1 dari 4 Orang Indonesia Alami Obesitas, Ini Penjelasan Dokter

5 hours ago 1

CNN Indonesia

Kamis, 05 Mar 2026 12:00 WIB

Prevalensi obesitas di Indonesia terus meningkat. Dokter menjelaskan obesitas bukan sekadar gaya hidup, melainkan penyakit kronis yang kompleks. Ilustrasi.Tanda bahaya, satu dari empat orang Indonesia ternyata obesitas. (Istockphoto/Fertnig)

Jakarta, CNN Indonesia --

Satu dari empat orang dewasa di Indonesia hidup dengan obesitas. Angka ini menunjukkan bahwa kondisi tersebut bukan lagi sekadar persoalan individu, melainkan telah menjadi masalah kesehatan publik yang semakin mendesak.

Data terbaru menunjukkan prevalensi obesitas di Indonesia meningkat dari 21,8 persen pada 2018 menjadi 23,4 persen pada 2023. Artinya, hampir seperempat populasi dewasa kini menghadapi berbagai risiko kesehatan serius akibat kelebihan berat badan.

Secara global, lebih dari 1 miliar orang hidup dengan obesitas. Jumlah ini bahkan diperkirakan dapat mencapai 4 miliar orang atau sekitar setengah populasi dunia pada 2035.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam paparan pada peringatan World Obesity Day yang diselenggarakan Novo Nordisk, Indonesia disebut berada di peringkat ke-10 sebagai negara dengan jumlah penduduk obesitas tertinggi di dunia.

Dokter spesialis gizi klinik Diana Suganda menegaskan bahwa obesitas merupakan penyakit kronis yang kompleks.

"Secara medis, obesitas merupakan penyakit kronis yang kompleks, bukan sekadar masalah gaya hidup atau kurangnya kemauan. Di dalam tubuh terdapat mekanisme biologis berupa hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang di otak. Namun pada banyak individu, sistem ini tidak berfungsi dengan semestinya," ujar Diana dalam talkshow World Obesity Day 2026 yang diadakan Novo Nordisk, Rabu (4/2).

Ia menjelaskan, kondisi tersebut membuat upaya menurunkan berat badan tidak selalu berhasil jika hanya mengandalkan kemauan atau willpower semata.

"Hal inilah yang menyebabkan upaya penurunan berat badan melalui kemauan keras saja sering kali menemui kegagalan, karena individu tersebut sebenarnya sedang berjuang melawan sistem biologis tubuhnya sendiri," lanjutnya.

Penjelasan tersebut sekaligus mematahkan stigma bahwa obesitas semata-mata disebabkan kurang disiplin atau pola makan berlebihan. Faktor genetik, hormonal, metabolik, hingga lingkungan juga berperan dalam memicu dan mempertahankan kondisi ini.

Dokter spesialis penyakit dalam Vardian Mahardika menambahkan bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan RI telah mengklasifikasikan obesitas sebagai penyakit kronis yang dapat menjadi akar berbagai risiko kesehatan serius.

"Obesitas tidak sesimpel itu. Ini adalah penyakit kronis yang bisa berdampak ke seluruh tubuh kita," kata Vardian.

Menurutnya, obesitas jarang berdiri sendiri. Kondisi ini kerap disertai penyakit penyerta seperti kolesterol tinggi, hipertensi, diabetes tipe 2, hingga penyakit jantung.

Dampaknya juga dapat menjalar ke berbagai organ tubuh. Pada otak, obesitas dapat meningkatkan risiko demensia dan Alzheimer. Sementara pada sistem pernapasan, kondisi ini dapat memicu gangguan seperti obstructive sleep apnea.

Selain itu, obesitas juga berkaitan dengan gangguan fungsi hati berupa fatty liver yang dalam jangka panjang dapat berkembang menjadi sirosis bahkan kanker hati.

Salah satu faktor yang membuat obesitas sulit ditangani adalah mekanisme biologis di baliknya. Banyak orang merasa sudah mengatur pola makan dan rutin berolahraga, tetapi berat badan tetap sulit turun atau mudah kembali naik.

Vardian menambahkan bahwa sel lemak memiliki apa yang disebut sebagai obesogenic memory.

"Ternyata sel lemak itu pintar. Sel lemak punya memori atau ingatan," ujarnya.

Ketika berat badan turun, jumlah sel lemak tidak serta-merta berkurang. Jika pola makan kembali tidak terkontrol, berat badan dapat meningkat lagi dengan cepat. Fenomena ini dikenal sebagai diet yo-yo.

Penelitian menunjukkan bahwa dibutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk membuat 'memori' tersebut melemah. Karena itu, para dokter menegaskan bahwa penanganan obesitas tidak bisa hanya mengandalkan niat atau kemauan semata.

"Niat saja, olahraga, makan dikurangi. Tidak sesimpel itu," kata Vardian.

Pendekatan yang direkomendasikan mencakup perubahan gaya hidup secara menyeluruh, mulai dari pengaturan asupan makanan, peningkatan aktivitas fisik, pola tidur yang cukup, hingga manajemen stres. Dalam beberapa kasus, intervensi farmakologis maupun tindakan bedah bariatrik dapat menjadi pilihan terapi.

Diana juga menekankan bahwa WHO kini merekomendasikan terapi berbasis GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA) sebagai bagian dari tata laksana medis obesitas. Terapi ini awalnya digunakan untuk diabetes, namun terbukti membantu mengatur rasa lapar dan kenyang, sekaligus berkontribusi pada penurunan berat badan serta perbaikan risiko penyakit kronis lainnya.

Meski demikian, seluruh terapi harus dilakukan di bawah pengawasan dokter dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.

Dengan prevalensi yang terus meningkat dan dampak yang dapat menjalar ke berbagai organ tubuh, obesitas bukan lagi sekadar persoalan berat badan. Para ahli menegaskan, kondisi ini merupakan penyakit kronis yang membutuhkan kesadaran, edukasi, serta penanganan medis yang komprehensif.

(nga/tis)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi