padahal, realitanya jalanan Jepang tidak sebersih itu sampai bisa dilewati tanpa alas kaki.
Ada seorang turis mematahkan stigma tersebut dengan membuktikannya sendiri bahwa jalanan di Jepang tetap kotor. Ia berjalan menggunakan kaus kaki putih di jalanan Jepang, kemudian terlihat kotoran yang menempel di kaus kakinya.
"Jepang bersih tapi tidak sebersih itu," ujar pasangan konten kreator asal Amerika Serikat, The Hitobito, sambil menunjukkan kaus kakinya yang kotor setelah berjalan di jalanan Jepang tanpa alas kaki.
Jepang yang disebut terlalu diromantisasi seperti itu membuat banyak turis asing tergiur untuk berkunjung. Ini juga berpengaruh terhadap ledakan pariwisata di sana, saking mengkhawatirkannya bahkan Festival Bunga Sakura dibatalkan tahun ini.
"Orang-orang mengaitkan Jepang dengan visual yang disusun dengan hati-hati. Formalitas Jepang dari kompleksitas bahasa sopan hingga perhatian ekstrem terhadap detail dalam pengemasan mungkin mengejutkan pengunjung.
Tetapi Jepang tidak selalu bersih dan estetik. Itu hanya sebagian dari kenyataan," pungkas Profesor Graduate School of Asia-Pacific Studies Waseda University, Seio Nakajima.
(ana/wiw)
Add
as a preferred source on Google

4 hours ago
3

















































