9 Contoh Khutbah Jumat Ramadan Minggu Kedua yang Menyentuh
Salat Jumat merupakan salah satu ibadah yang wajib hukumnya untuk dilaksanakan oleh setiap laki-laki muslim setiap hari Jumat. Para jamaah dianjurkan datang sebelum khutbah dibacakan oleh khatib supaya meraih keutamaan pahala dari salat Jumat sekaligus mendapat ilmu dari nasihat khutbah itu sendiri.
Ada berbagai topik yang bisa disampaikan khatib selama berkhutbah, seperti akhlak, akidah, atau isu sosial. Memasuki bulan suci Ramadan, topik khutbah salat Jumat biasanya meliputi tentang keutamaan-keutamaan di bulan Ramadan atau puasa.
Di minggu kedua puasa ini, salat Jumat akan kembali dilaksanakan pada Jumat (27/2). Melansir dari laman NU Online, berikut ini contoh khutbah untuk Jumat Ramadan minggu kedua.
1. Menjaga Kualitas Puasa di Bulan Ramadan
Khutbah Pertama
اْلحَمْدُ ِللهِ اْلحَمْدُ ِللهِ الَّذِي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَه، ذُو اْلجَلَالِ وَالإكْرَام، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُه، اَللّٰهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ بِإحْسَانٍ إلَى يَوْمِ الدِّيْن، أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا الإِخْوَان، أوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشَيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيْدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وَقَالَ تَعَالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللهُ العَظِيمْ
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah.
Alhamdulillah pada hari ini kita semua masih diberi kesehatan dan kekuatan oleh Allah Swt.. untuk menjalankan puasa hingga minggu kedua. Pada bulan yang suci ini kita diwajibkan oleh Allah Swt. untuk menjalankan ibadah puasa, yaitu menahan diri dari makan, minum, dan hal yang membatalkannya mulai terbitnya fajar hingga tenggelamnya Matahari dengan niat yang telah ditentukan.
Tujuan utama dari berpuasa adalah menjadi manusia yang bertaqwa kepada Allah Swt.. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam surat Al-Baqarah ayat 183:
ٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ١٨٣
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa."
Manusia yang bertakwa merupakan harapan utama yang diperoleh seseorang setelah menjalankan ibadah puasa, maka Nabi memerintahkan bagi orang yang berpuasa untuk menghindari ucapan kotor dan tindakan yang bodoh, sebagaimana sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Kitab Al-Muwatha'. Nabi bersabda:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَإِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا: فَلَا يَرْفُثْ، وَلَا يَجْهَلْ، فَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ، أَوْ شَاتَمَهُ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ، إِنِّي صَائِمٌ
Artinya: "Puasa itu adalah perisai, jika salah satu dari kalian sedang berpuasa, maka jangan sampai berkata kotor dan jangan pula bertingkah laku jahil (sombong, suka mengejek, atau bertengkar). Jika ada orang lain yang mengajaknya berkelahi atau menghinanya maka hendaklah dia mengatakan: aku sedang puasa, aku sedang puasa" (HR. Imam Malik).
Hadis di atas menjelaskan bahwa seseorang yang berpuasa diperintahkan Nabi untuk tidak mengucapkan kalimat yang kotor dan bertindak bodoh, bahkan jika ada seseorang yang mengajak berkelahi atau memusuhi, ia cukup mengucapkan saya sedang berpuasa. Hal ini bertujuan untuk menjaga kesempurnaan pahala puasa, terutama menjaga ketakwaannya kepada Allah Swt..
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah.
Bagaimana cara agar puasa kita memiliki kualitas yang baik? Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin Juz 1 halaman 234 menjelaskan tentang kualitas puasanya orang-orang saleh, orang-orang yang berada pada tingkatan khusus, yaitu puasa dengan menjaga telinga, mata, lisan, tangan, kaki, dan segenap anggota badan dari dosa. Puasa ini dapat dicapai dengan enam hal:
Pertama, menjaga mata dari memandang hal yang tercela, serta tidak memandang hal yang melalaikan hati dari dzikir kepada Allah. Bulan puasa menjadi momentum yang baik untuk menyibukkan pandangan kita dengan membaca Al-Quran, mengaji kitab kuning, dan mempelajari ilmu pengetahuan. Agar puasa kita berkah dan berkualitas sebagaimana puasanya orang-orang yang saleh.
Kedua, menjaga lisan dari ujaran kebohongan, menggunjing, memaki, menghina dan segala bentuk permusuhan. Bulan puasa merupakan momentum untuk membiasakan diri dengan berdzikir kepada Allah, membaca Qur'an, dan lebih baik diam daripada mengucapkan yang tidak baik, hal ini merupakan bentuk dari puasa lisan. Imam Sufyan mengingatkan bahwa menggunjing dapat merusak terhadap pahala puasa.
Ketiga, menjaga telinga dari mendengarkan hal yang diharamkan Allah. Sesuatu yang haram diucapkan, maka haram juga untuk didengarkan. Mumpung ini puasa, mari kita gunakan telinga kita untuk mendengarkan hal yang bermanfaat, seperti mendengarkan lantunan Al-Quran, pengajian, maupun nasehat keagamaan. Agar puasa kita berkah dan mendapatkan pahala yang sempurna dari Allah Swt..
Keempat, menjaga segenap anggota badan, mulai dari tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya dari melakukan hal-hal yang dilarang syariat agama, mari kita gunakan anggota badan kita untuk pergi ke masjid, musholla, madrasah, agar anggota tubuh kita terhindar perbuatan yang tercela.
Kelima, tidak makan berlebihan ketika berbuka puasa, karena Allah membenci terhadap perut yang berisi makanan halal secara berlebihan. Makan berlebihan kontradiktif dengan tujuan puasa, yaitu melemahkan godaan syaitan dan hawa nafsu, tujuan ini tidak dapat terwujud tanpa mengurangi porsi makan.
Keenam, ketika berbuka puasa, sebaiknya perasaan hati memuat dua hal, yaitu takut terhadap siksa Allah dan selalu mengharapkan rahmat-Nya. Harapannya agar seseorang selalu menjaga semangat ibadahnya, dan selalu istiqomah beribadah kepada Allah sehingga ia menjadi orang yang beruntung, orang yang bertaqwa kepada Allah Swt..
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah.
Mengapa penting untuk menjaga kualitas berpuasa? Karena manusia yang cerdas adalah manusia yang dapat menundukkan hawa nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam Hakim dalam kitabnya Mustadrok 'ala Shahihain, juz 1, halaman 125:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا، وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ
Artinya: "Orang yang cerdas adalah yang menundukkan nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian, sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya tapi banyak berangan-angan atas (karunia) Allah." (HR. Hakim).
Selain itu, Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya' Ulumuddin juz 1 halaman 236 menjelaskan bahwa derajat manusia itu di bawah malaikat dan di atas binatang. Ketika manusia terlena dengan syahwatnya, ia turun kasta menyusul kelompok binatang. Sebaliknya ketika manusia mampu menahan syahwatnya, menjaga kualitas puasanya, ia naik di atas derajat tertinggi menyusul wilayah para malaikat.
Oleh karena itu, bulan puasa ini merupakan momentum terbaik bagi kita semua untuk menjaga kualitas puasa dengan berperilaku seperti malaikat dengan memperbanyak amal kebaikan dan dapat menahan diri dari hawa nafsu yang tercela. Semoga puasa kita diterima Allah Swt.. Aamiin.
