AI dan 5G Saling Melengkapi, Indonesia Masih Tertinggal dari Negara Tetangga

7 hours ago 3

Selular.ID – President Director of Ericsson Indonesia Nora Wahby memandang AI dan 5G sebagai dua teknologi yang saling melengkapi untuk meningkatkan kapabilitas jaringan dan mendukung transformasi digital.

“Seperti yang sudah didiskusikan, semakin luasnya penggunaan AI sudah mendorong pergeseran pada permintaan jaringan, khususnya dengan meningkatnya kebutuhan terhadap konektivitas berkecepatan tinggi, latensi rendah, keamanan, serta kapasitas uplink yang lebih besar,” ujar Nora kepada Selular, Kamis (9/7/2026).

Nora menambahkan ntuk menjawab kebutuhan tersebut, Ericsson menekankan pentingnya percepatan implementasi 5G sebagai fondasi konektivitas yang memungkinkan AI beroperasi secara optimal.

“Hal ini memungkinkan operator untuk memberikan konektivitas yang lebih andal, pengalaman pengguna yang lebih baik, dan peningkatan kinerja jaringan dalam skala besar,” jelasnya.

Baca juga:

Secara lebih luas, Ericsson memandang 5G sebagai fondasi yang memungkinkan AI beroperasi secara efektif di berbagai sektor industri.

Selain mendukung operator dalam strategi rollout jaringan, Ericsson juga membantu bersama para mitra untuk mendorong adopsi dan monetisasi 5G agar investasi jaringan dapat menghasilkan nilai bisnis yang lebih besar.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

“Integrasi AI dan 5G ini adalah kunci untuk mempercepat transformasi digital dan mendukung pertumbuhan ekonomi digital Indonesia,” jelas Nora.

Tertinggal dari Negara Tetangga

Nora juga menyampaikan jika Indonesia segera memasuki era telekomunikasi jaringan generasi kelima alias 5G.

Menurutnya, Indonesia saat ini memang masih berada pada tahap awal pengembangan 5G dibandingkan beberapa negara di kawasan.

“Kecepatan Indonesia mengatasi ketertinggalan bergantung pada pergerakan ekosistem, terutama dalam hal investasi, regulasi, ketersediaan spektrum, serta kemampuan mendorong adopsi dan monetisasi 5G,” ujar Nora.

“Dengan adanya progres dalam alokasi spektrum, target pemerintah Indonesia untuk mencapai penetrasi 5G sebesar 30% pada 2030 merupakan target yang dapat dicapai,” sambungnya.

Nora menambahkan didukung visi Indonesia Emas 2045, kebijakan yang tepat, serta keterlibatan regulator, operator, dan pelaku industri, Indonesia memiliki peluang besar untuk mempercepat transformasi digitalnya.

“Kita telah melihat contoh seperti India dan Amerika Serikat yang berhasil mempercepat rollout 5G melalui komitmen untuk menyediakan spektrum dan mendorong nilai ekonomi dari implementasi 5G,” jelasnya.

Ericsson berharap dengan seluruh upaya yang telah dilakukan, Indonesia dapat berada di jalur yang tepat untuk mendukung penyedia layanan melakukan rollout 5G pada kecepatan yang tepat dan di waktu yang tepat.

Lelang Spektrum

Selain itu, Nora juga menyoroti lelang pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz yang merupakan spektrum utama dari jaringan 5G telah dilelang.

Menanggapi hal tersebut, President Director of Ericsson Indonesia Nora Wahby mengatakan Ericsson telah menyiapkan berbagai teknologi 5G terkini ke Indonesia.

“Ericsson akan membantu Indonesia untuk melakukan pemerataan jaringan 5G dengan memanfaatkan pengalaman implementasi Ericsson secara global dan menyesuaikannya dengan kebutuhan lokal,” ujar Nora kepada Selular.

Nora menambahkan Bagir Ericsson, jaringan 5G bukan sekadar menghadirkan kecepatan yang lebih tinggi.

“5G bagi kami tak hanya sekadar menghadirkan kecepatan,tetapi juga membangun jaringan yang lebih responsif, andal, dan efisien untuk mendukung kebutuhan digital masa depan ” jelasnya.

Salah satu teknologi yang bakal Ericsson dorong adalah kapabilitas jaringan berbasis AI, termasuk AI-powered radio Access Network (AI-RAN), yang dapat membantu operator mengoptimalkan performa jaringan.

Selain itu, juga dapat meningkatkan efisiensi, serta mengelola pertumbuhan trafik yang semakin kompleks.

Hal ini menjadi semakin penting seiring meningkatnya penggunaan AI yang mendorong kebutuhan trafik uplink yang lebih tinggi akibat semakin banyaknya aktivitas interaktif dan pembuatan konten oleh pengguna.

Selain itu, Ericsson juga melihat potensi besar pada differentiated connectivity, yang memungkinkan operator menghadirkan kualitas layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna maupun sektor industri tertentu.

Sementara itu, Fixed Wireless Access (FWA) dapat menjadi solusi efektif untuk memperluas akses broadband, terutama di wilayah yang masih menghadapi tantangan pembangunan infrastruktur fiber.

“Secara keseluruhan, teknologi-teknologi ini menjadikan 5G bukan hanya sebagai sarana konektivitas, tetapi juga sebagai pondasi digital yang mendukung inovasi di berbagai sektor dan mempercepat transformasi digital Indonesia,” tandas Nora.

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi