CNN Indonesia
Rabu, 03 Jun 2026 06:30 WIB
Backrooms berhasil mencatatkan debut terbesar dalam sejarah untuk film horor orisinal. (dok. A24/21 Laps Entertainment/Atomic Monster via IMDb)
Jakarta, CNN Indonesia --
Backrooms berhasil mencatatkan debut terbesar dalam sejarah untuk film horor orisinal. Film horor psikologis ini berhasil melampaui seluruh ekspektasi box office dengan meraup US$81 juta di pasar domestik serta US$118 juta secara global pada akhir pekan perdananya.
Pendapatan debut fantastis tersebut sangat menguntungkan rumah produksi A24 dan Chernin Entertainment yang menggarap Backrooms dengan anggaran sekitar US$10 juta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak ada yang memperkirakan film ini akan dibuka dengan pendapatan di atas US$80 juta," kata analis Jeff Bock dari Exhibitor Relations seperti diberitakan Variety pada Senin (1/6).
"Ada obsesi besar terhadap mitologi Backrooms, dan sebagian dari hal itulah yang menghasilkan akhir pekan pembukaan sebesar film-film Marvel," lanjutnya.
Kesuksesan itu menjadikan Backrooms sebagai film dengan debut terbesar sepanjang sejarah rumah produksi A24. Angka debut Backrooms lebih dari tiga kali lipat rekor yang sebelumnya dipegang film thriller Civil War (2024) karya Alex Garland yang debut dengan pendapatan sebesar US$25,5 juta.
Kesuksesan debut Backrooms sekaligus menjadikan Kane Parsons sebagai sutradara termuda yang berhasil memiliki film peringkat pertama di box office.
YouTuber itu berhasil mengalahkan rekor yang sebelumnya dipegang oleh Josh Trank, yang berusia 27 tahun ketika film Chronicle (2012) debut di posisi pertama dengan pendapatan US$22 juta.
Kane Parsons juga termasuk dalam kreator YouTube yang berhasil menembus arus utama dengan membawa basis penggemar online mereka yang sangat besar ke kursi bioskop.
Film horor dengan konsep liminal spaces ini berhasil mematahkan kekhawatiran Hollywood bahwa penonton muda alias Gen Z tidak terbiasa menonton film di bioskop.
Backrooms membuktikan bahwa penonton muda mendominasi kursi penonton dengan hampir 85 persen penonton berusia di bawah 35 tahun, dan 50 persen berusia 25 tahun atau lebih muda.
Hal senada juga dibuktikan oleh film horor thriller Obsession yang berhasil membawa sekitar 75 persen penonton berusia antara 18 hingga 25 tahun pada debut penayangannya.
"Film-film ini bisa hidup berdampingan karena permintaannya sangat besar," kata analis Jeff Bock. "Keduanya sukses besar di puncak musim panas membuktikan bahwa audiens ini masih belum bisa dipenuhi kebutuhannya."
Kendati demikian, Variety menilai Gen Z tidak akan pergi ke bioskop untuk asal menonton film yang sedang tayang. Generasi muda ini dinilai tidak otomatis menonton sekuel spin-off, atau reboot dari film-film ternama.
Hal itu terlihat dari The Mandalorian and Grogu dari semesta Star Wars, meskipun tayang di lebih banyak layar dibandingkan Backrooms dan Obsession, film beranggaran besar ini justru mengalami penurunan tajam sebesar 70 persen di minggu kedua dan hanya berada di posisi ketiga box office.
Kehadiran genre horor psikologis seperti Backrooms juga merepresentasikan kejenuhan penonton terhadap film horor yang identik dengan efek kejut. Penonton menunjukkan minat pada film horor yang cenderung berada di luar arus utama.
"Tiga puluh tahun lalu, film horor didorong oleh kekerasan dan darah," kata analis David A. Gross, yang menerbitkan buletin box office FranchiseRe.
"Film-film horor terbaik kini mulai melampaui sekadar efek kejut. Unsur horornya tetap ada, tetapi digunakan dalam narasi yang lebih ambisius dan membantu menyampaikan cerita yang lebih memuaskan. Para pembuat film menggali lebih dalam," lanjutnya.
Kesuksesan Backrooms pada pekan debutnya juga memperlihatkan minat penonton pada film horor orisinal. Film ini juga berhasil mendobrak layar kecil internet menjadi film layar lebar di bioskop.
Backrooms diadaptasi dari serial web populer karya Parsons yang mengangkat konsep liminal spaces, ruangan dan struktur yang terasa ganjil, menyeramkan, dan seolah tidak berujung, yang dalam beberapa tahun terakhir populer di forum daring seperti Reddit dan TikTok.
Ceritanya mengikuti seorang pemilik toko furnitur yang diperankan oleh Chiwetel Ejiofor, yang menemukan sebuah pintu rahasia yang membawanya ke rangkaian ruangan biasa yang tampaknya tak berujung.
Ketika ia menghilang, terapisnya (Renate Reinsve) memulai perjalanan ke wilayah yang tidak diketahui untuk menyelamatkannya.
Meskipun sekuelnya belum diumumkan secara resmi, Kane Parsons telah memberi isyarat mengenai kemungkinan menjadikan Backrooms sebagai sebuah waralaba film. Sebelum ruang-ruang lintas dimensi tersebut kembali hadir di layar lebar.
Backrooms tayang pada 12 Juni 2026 di bioskop Indonesia.
(van/end)
Add
as a preferred source on Google

1 hour ago
1

















