جَعَلَنا اللهُ وَإيَّاكم مِنَ الفَائِزِين الآمِنِين، وَأدْخَلَنَا وإِيَّاكم فِي زُمْرَةِ عِبَادِهِ المُؤْمِنِيْنَ : أعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيمْ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمانِ الرَّحِيمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ وذِكْرِ الحَكِيْمِ.
نّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
2. Makna dan Keutamaan di Bulan Ramadan
Khutbah Pertama
الحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ. القَائِلِ فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ المُصَلُّونَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Hadirin shalat Jumat yang dimuliakan Allah, Sebagaimana diketahui bersama, bulan ini merupakan bulan yang agung dan penuh berkah. Sebab pada bulan ini ampunan dan rahmat-Nya sangat mudah didapatkan, bukankah kelak kita bisa masuk sorga-Nya hanya melalui rahmat-Nya? Begitu juga adanya bulan Ramadan membuat seluruh umat Islam diwajibkan berpuasa dengan tujuan menjadi pribadi yang bertakwa. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam ayat:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: "Wahai orang-orang beriman telah diwajibkan puasa atas kalian sebagaimana telah diwajibkan (juga) atas orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang bertakwa." (QS. al-Baqarah: 183)
Tujuan disyariatkannya berpuasa untuk menjadi orang bertakwa merupakan cara Allah mengajak kita untuk meningkatkan kualitas ketakwaan kita. Ibadah sehari-hari seperti shalat lima waktu, sedekah, berbuat baik kepada sesama, dan lain sebagainya dirasa belum cukup untuk meningkatkan ketakwaan kita. Oleh karenanya Allah menambahkan jalan lain untuk mencapai hal tersebut, yaitu dengan berpuasa. Kendati demikian, patut diakui bahwa puasa tidak hanya bisa dilaksanakan pada bulan Ramadan saja.
Namun puasa yang dilakukan pada bulan ini mempunyai keutamaan yang lebih dibandingkan puasa pada bulan-bulan lainnya. Keutamaan ini disebabkan puasa tersebut dilakukan pada bulan Ramadan. Dengan kata lain, ibadah puasa memiliki keutamaan yang berbeda-beda dengan bergantung pada bulan apa dikerjakannya. Lantas, mengapa ketika puasa dikerjakan pada bulan Ramadan memiliki nilai lebih tinggi di sisi Allah dibandingkan puasa pada bulan yang lain?
Hadirin shalat Jumat yang dimuliakan Allah,. Pertanyaan tadi akan bisa dijawab bila kita mulai dari mengetahui apa arti kata Ramadan. Dalam kamus al-Mu'jam al-Wasith, Ramadan berasal dari رَمَضَ yang memiliki makna 'membakar.' Makna ini sepadan substansinya dengan kata lain seperti melenyapkan, menghanguskan, bahkan meluluhlantakkan. Termasuk sifat membakar yang lain adalah meniadakan, menghabisi, dan menundukkan.
Dalam konteks Ramadan, sesuatu yang dibakar adalah penyakit hati yang ada dalam diri kita masing-masing. Imam Al-Ghazali secara terperinci menjelaskan apa saja macam-macam penyakit hati di dalam kitabnya yang fenomenal, Ihya Ulumuddin. Di antaranya adalah ego, iri dengki, sombong, ujub, dan nafsu hewani.
Penyakit-penyakit seperti inilah yang mesti ditundukkan bahkan dibakar selama bulan Ramadan. Ibadah pada bulan ini seperti puasa, tarawih, mengaji al-Quran, dan berbagai macam dzikir memiliki tujuan untuk melenyapkan berbagai penyakit hati tersebut. Seolah-olah Allah hendak menegaskan bahwa penyakit hati itu bisa dilatih, dilunakkan, serta dihilangkan dengan cara memperbanyak ibadah pada bulan Ramadan. Sebab penyakit hati merupakan faktor paling dasar yang memicu berbagai konflik sosial dan politik yang terjadi selama ini.
Bahkan Imam al-Ghazali juga menegaskan bahwa penyakit hati bisa mengidap kepada siapa saja, termasuk para ulama, pejabat, dan tokoh macam lainnya. Penyakit hati ini memang tidak memandang bulu dan hanya bisa dihilangkan dengan memperbanyak proses dan latihan. Oleh karena itu, dengan beragam ibadah dan ganjaran yang dikhususkan hanya bisa diperoleh pada bulan ini, diharapkan dapat meluluhlantakkan penyakit-penyakit hati yang ada di dalam diri kita.
Sesuai makna asalnya, Ramadan menjadi momentum pembakaran berbagai penyakit hati, dan tentunya termasuk berbagai dosa juga. Hadirin shalat Jumat yang dimuliakan Allah, Perlu dipertegas di sini bahwa maksud dosa di sini hanyalah dosa antara hamba dengan Tuhannya. Artinya, dosa yang bisa dibakar atas ibadah-ibadah yang dikerjakan selama Ramadan hanya terbatas pada dosa kepada Tuhan. Sedangkan dosa kepada sesama manusia maka harus meminta maaf kepada yang bersangkutan. Namun, Nabi Muhammad saw. di dalam sabdanya menyebutkan sebuah ibadah secara spesifik yang dapat menghanguskan dosa-dosa tersebut, yaitu berpuasa. Di dalam riwayat Bukhari - Muslim disebutkan:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: "Siapa saja yang berpuasa pada bulan Ramadan atas dasar beriman dan mengharapkan pahala maka dosa-dosanya di masa lalu akan diampuni."
Berdasarkan hadits ini cukup jelas kiranya bahwa puasa yang dilaksanakan pada bulan Ramadan dapat menghapus dosa-dosa masa lalu seorang hamba. Dengan syarat, puasa yang dikerjakannya berdasarkan keimanan dan harapan mendapatkan pahala. Jadi puasa Ramadan yang dikerjakan bukan karena ikut-ikutan lingkungan, atau bahkan tren media sosial.
Imam Muslim saat menjelaskan hadits-hadits tentang sebuah ibadah yang secara otomatis dapat menghapus dosa-dosa seseorang menegaskan bahwa dosa-dosa di sini terbatas hanya pada dosa kecil saja, bukan dosa besar. Sebab bila melakukan dosa besar maka cara melenyapkannya bukan hanya dengan beribadah saja, melainkan harus memohon ampun dan bertaubat dengan sungguh-sungguh.
Hal ini masuk akal kiranya, sebab setiap kita pasti memiliki dosa kecil, entah sengaja maupun tidak. Maka untuk menghapusnya cukup dengan memperbanyak ibadah yang biasa kita lakukan. Terlebih lagi bila ibadah tersebut dilakukan pada bulan Ramadan, maka peluang ampunan yang akan diperoleh menjadi lebih besar. Hadirin shalat Jumat yang dimuliakan Allah, Selain itu, uraian terkait keutamaan bulan Ramadan di atas diperkuat juga dengan hadis riwayat Bukhari Muslim yang berbunyi:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
Artinya: "Apabila bulan Ramadan tiba maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dikerangkeng."
Hadits ini hendak menegaskan dari saking mulianya bulan Ramadan membuat tempat mulia seperti surga dibuka lebar-lebar, sedangkan tempat dan makhluk yang hina ditutup dan dirantai agar tidak bisa mengganggu kekhidmatan ibadah pada bulan ini. Ibadah yang dikerjakan pada bulan ini akan memudahkan kita diantarkan pada tempat yang indah sebagaimana dijanjikan bagi orang beriman, begitu juga jalan menuju tempat yang buruk ditutup, termasuk mahluk yang terlibat di dalamnya, yakni para setan dikurung agar tidak menggoda umat Islam dalam beribadah selama Ramadan.
