Jakarta, CNN Indonesia --
Amerika Serikat dan Iran sepakat gencatan senjata dua pekan usai lebih dari sebulan perang. Namun, Israel diperkirakan bakal membujuk Washington untuk membatalkan kesepakatan.
Dalam analisis Al Jazeera, Israel di bawah pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahkan bisa menghasut AS untuk kembali menyerang Iran.
Terlebih, Israel punya riwayat melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas di Jalur Gaza, Palestina dan dengan milisi di Lebanon Hizbullah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Israel dan Hizbullah setuju gencatan senjata pada November 2024. Beberapa poin kesepakatan berisi penghentian pertempuran, penarikan pasukan Israel, dan pelucutan senjata Hizbullah.
Namun, Israel terus menggempur Hizbullah dan enggan menarik pasukan dari garis yang sudah disepakati. Situasi serupa juga terjadi saat Israel sepakat gencatan dengan Hamas.
Israel seharusnya dilarang menyerang Gaza, tapi mereka terus melakukan. Pasukan Zionis bahkan sempat menggempur Tepi Barat dengan dalih bukan bagian dari Gaza.
Dalam analisisnya, Al Jazeera juga melaporkan akan ada banyak upaya di balik layar dari Israel untuk mendorong perubahan sikap AS agar menggagalkan kesepakatan gencatan senjata ini.
Untuk saat ini, Israel kemungkinan masih menimbang-nimbang posisi mereka dalam situasi sekarang, termasuk apakah mereka dapat menolak gencatan senjata jika AS-Iran benar-benar sepakat.
Sementara itu, Kantor Perdana Menteri Israel menyatakan dukungan mereka ke AS terkait keputusannya menyepakati gencatan.
"Israel mendukung keputusan Presiden Trump untuk menangguhkan serangan terhadap Iran selama dua minggu, dengan syarat Iran segera membuka Selat Hormuz dan menghentikan seluruh serangan terhadap Amerika Serikat, Israel, serta negara-negara di kawasan," demikian isi pernyataan kantor PM Israel di X, Rabu (8/4).
Netanyahu juga menegaskan dukungan Israel terhadap upaya AS memastikan Iran tidak lagi menjadi ancaman nuklir, rudal, maupun teror bagi kedua negara serta negara-negara Arab di kawasan.
Dalam rilis resmi, Israel juga enggan mengakui Lebanon terlibat dalam gencatan senjata.
"Gencatan senjata selama dua minggu tersebut tidak termasuk Lebanon," demikian pernyataan kantor PM Israel.
Pakistan, selaku mediator, padahal sudah menjelaskan gencatan itu mencakup sekutu AS dan Iran termasuk Lebanon.
"Dengan kerendahan hati yang sebesar-besarnya, saya dengan senang hati mengumumkan bahwa Republik Islam Iran dan Amerika Serikat, bersama dengan sekutu-sekutunya, telah sepakat untuk gencatan senjata segera di mana pun, termasuk Lebanon dan tempat lain, BERLAKU SEGERA," kata PM Pakistan Shehbaz Sharif.
Pernyataan Israel sesuai tindakan mereka. Belum genap 24 jam AS-Iran sepakat gencatan, Israel terus membombardir Lebanon selatan.
Israel meluncurkan serangan di Kota Tyre dan menghantam dekat rumah sakit, demikian dikutip Al Jazeera.
Pasukan Zionis juga meluncurkan serangan ke Kota Machgharah di Lembah Bekaa, dan drone Israel terus terbang rendah di sekitar ibu kota, Beirut, saat ini.
Terbaru, Israel tetap melancarkan serangan ke Kota Tyre, Lebanon. Dilansir dari Aljazeera, beberapa saat lalu, tentara Israel juga mengeluarkan perintah pengungsian paksa kepada penduduk di sejumlah wilayah di Beirut seperti di Haret Hreik, Ghobeiry Laylaki, Hadath, Burj Al Barajneh, Tawhidat al-Ghadir dan Shiyah.
Tercatat hingga saat ini ada 1,2 juta warga Lebanon karena serangan membabi buta Israel. Terbaru adalah serangan udara zionis membunuh setidaknya delapan orang di Kota Sidon.
Padahal, Perdana Menteri Sehbaz Sharif mengatakan bahwa Lebanon masuk dalam kesepakatan gencatan senjata AS dan Iran. Namun, Israel menolak keras pernyataan Sharif.
(isa/bac)
Add
as a preferred source on Google

10 hours ago
5













































