Jakarta, CNN Indonesia --
Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat (AS) memicu perhatian pasar energi global. Namun, dampaknya terhadap harga minyak dunia dinilai masih relatif terbatas, setidaknya dalam jangka pendek.
Ekonom Senior Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Muhammad Ishak Razak menilai faktor utama yang menahan gejolak pasar adalah kecilnya porsi produksi minyak Venezuela saat ini, meski cadangan terbuktinya terbesar di dunia.
"Dampaknya terbatas kecuali ada eskalasi lebih lanjut. Baseline: produksi minyak Venezuela saat ini hanya sekitar 1 juta barel per hari dan kurang dari 1 persen produksi global, sehingga jika terjadi disrupsi dalam jangka pendek maka dampaknya relatif terbatas," ujar Ishak kepada CNNIndonesia.com, Selasa (6/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, kontribusi Venezuela terhadap pasokan global masih jauh dari masa kejayaannya.
"Secara historis tertinggi pernah mencapai 3,5 juta barel per hari pada 1990-an," ujarnya.
Pemulihan Produksi Butuh Waktu
Ishak menilai rencana Presiden AS Donald Trump untuk melibatkan perusahaan minyak besar AS dalam pemulihan sektor migas Venezuela tidak akan memberikan dampak instan.
"Dalam jangka menengah, meskipun Trump berencana melibatkan perusahaan minyak AS besar untuk berinvestasi untuk memperbaiki infrastruktur di negara itu, proses ini memerlukan waktu bertahun-tahun," ucapnya.
Menurutnya, jika AS ikut mengelola sektor migas Venezuela, Washington juga memiliki kepentingan menjaga keseimbangan pasar.
"Jika AS mengelola sektor ini, maka ia bisa mengendalikan pasokan untuk menghindari banjir pasar sebab AS juga berkepentingan agar harga tidak terlalu jatuh karena biaya produksi shale oil di AS relatif tinggi," jelas Ishak.
Ia menambahkan, jika produksi meningkat, ekspor minyak Venezuela kemungkinan tidak langsung membanjiri Asia. "Kalaupun diekspor, maka akan diprioritaskan ke kilang di Gulf Coast daripada ke Asia," katanya.
Selain itu, faktor stabilitas domestik Venezuela juga menjadi ketidakpastian. "Ketidapastian lainnya adalah stabilitas politik dan keamanan domestik yang berpotensi mengganggu investasi di negara itu, jika melihat reaksi demonstrasi di Caracas kemarin," ujar Ishak.
Tekanan Harga Jangka Menengah
Menurut Ishak, tekanan harga minyak baru akan terasa jika produksi Venezuela benar-benar pulih signifikan.
"Keterlibatan AS akan menekan harga jangka panjang jika produksi Venezuela pulih ke level 2-3 juta barel per hari dalam 2-5 tahun," katanya.
Namun selama tidak ada eskalasi konflik, pasar masih cenderung stabil. Sebab, jika tidak ada eskalasi lebih lanjut, seperti serangan ke negara lain seperti Kolombia, maka harga minyak lebih banyak akan dipengaruhi oleh surplus pasokan global yang sudah ada saat ini.
Ia mencontohkan respons pasar sejauh ini masih terbatas. "Hal ini terlihat pada harga minyak Brent yang hanya naik sekitar US$2 per barel beberapa hari setelah penangkapan Maduro," ujarnya.
Ishak juga menyoroti implikasi geopolitik jangka panjang.
Menurutnya, apabila AS mampu mengkonsolidasikan produksi minyak nya dan Venezuela, maka bisa menggeser posisi OPEC+ termasuk Rusia dan Iran, dalam penguasaan cadangan, bukan hanya produksi global.
"Secara politik akan sangat menguntungkan AS dalam mempengaruhi pendapatan negara-negara yang menjadi musuh politiknya," tambah Ishak.
Dampak Bagi Indonesia
Sementara itu, bagi Indonesia, dampak jangka pendek diperkirakan tidak signifikan. Namun, ia melihat peluang berbeda dalam jangka lebih panjang.
"Jika pasokan Venezuela meningkat di bawah pengelolaan AS, minyak heavy crude murah bisa membanjiri Asia lagi sehingga menurunkan harga minyak di Asia," katanya.
Meski begitu, ia melihat kondisi domestik juga berperan. "Perlu diingat, tahun ini Pertamina menyatakan berpeluang mengalami surplus solar seiring operasi RDMP dan implementasi B50 sehingga kebutuhan impor akan dikurangi," ucap Ishak.
Ia menambahkan, karakter kilang nasional juga membatasi dampaknya.
"Heavy crude yang banyak diproduksi Venezuela lebih cocok untuk solar, sementara kilang-kilang domestik lebih didesain untuk light crude oil sehingga kebutuhan impor akan menurun," pungkasnya.
(ldy/sfr)

1 day ago
3














