Semoga kita mendapatkan kemuliaan dan keberkahan bulan ini, sehingga nanti setelah Ramadan usai kita menjadi pribadi-pribadi yang lebih bertakwa dan semakin semangat beribadahnya.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلّٰهِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ بنِ عَبدِ الله وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَة. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ المُسلِمُونَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَاعلَمُوا إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْ وَّٱلَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ. قَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُم بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ
لَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر
3. Pahala Terbaik Bagi Orang yang Berpuasa di Bulan Ramadan
Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. اَمَّا بَعْدُ، فَيَا اَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. فَقَدْ قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Jamaah kaum Muslimin yang dirahmati Allah.
Khatib berpesan bagi diri sendiri dan jamaah sekalian, mari kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan sebenar-benarnya takwa dan selalu berusaha untuk berkata baik. Harapannya, Allah akan memperbaiki seluruh amal ibadah dan mengampuni segala dosa yang telah kita kerjakan selama hidup di dunia ini.
Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Quran Surat Al-Ahzab ayat 70-71:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا
Artinya, "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Dia (Allah) akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia menang dengan kemenangan yang besar."
Jamaah kaum Muslimin yang dirahmati Allah
Sungguh, Allah Swt. telah menjadikan bulan suci Ramadan sebagai momentum terbaik untuk memperbaiki kualitas dan menambah kuantitas amal saleh yang kita kerjakan. Sebab selama sebulan penuh, Allah menurunkan kepada para hambanya keberkahan yang sangat melimpah. Ganjaran pahala ditingkatkan, pintu surga dibukakan, gerbang neraka dikuncikan dan setan dibelenggu agar tidak dapat mengganggu manusia.
Apalagi terkhusus dalam ibadah puasa Ramadan, Allah Swt. memberikan ganjaran pahala yang besar bagi siapa saja yang mengerjakannya dengan penuh keikhlasan dan mengharapkan ridha-Nya. Sebagaimana hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, bersumber dari Abu Hurairah ra:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَلَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
Artinya, "Dari Abu Hurairah Ra, dari Nabi Muhammad saw., Ia bersabda, "(Allah berfirman) Setiap perbuatan keturunan Adam itu diperuntukkan bagi dirinya kecuali puasa, karena ibadah tersebut untukku dan aku sendiri yang akan memberikan ganjarannya. Sungguh perubahan aroma mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dibandingkan dengan parfum." (HR Al-Bukhari).
Jamaah kaum Muslimin yang dirahmati Allah
Selain karena keagungan bulan suci Ramadan dengan segala keberkahan yang dimilikinya dan ibadah puasa dengan ganjaran besar yang menyertainya, ternyata Allah Swt. masih menyediakan alternatif ibadah lain yang tidak kalah istimewa untuk orang-orang Islam selama bulan Ramadan berlangsung. Yakni, dengan selalu berusaha mengingat Allah Swt..
Disebutkan bahwa siapa saja yang mengerjakannya akan masuk ke dalam golongan orang-orang terbaik yang menjalankan ibadah puasa Ramadan, sebagaimana penjelasan Nabi Muhammad saw. ketika ditanya oleh seorang laki-laki:
عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذِ بْنِ أَنَسٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ رَسُولِ اللهِ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَهُ فَقَالَ: أَيُّ الْمُجَاهِدِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ، قَالَ: وَأَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ لِلَّهِ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ، ثُمَّ ذَكَرَ الصَّلَاةَ وَالزَّكَاةَ وَالْحَجَّ وَالصَّدَقَةَ، كُلُّ ذَلِكَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا
Artinya, "Dari Sahl bin Mu'adz bin Anas, dari bapaknya, dari Rasulullah saw., bahwasanya ada seorang laki-laki yang bertanya kepadanya: Orang berjihad di jalan Allah seperti apa yang memperoleh ganjaran pahala paling besar? Rasul menjawab, mereka yang paling banyak mengingat Allah.
Laki-laki itu bertanya lagi, lalu, orang berpuasa seperti apa yang mendapatkan pahala yang paling banyak? Rasul menjawab, mereka yang paling banyak mengingat Allah. Kemudian laki-laki tersebut bertanya lagi tentang shalat, zakat, haji dan sedekah, setiap pertanyaannya selalu dijawab oleh Rasulullah, (bahwa orang yang meraih pahala paling banyak, ialah) mereka yang paling banyak mengingat Allah Swt.." (HR At-Thabarani).
Jamaah kaum Muslimin yang dirahmati Allah
Secara tegas juga telah disebutkan, orang-orang yang senantiasa mengingat Allah Swt. di manapun mereka berada akan diberikan ampunan dan pahala yang besar. Sebagaimana secara jelas dalam Al-Quran surat Al-Ahzab ayat 35, Allah berfirman yang artinya:
"Laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat (nama) Allah, untuk mereka Allah telah menyiapkan ampunan dan pahala yang besar."
Demikianlah, mari kita maksimalkan segala potensi amal baik selama bulan suci Ramadan ini dengan selalu mengingat Allah Swt. dalam setiap aktivitas yang sedang dijalankan, sebagai bentuk ikhtiar guna memperoleh pahala yang banyak dan mempermudah meraih predikat insan yang bertakwa.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَّ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلَامَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالمِحَنَ وَسُوْءَ الفِتَنِ وَالمِحَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللّٰهِ! إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِيْ اْلقُرْبٰى وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوْا اللّٰهَ اْلعَظِيْمَ
ذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ وَ اللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
4. Ramadan, Bulan Peduli Lingkungan dan Sosial
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، خَيْرُ نَبِيٍّ أَرْسَلَهُ اللّٰهُ إِلَى الْعَالَمِ كُلِّهِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Salah satu bentuk ketakwaan yang sering kita abaikan adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup. Padahal, Islam mengajarkan kita untuk menjaga alam sebagai bentuk amanah dari Allah.
Di bulan Ramadan ini, kita bukan hanya dilatih untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih diri untuk menjadi pribadi yang shaleh secara personal dan soleh secara sosial. Kesolehan kita harus bisa terwujudkan dalam wujud mampu memberi kemaslahatan bagi diri dan lingkungan. Tidak merusak lingkungan setelah Allah menciptakannya dengan sangat sempurna. Allah Swt. berfirman dalam Al-Quran:
وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ٥٦
Artinya: "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya." (QS. Al-A'raf: 56)
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Saat ini, kita melihat dan merasakan sendiri bahwa intensitas hujan tinggi terjadi di bulan Ramadan. Kondisi ini telah menyebabkan bencana banjir terjadi di berbagai daerah di negeri kita. Banyak saudara kita yang terdampak, kehilangan tempat tinggal, harta benda, bahkan nyawa. Ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah dan amanah yang harus kita laksanakan.
Banyak faktor yang menyebabkan bencana ini, salah satunya adalah ulah kita sendiri yang tidak menjaga alam dengan baik. Penebangan pohon secara liar, pembuangan sampah sembarangan, serta pembangunan yang tidak memperhatikan keseimbangan ekosistem menjadi penyebab utama bencana banjir dan longsor.
Padahal Rasulullah saw. telah mengingatkan dalam sabdanya untuk benar-benar merawat lingkungan dengan contoh menanam pohon. Selain sebagai penjaga kelestarian lingkungan melalui resapan airnya dan oksigen yang bermanfaat bagi udara di bumi, menanam pohon juga merupakan ibadah yang masuk dalam kategori sedekah. Rasulullah saw. bersabda:
عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً، وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ، وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ، وَمَا أَكَلَتِ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ، وَلَا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ
Artinya: "Jabir berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, Tidaklah seorang muslim menanam pohon kecuali buah yang dimakannya menjadi sedekah, yang dicuri menjadi sedekah, yang dimakan binatang buas adalah sedekah, yang dimakan burung adalah sedekah, dan tidak diambil seseorang kecuali menjadi sedekah," (HR. Muslim).
Maka, bulan Ramadan ini mengingatkan kita untuk menjadikannya momentum lebih peduli terhadap lingkungan. Puasa mengajarkan kita untuk menahan diri dari tindakan yang merugikan, termasuk dalam merusak lingkungan. Mari kita mulai dari hal-hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan plastik, serta menanam pohon untuk menjaga keseimbangan alam.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Kelestarian alam yang terjaga pun akan menambah keindahan dan memberikan nilai estetika yang ternilai harganya. Pegunungan, hutan, dan lautan memberikan tempat untuk relaksasi dan rekreasi. Memelihara keindahan alam adalah investasi dalam kesejahteraan manusia secara keseluruhan.
Sehingga, menjaga lingkungan juga bagian berkontribusi periodik dalam upaya mengatasi perubahan iklim global. Konservasi energi, penggunaan sumber daya terbarukan, dan pengurangan emisi gas rumah kaca adalah langkah-langkah penting untuk menciptakan lingkungan yang berkelanjutan.
Dengan merawat dan menjaga lingkungan, kita membangun masa depan yang berkelanjutan, sehat, dan harmonis bagi manusia dan seluruh makhluk hidup. Tindakan kecil dari setiap individu dapat memiliki dampak besar jika dilakukan secara kolektif dengan penuh kesadaran.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Di bulan yang penuh berkah ini, kita juga diajarkan untuk meningkatkan kepedulian sosial terhadap sesama. Bagi saudara-saudara kita yang terdampak bencana banjir, ini adalah ujian kesabaran. Allah berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ١٥٥
Artinya, "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)
Bagi kita yang tidak terdampak langsung, sudah seharusnya kita meningkatkan kepedulian dengan memberikan bantuan, baik berupa tenaga, harta, maupun doa. Sikap peduli pada penderitaan orang lain bisa menjadi barometer tingkat keimanan dan ketakwaan kita. Semakin beriman dan bertakwa kita, maka semakin tinggi tingkat sensitifnya terhadap masalah-masalah yang dihadapi oleh orang lain.
Syekh Abdul Qadir Jailani dalam Fathur Rabbani wal Faydur Rahmani mengatakan: "Jika kamu menyukai makanan enak, pakaian bagus, rumah mewah, wanita cantik, dan harta yang berlimpah, sementara pada saat yang sama kamu menginginkan agar saudara seimanmu mendapatkan kebalikannya, maka sungguh bohong bila kamu mengaku memiliki iman yang sempurna. Wahai orang kurang akal! Kamu berdampingan dengan tetangga yang fakir dan mempunyai sanak-saudara miskin, sedangkan kamu memiliki harta yang sudah layak dizakati, keuntunganmu berlipat ganda setiap hari, dan kamu memiliki kekayaan lebih. Jika kamu enggan memberi dan menolong mereka, berarti kamu rela dengan kefakiran mereka."
Inilah gambaran bagaimana Allah, Rasulullah, dan para ulama mengingatkan kita semua untuk memiliki kebersamaan yang tinggi dan kepedulian kolektif. Kita perlu ingat, keimanan tidak selamanya diukur berdasarkan jumlah ibadah mahdhoh seperti shalat, zikir, haji dan sebagainya. Walaupun kita rajin ibadah ritual dan percaya pada Allah jika kita tak memperkuat ibadah sosial atau tak peka pada lingkungan maka keimanan kita pun sangat layak dipertanyakan.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita jadikan bulan Ramadan ini sebagai momen untuk meningkatkan kepedulian, tidak hanya kepada sesama manusia, tetapi juga kepada alam sekitar. Semoga Allah Swt. menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bertakwa dan mencintai lingkungan sebagai bagian dari ibadah kita. Amin.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، فَاعْتَبِرُوْا يَآ أُوْلِى اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللّٰهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى. فَقَدْ قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِى الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ
عٍبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللّٰهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرْ
5. Pendidikan Keluarga di Bulan Ramadan untuk Membangun Karakter Anak
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ، أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَام. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى مَا هَدَاكُمْ لِلإِسْلاَمِ، وَأَوْلاَكُمْ مِنَ الْفَضْلِ وَالإِنْعَامِ، وَجَعَلَكُمْ مِنْ أُمَّةِ ذَوِى اْلأَرْحَامِ. قَالَ تَعَالَى: وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
Segala puji dan syukur kita persembahkan kepada Allah Swt. atas segala karunia dan rahmat-Nya yang senantiasa diberikan kepada kepada hamba hamba-Nya. Shalawat dan salam kita doakan bagi Baginda Rasulullah saw., sumber keteladanan dan manusia paling mulia di muka bumi.
Yang kami muliakan seluruh jamaah Jumat
Ramadan merupakan momentum yang tepat untuk menanamkan pendidikan kepada keluarga. Di antaranya adalah qudwah dari orang tua, mengenalkan Allah yang Maha Rahman dan Rahim. Hal inilah yang telah dipraktikkan oleh Lukmanul Hakim kepada anaknya. Allah Swt. berfirman dalam surat Luqman ayat 13:
وَإِذْ قَالَ لُقْمَـٰنُ لِٱبْنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَـٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌۭ
Artinya, "Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, "Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar."
Dengan mengenalkan Allah Sang Khaliq semanjak dini menjadikan anak-anak dapat saling berkasih sayang, menyadari bahwa dirinya adalah makhluk yang lemah yang ciptakan oleh Sang Khaliq yang Maha Rahman dan Rahim.
Ramadan sebagai bulan Al-Quran juga menjadi kesempatan keluarga untuk kembali mendekatkan diri dengan Al-Quran. Menghidupkan tradisi membaca Al-Quran bersama di rumah, Tradisi membaca Al-Quran dan mengkhatamkanya telah dilakukan oleh para ulama kita terdahulu.
Sebagai penyemangat, Imam As-Syafi'i mengkhatamkan Alquran 60 kali selama Ramadan. Mengkhatamkan sekali saja bacaan Al-Quran di bulan Ramadan bersama keluarga adalah qudwah yang mulia dan luar biasa.
Kaum Muslimin yang dirahmati Allah
Ramadan mesti menjadikan kita dan keluarga semakin bersemangat dalam beribadah, termasuk Shalat Tarawih dengan mengajak anak-anak turut serta, baik di masjid maupun di rumah. Perhatian untuk menjaga shalat di tengah keluarga telah Allah perintahkan sebagaimana firman Allah dalam surat Thaha ayat 132:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
Artinya, "Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa."
Selain itu orang tua dapat mengajarkan anak-anak untuk peduli kepada sesama dengan memberikan sedekah, makanan untuk buka puasa, atau membantu orang yang membutuhkan. Salah satu momen yang dapat mempererat hubungan keluarga adalah makan sahur dan berbuka puasa bersama.
Kesempatan emas ini dapat digunakan untuk berkumpul, berbagi cerita, serta menciptakan suasana kebersamaan di rumah. Sudah seyogyanya kita mengajak keluarga untuk mencari keberkahan di bulan ini dengan berdoa bersama setelah shalat atau menjelang berbuka. Anak-anak mesti terus dilatih dalam ibadah kepada Allah, termasuk dalam ibadah puasa. Inilah akhlak yang telah diwariskan para sahabat, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Imam Al-Bukhari:
عَنِ الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذٍ، قَالَتْ: أَرْسَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الأَنْصَارِ: مَنْ أَصْبَحَ مُفْطِرًا، فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ وَمَنْ أَصْبَحَ صَائِمًا، فَليَصُمْ، قَالَتْ: فَكُنَّا نَصُومُهُ بَعْدُ، وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا، وَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ العِهْنِ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهُ ذَاكَ حَتَّى يَكُونَ عِنْدَ الإِفْطَارِ
Artinya, "Diriwayatkan dari Ar-Rubayyi' binti Muawwidz, ia berkata: 'Nabi Muhammad saw. memberi arahan pada pagi Hari Asyura kepada masyarakat Anshar: 'Barangsiapa telah makan atau minum maka hendaknya ia sempurnakan sisa harinya (dengan menahan) dan barangsiapa yang masih berpuasa maka teruskanlah.'
Ar-Rubayyi' berkata: 'Saat itu kami semua berpuasa, dan melatih anak-anak kami berpuasa. Kami membuat mainan dari kapas. Jika salah satu dari mereka menangis meminta makanan, kami memberikan mainan itu hingga datang waktu buka puasa'."
Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah
Mari bersemangat membiasakan anak anak dalam ibadah shalat, berpuasa dan juga dekat dengan kegiatan sosial seperti memberikan takjil, mengajak anak dalam membagikan makanan berbuka, membantu orang tua yang kurang mampu menjadi pembelajaran bagi anak-anak tentang pentingnya gotong royong dan menolong sesama.
Nasehat Luqman kepada anaknya agar selalu berbuat kebaikan, terekam dalam Firman Allah surat Luqman ayat 17:
يَـٰبُنَىَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأْمُرْ بِٱلْمَعْرُوفِ وَٱنْهَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ
Artinya, "Wahai anakku! Laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang ma'ruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting."
Dari sini pendidikan keluarga di bulan Ramadan memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter anak-anak ke depannya. Mari memanfaatkan bulan Ramadan untuk menanamkan Pendidikan kepada keluarga khusus anak-anak kita, generasi masa depan.
Semoga Ramadan ini dapat menjadikan keluarga kita sebagai keluarga yang diridhai Allah dan dicintai Rasulullah saw.. Amin.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ ِللهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا. أَمَّا بَعْدُ، فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى، يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اَللّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ
عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
6. Ramadan dan Kesempatan yang Tidak Selalu Terulang
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْزَلَ الْأَحْكَامَ لِإِمْضَاءِ عِلْمِهِ الْقَدِيمِ، وَأَجْزَلَ الْإِنْعَامَ لِشَاكِرِ فَضْلِهِ الْعَمِيمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْبَرُّ الرَّحِيمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمَبْعُوثُ بِالدِّينِ الْقَوِيمِ، الْمَنْعُوتُ بِالْخُلُقِ الْعَظِيمِ، صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ وَالتَّسْلِيمِ، أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ الْكَرِيمِ فَإِنِّي أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Puji syukur al-ḫamdu lillâhi rabbil-‘âlamîn atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah Swt. berikan kepada kita semua, khususnya nikmat dipertemukan dengan bulan Ramadan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Agung Muhammad saw., beserta keluarga, sahabat, dan umatnya yang senantiasa meneladaninya.
Sebagaimana Rasulullah senantiasa menyampaikan wasiat takwa dalam setiap khutbahnya, maka sebagai ittiba’ terhadap sunnahnya, izinkan kami untuk menyampaikan wasiat takwa kepada diri kami sendiri dan kepada jamaah sekalian. Marilah kita terus berupaya menjadi pribadi yang bertakwa. Karena dengan takwa, hidup kita akan menjadi terarah, langkah menjadi ringan untuk melakukan ibadah dan kebaikan, dan hati menjadi tenang dalam menjalani hidup di dunia.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Termasuk nikmat yang sangat agung dan tidak ternilai harganya adalah ketika Allah Swt. masih berkenan mempertemukan kita dengan bulan Ramadan. Pada bulan ini, kita semua dididik untuk menahan diri, dilatih mengendalikan hawa nafsu, memperbanyak tilawah Al-Quran, menghidupkan malam dengan ibadah, dan memperbanyak sedekah agar tumbuh kepekaan sosialnya.
Semua rangkaian ibadah di atas dan ibadah-ibadah lainnya sesungguhnya berporos pada satu tujuan mulia, yaitu meningkatnya ketakwaan, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran, Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah, [2]: 183).
Mengapa ketakwaan menjadi poros dari seluruh ibadah yang kita lakukan pada bulan Ramadan? Karena takwa adalah fondasi dari segala kebaikan dan kunci keselamatan hidup kita, baik di dunia maupun di akhirat. Orang yang bertakwa akan terdorong untuk senantiasa berbuat baik, mulai dari hal-hal kecil yang sering dianggap sepele hingga yang besar.
Ia akan ringan tangan membantu saudaranya tanpa pamrih, menjaga lisannya agar tidak menyakiti orang lain, tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan, menunaikan amanah dengan jujur, serta saling tolong-menolong dalam kebaikan. Semua itu merupakan buah dari ketakwaan yang hidup di dalam hati kita.
Sayyid Murtadha az-Zabidi al-Husaini mengatakan dalam kitab Ithafussadatil Muttaqin bi Syarhi Ihya Ulumiddin, jilid VIII, halaman 27:
وَالتَّقْوَى... لِأَنَّهَا أَسَاسُ كُلِّ خَيْرٍ وَالسَّبَبُ لِسَعَادَةِ الدَّارَيْنِ
Artinya, “Dan takwa... karena sesungguhnya ia adalah fondasi dari segala kebaikan dan sebab kebahagiaan di dunia dan akhirat.”
Dan perlu kita ingat kembali bahwa semua kebajikan yang kita lakukan, baik yang bernilai kecil dan cenderung dianggap sepele, hingga perbuatan besar dan membutuhkan pengorbanan, semuanya akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah Swt. pada bulan Ramadan yang mulia ini. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam salah satu hadits, Rasulullah saw. bersabda:
فَاتَّقُوا شَهْرَ رَمَضَانَ فَإِنَّ الْحَسَنَاتِ تُضَاعَفُ فِيهِ وَكَذَلِكَ السَّيِّئَاتُ
Artinya: ““Maka bertakwalah kalian semua pada bulan Ramadan, karena sesungguhnya kebaikan-kebaikan dilipatgandakan di dalamnya, demikian pula keburukan-keburukan.” (HR. At-Thabrani).
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Oleh karena itu, marilah kita manfaatkan kesempatan yang sangat berharga ini dengan penuh kesungguhan dan kesadaran. Jangan sampai kita tertipu oleh anggapan bahwa Ramadan tahun depan pasti masih ada untuk kita. Karena tidak ada seorang pun yang mampu menjamin usianya akan sampai pada Ramadan berikutnya.
Tidakkah kita mengambil pelajaran dari saudara, tetangga, dan banyak orang yang memiliki rencana untuk memperbaiki diri “nanti di bulan Ramadan yang akan datang”, namun ajal lebih dahulu menjemputnya. Berkaitan dengan hal ini, Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitab Lathaiful Ma’arif fima li Mawasimil ‘Am minal Wazhaif, halaman 158 berkata dalam sebuah syair:
كَمْ كُنْتَ تَعْرِفُ مِمَّنْ صَامَ فِي سَلَفٍ // مِنْ بَيْنِ أَهْلٍ وَجِيرَانٍ وَإِخْوَانِ // أَفْنَاهُمُ الْمَوْتُ وَاسْتَبْقَاكَ بَعْدَهُمْ // حَيًّا فَمَا أَقْرَبَ الْقَاصِي مِنَ الدَّانِي // وَمُعْجَبٍ بِثِيَابِ الْعِيدِ يَقْطَعُهَا // فَأَصْبَحَتْ فِي غَدٍ أَثْوَابَ أَكْفَانِ // حَتَّى يُعَمِّرَ الْإِنْسَانُ مَسْكَنَهُ // مَصِيرُ مَسْكَنِهِ قَبْرٌ لِإِنْسَانِ
Artinya, “Betapa banyak yang kau kenal di antara mereka yang berpuasa di masa lalu, // dari kalangan keluarga, tetangga, dan saudara // maut telah membinasakan mereka, dan meninggalkanmu hidup setelah mereka // maka betapa dekatnya yang jauh dengan yang dekat // dan betapa banyak orang yang bangga dengan pakaian hari raya, ia menjahitnya // namun keesokan harinya, pakaian itu menjadi kain kafan // hingga manusia memakmurkan tempat tinggalnya // namun tempat tinggal terakhirnya adalah kuburan bagi manusia.”
Maka sebelum ajal menjemput dan sebelum pintu tobat tertutup, mari kita bergegas memperbaiki diri dengan meningkatkan ibadah dan memperbanyak amal kebajikan. Mari jadikan Ramadan ini sebagai momentum untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bertakwa, dan lebih bermanfaat bagi sesama.
Jangan biarkan Ramadan berlalu begitu saja tanpa meninggalkan kesan yang berarti dalam hidup kita. Jika pada bulan Ramadan yang di dalamnya semua amal kebajikan dilipatgandakan tidak mampu meningkatkan kualitas kita, lantas bulan apa lagi yang bisa kita nantikan? Imam Ibnu Rajab mengatakan dalam kitab Lathaiful Ma’arif, halaman 158:
مَنْ لَمْ يَرْبَحْ فِي هٰذَا الشَّهْرِ فَفِي أَيِّ وَقْتٍ يَرْبَحُ؟ مَنْ لَمْ يَقْرُبْ فِيهِ مِنْ مَوْلَاهُ فَهُوَ عَلَى بُعْدِهِ لَا يَرْبَحُ
Artinya, “Siapa saja yang tidak meraih keuntungan pada bulan (Ramadan) ini, maka pada kapan lagi ia akan meraih keuntungan? Siapa saja yang tidak mendekat kepada Tuhannya di dalamnya (Ramadan), maka dalam keadaan jauhnya (selain Ramadan) itu ia tidak akan memperoleh keuntungan.”
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Demikian khutbah Jumat tentang bulan Ramadan sebagai kesempatan yang tidak selalu terulang ini kami sampaikan. Semoga khutbah ini dapat memberikan motivasi dan inspirasi bagi kita semua untuk memanfaatkan bulan Ramadan dengan sebaik-baiknya. Dan semoga Allah Swt. menerima semua amal ibadah kita dan menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang muttaqin. Amin ya rabbal alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
7. Ramadan dan Anjuran Memelihara Lingkungan dengan Baik
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ للهِ. الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ, يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ لَا أُحْصِيْ ثَنَاءَكَ عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ, وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ, فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,
Mengawali khutbah Jumat pada siang hari ini, marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah Swt. yang telah memberikan kepada kita berbagai macam kenikmatan, terutama nikmat iman dan Islam yang merupakan nikmat terbesar yang kita miliki.
Tak lupa pula shalawat beserta salam, mari kita haturkan bersama kepada Nabi Muhammad saw., juga kepada para keluarganya, sahabatnya, dan semoga melimpah kepada kita semua selaku umatnya. Amin ya Rabbal 'alamin.
Khatib juga mengajak jamaah sekalian sekaligus diri pribadi agar selalu meningkatkan takwa kepada Allah Swt. dengan cara menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Saat ini, umat Islam telah memasuki bulan Ramadan. Bulan di mana umat Islam diperintahkan untuk melaksanakan puasa selama satu bulan penuh sebagai bagian dari ketakwaan kepada Allah.
Allah Swt. berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 183:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Artinya, "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa," (QS Al-Baqarah: 183).
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,
Bulan Ramadan merupakan bulan yang penuh berkah. Bulan Ramadan juga merupakan momen yang tepat bagi umat Islam untuk berlomba-lomba meningkatkan amal saleh dan berbuat baik kepada sesama.
Selama sebulan penuh, umat Islam diperintahkan untuk tidak hanya menahan lapar dan dahaga, melainkan juga melatih diri untuk kembali mengatur ritme kehidupan sesuai dengan ajaran Islam.
Sebagai agama, Islam memiliki aturan yang meliputi seluruh kehidupan manusia. Hampir semua aspek kehidupan manusia memiliki aturan tersendiri dalam Islam. Di antara aturan yang berlaku ialah Islam mengatur bagaimana umatnya untuk menjaga dan merawat lingkungan di sekitarnya.
Dalam praktiknya, ada banyak anjuran Islam dalam usaha merawat dan menjaga lingkungan. Di antara yang diajarkan Rasulullah saw. dalam usah merawat lingkungan ialah dengan menanam pohon.
Nabi Muhammad saw. bersabda:
عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ، وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ، وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ، وَمَا أَكَلَتِ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ، وَلَا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ
Artinya, "Dari Jabir berkata: Rasulullah saw. bersabda, 'Tidak ada seorang muslim yang menanam pohon kecuali sesuatu yang dimakan dari pohon tersebut bernilai sedekah. Apa saja yang dicuri darinya bernilai sedekah. Yang dimakan hewan buas darinya bernilai sedekah, juga apa yang dimakan burung dari pohon itu bernilai sedekah. Tidak ada seorang pun yang menguranginya kecuali bernilai sedekah',” (HR. Muslim).
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,
Di sisi lain, selain menganjurkan untuk menjaga dan merawat lingkungan. Dalam usaha merawatnya, Islam juga dengan tegas melarang perbuatan merusak lingkungan. Hal tersebut meliputi segala aspek kehidupan, mulai dari lingkungan alam maupun manusia itu sendiri.
Dalam Al-Quran, Allah dengan tegas melarang berbuat kerusakan terhadap lingkungan. Allah berfirman dalam surat Al-A’raf ayat 56:
وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ
Artinya, “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan,” (QS Al-A’raf: 56).
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,
Pada ayat di atas, Allah dengan tegas melarang berbuat kerusakan di muka bumi. Larangan berbuat kerusakan pada ayat di atas mencakup baik kerusakan kecil maupun besar.
Sebagaimana Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, juz 7, halaman 226 menjelaskan bahwa makna ayat di atas mencakup larangan berbuat kerusakan baik sedikit maupun besar.
أَنَّهُ سُبْحَانَهُ نَهَى عَنْ كُلِّ فَسَادٍ قَلَّ أَوْ كَثُرَ بَعْدَ صَلَاحٍ قَلَّ أَوْ كَثُرَ. فَهُوَ عَلَى الْعُمُومِ عَلَى الصَّحِيحِ مِنَ الْأَقْوَالِ. وَقَالَ الضَّحَّاكُ: مَعْنَاهُ لَا تُعَوِّرُوْا الْمَاءَ الْمَعِينَ، وَلَا تَقْطَعُوا الشَّجَرَ الْمُثْمِرَ ضِرَارًا
Artinya, “Allah melarang berbuat kerusakan baik sedikit maupun banyak terhadap sesuatu yang baik. Perintah ini bersifat umum. Adh-Dhahak berkata: maknanya ialah jangan mengotori sumber mata air, dan jangan pula memotong pohon yang sedang berbuah sebab akan menimbulkan kerusakan.”
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,
Dalam hal ini, menjaga dan merawat lingkungan merupakan bagian dari perintah agama. Sebab pada dasarnya dengan menjaga lingkungan, kita turut andil menjaga badan, harta, agama, keturunan serta akal kita untuk bisa tetap menjalankan ibadah kepada Allah.
Kesimpulan khutbah Jumat kali ini ialah dengan merawat dan menjaga lingkungan sama saja dengan kita menjaga keamanan dan kenyamanan kita dalam beribadah kepada Allah. Menjaga lingkungan bisa dimulai dari diri kita dan orang di sekitar kita. Bisa dengan hal-hal kecil di sekitar kita, misalnya dengan membuang sampah di tempatnya.
Dalam momentum Ramadan ini, marilah kita bersama menjaga dan merawat lingkungan di sekitar kita dengan niat menjalankan perintah agama. Agar kita bisa maksimal dalam beribadah kepada Allah Swt..
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَر.ِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ
Pahami Fiqih Puasa, Jaga Keabsahannya
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ فَرَضَ الصِّيَامَ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ، وَجَعَلَهُ سَبَبًا لِتَطْهِيْرِ الْقُلُوْبِ وَتَرْبِيَةِ الْمُتَّقِيْنَ، وَخَصَّهُ بِالْأَجْرِ الْعَظِيْمِ تَشْرِيْفًا لِلصَّائِمِيْنَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ الْمُوَحِّدِيْنَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَ قُدْوَةُ الْعَابِدِيْنَ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، صَلَاةً دَائِمَةً إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ تَعَالَى، وَقَدْ قَالَ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Segala puji hanya milik Allah Swt., Tuhan yang terus mencurahkan rahmat-Nya tanpa henti kepada kita semua. Atas izin-Nya pula, hari ini kita masih diberi kesehatan, tenaga untuk bekerja, dan semangat untuk menjalani hidup, sehingga dengan semuanya kita dapat melangkahkan kaki ke masjid dalam rangka ketaatan.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad saw., suri teladan utama dalam bersemangat ketika ibadah dan menjalani kehidupan. Semoga shalawat ini juga tercurah kepada keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh umat Islam yang istiqamah mengikuti gaya hidupnya hingga akhir zaman.
Selanjutnya, marilah kita memperkuat ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Kemudian, hendaklah kita introspeksi diri apakah hari-hari yang telah berlalu dihiasi dengan kebaikan untuk bekal akhirat?
Perenungan tersebut harus kita lakukan setiap saat. Sebab hal itu dituntun langsung oleh Allah Swt., melalui QS. Al-Hasyr ayat 18:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ
Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Puasa Ramadan adalah ibadah wajib bagi umat Islam secara umum. Tidak boleh bagi seorang muslim pun, tidak mengerjakannya dalam kondisi normal. Apabila ada orang yang tidak berpuasa, sedangkan ia mampu dan tanpa halangan, maka ia berdosa.
Adapun kewajiban berpuasa ini dijelaskan oleh Allah Swt. dalam QS. Al-Baqarah ayat 183:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Dalam melaksanakan kewajiban berpuasa di bulan Ramadan, kita tidak hanya bertugas untuk tidak makan dan minum pada siang harinya. Akan tetapi, terdapat syarat, rukun, dan ketentuan yang harus kita penuhi selama kita melaksanakan ibadah tersebut.
Oleh karena itu, kita harus mengetahui fiqih puasa secara praktis. Setiap ibadah, termasuk Puasa Ramadan yang kita kerjakan tanpa ilmu, akan ditolak oleh Allah Swt.. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Ruslan dalam kitab Az-Zubad, halaman 4:
وَكُلُّ مَنْ بِغَيْرِ عِلْمٍ يَعْمَلُ # أَعْمَالُهُ مَرْدُودَةٌ لَا تُقْبَلُ
Artinya, “Setiap orang yang beramal tanpa ilmu, maka amal-amalnya tertolak dan tidak diterima.”
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Dalam mengerjakan puasa, terdapat syarat, rukun, dan ketentuan yang harus dipenuhi agar ibadah tersebut diterima.
Adapun orang-orang yang wajib berpuasa harus memenuhi setidaknya empat unsur syarat, sebagaimana dijelaskan oleh Sirajuddin al-Balqini dalam kitab At-Tadrib fil Fiqhis Syafi’i, jilid I, halaman 338-339, yaitu: 1) Baligh (dewasa), 2) Berakal sehat, 3) Beragama Islam, 4) Kuat secara fisik melaksanakan puasa, dan 5) Suci dari haid (menstruasi) serta nipas bagi perempuan.
Maka, jika ada di antara kita orang-orang yang tidak memenuhi seluruh syarat tersebut, ia tidak wajib berpuasa.
Kemudian, ketika melaksanakan puasa, ada empat rukun saja yang harus kita lakukan, sebagaimana dijelaskan oleh Abu Syuja’ dalam kitab At-Taqrib, halaman 19, yaitu: 1) Berniat puasa (dilakukan di malam hari), 2) Menahan diri dari makan dan minum, 3) Menahan diri dari bersetubuh (dengan istri di siang hari), dan 4) Menahan diri dari muntah dengan sengaja.
Maka apabila keempat rukun itu kita laksanakan, puasa kita sudah bisa dianggap sah dan diterima oleh Allah. Sebab yang membatalkan puasa tidak jauh-jauh dari keempatnya.
Adapun yang membatalkan puasa itu, dijelaskan pula oleh Abu Syuja’ di dalam kitab dan halaman yang sama, yakni ada 10 hal: 1) Masuknya sesuatu ke rongga tubuh (al-Jauf) dengan sengaja, 2) Masuknya sesuatu melalui kepala, 3)Masuknya sesuatu ke kemaluan atau dubur, 4) Muntah dengan sengaja, 5) Berhubungan badan dengan sengaja, 6) Keluar mani karena bercumbu, 7) Haid, 8) Nifas, 9) Gila dan pingsan sepanjang hari, serta, 10) Murtad (keluar dari Islam)
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Selanjutnya, mengerjakan amalan-amalan pendukung atau sunnah sangat dianjurkan juga ketika berpuasa. Dalam kitab ‘Umdatus Salik wa ‘Uddatun Nasik, halaman 118, Ibnu Naqib menyebutkan banyak sekali sunnah-sunnah puasa yang dapat kita lakukan selama bulan Ramadan, terkhusus di siang harinya.
Di antara sunnah-sunnah tersebut, ialah: 1) Menyantap sahur di akhir waktu, 2) Menyegerakan berbuka, 3) Berbuka puasa menggunakan kurma dengan jumlah ganjil, 4) Demawan (banyak bersedekah), 5) Rutin bersilaturahmi, 6) Membaca Al-Quran, 7) I’tikaf di masjid, 8) Menghindari ghibah, 9) Menghindari kata-kata kotor, dan, 10) Menghindari berbohong atau menyebarkan hoaks.
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Demikianlah penjelasan sederhana tentang fiqih puasa secara praktis. Jadi, kita perlu mengingat kembali dan memahaminya dengan benar sebelum melaksanakan puasa.
Pemahaman yang berkaitan dengan hal-hal tentang puasa penting untuk kita mengerti, supaya ibadah yang kita kerjakan mendapatkan ganjaran pahala, sesuai dengan apa yang kita usahakan.
Adapun apa yang khatib sampaikan hanyalah sebagian kecil dari fiqih puasa. Apabila ingin mengetahui tentangnya lebih rinci dan luas, pergilah mengaji ke para ustadz dan kiai di sekitar kita.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوْا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلَآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَ اِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
9. Bulan Penuh Keutamaan, Jangan Sia-siakan Ramadan
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ للهِ جَعَلَ رَمَضَانَ شَهْرًا مُبَارَكًا، وَفَرَضَ عَلَيْنَا الصِّيَامَ لِأَجْلِ التَّقْوٰى. أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مَحَمَّدٍ الْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ، فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى. فَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. يَاۤأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءٰمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Menjadi kewajiban bagi kita untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Oleh karena itu, khatib mengajak jamaah dan khususnya diri pribadi khatib untuk menjadi pribadi bertakwa yang menjadi tujuan utama disyariatkannya ibadah puasa di bulan suci Ramadan.
Bisa bertemu kembali dengan Ramadan kali ini merupakan karunia terbesar yang Allah berikan kepada kita. Mari, kita maksimalkan nikmat ini dan jangan sampai kita termasuk orang yang menyia-nyiakan Ramadan. Hindari berpuasa yang hanya menahan lapar dan dahaga saja tanpa memperbaiki kualitas iman, akhlak, dan amal ibadah kita. Mari gunakan momentum Ramadan untuk memperbanyak kebaikan, mendekatkan diri kepada Allah, serta memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Ramadan merupakan bulan yang sangat istimewa dalam Islam karena di dalamnya Allah memberikan kesempatan besar kepada kita untuk memperbaiki diri, membersihkan dosa, dan meningkatkan kualitas ketakwaan. Setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya sehingga Ramadan menjadi momentum tahunan yang sangat berharga. Di bulan ini kebaikan dan keberkahan datang, keburukan dihilangkan. Rasulullah bersabda:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
Artinya: “Jika bulan Ramadan datang, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu,” (HR Muslim).
Ramadan bukan sekadar bulan ritual ibadah, melainkan sarana pendidikan ruhani untuk membentuk jiwa yang lebih dekat kepada Allah dengan akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Jika Ramadan dilewati tanpa adanya perubahan diri, maka kita telah kehilangan peluang besar yang mungkin tidak akan kita temui kembali.
Pada hakikatnya, puasa Ramadan bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi menjadi latihan pengendalian diri secara menyeluruh, baik lahir maupun batin. Puasa mengajarkan kesabaran, kejujuran, keikhlasan, serta kemampuan menahan hawa nafsu. Puasa juga adalah ibadah rahasia dan merupakan amal batin sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumiddin:
إِنَّ الصَّوْمَ كَفٌّ وَتَرْكٌ، وَهُوَ فِي نَفْسِهِ سِرٌّ لَيْسَ فِيهِ عَمَلٌ يُشَاهَدُ، وَجَمِيعُ أَعْمَالِ الطَّاعَاتِ بِمَشْهَدٍ مِنَ الْخَلْقِ وَمَرْأًى، وَالصَّوْمُ لَا يَرَاهُ إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّهُ عَمَلٌ فِي الْبَاطِنِ بِالصَّبْرِ الْمُجَرَّدِ.
Artinya: “Puasa itu menahan diri dan meninggalkan (larangan puasa). Puasa pada hakikatnya sebuah rahasia. Tidak ada amal yang tampak padanya. Kalau semua ibadah disaksikan dan dilihat oleh makhluk, ibadah puasa hanya dilihat oleh Allah Swt.. Puasa adalah amal batin, murni kesabaran.”
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Kelalaian dalam mengisi Ramadan menjadi bahaya yang sering tidak kita sadari. Banyak dari kita yang mengetahui keutamaan Ramadan, tetapi masih saja ada yang tidak mempersiapkan diri untuk memanfaatkannya secara maksimal. Penting bagi kita untuk senantiasa memanfaatkan waktu Ramadan dengan kegiatan yang bernilai ibadah dan menghindari aktivitas yang sia-sia.
Ramadan harus kita isi dengan target ibadah yang jelas, baik kuantitasnya maupun kualitasnya. Tanpa kesadaran dan perencanaan, Ramadan bisa saja berlalu begitu saja tanpa meninggalkan bekas perubahan dalam diri kita.
Agar Ramadan tidak berlalu sia-sia, kita perlu mempersiapkan diri dengan kesungguhan niat dan kesadaran bahwa Ramadan adalah kesempatan yang sangat berharga. Menetapkan target ibadah, menjaga keistiqamahan amal dan ibadah serta menjaga hati dan perilaku menjadi ikhtiar penting agar Ramadan benar-benar membawa perubahan.
Dengan tidak menyia-nyiakan Ramadan, insyaAllah, kita akan meraih pintu khusus bernama Ar-Rayyan yang disediakan oleh Allah bagi orang yang berpuasa di surga-Nya. Rasulullah bersabda:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، يُقَالُ: أَيْنَ الصَّائِمُونَ، فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ
Artinya: “Sesungguhnya di dalam surga terdapat satu pintu yang disebut dengan Ar-Rayyan, yang mana orang-orang yang berpuasa akan masuk surga melalui pintu tersebut pada hari kiamat kelak, dan tidak ada seorang pun yang masuk melewati pintu tersebut selain mereka. Lalu ketika dikatakan kepada mereka: ‘Di manakah orang-orang yang berpuasa?’ Mereka pun segera menghadap. Tidak akan ada seorang pun yang masuk melewati pintu tersebut selain mereka. Apabila mereka semua telah masuk, maka pintu itu ditutup dan tidak akan ada seorang pun yang masuk melewati pintu tersebut,” (HR Al-Bukhari).
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Ramadan adalah momentum perubahan diri yang diberikan oleh Allah setiap tahun kepada kita. Mari kita menjadikan Ramadan sebagai titik awal untuk menjadi pribadi yang lebih taat kepada Allah dan lebih bermanfaat bagi sesama manusia. Mari kita berlomba-lomba dalam kebaikan di bulan Ramadan. Allah telah memerintah kita untuk senantiasa fastabiqul khairat (berlomba dalam kebaikan) sebagaimana firman-Nya dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 148:
وَلِكُلٍّ وِّجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ١٤٨
Artinya, “Bagi setiap umat ada kiblat yang dia menghadap ke arahnya. Maka, berlomba-lombalah kamu dalam berbagai kebajikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”
Semoga Allah senantiasa memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua dalam menjalani berbagai ibadah di bulan Ramadan. Semoga kita bisa memaksimalkan Ramadan dan menjadikan diri kita termasuk golongan orang-orang yang bertakwa. Amin
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ بِاْلُقْرءَانِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهٗ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا، َأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Loading ...

3 hours ago
1

















































