Bukan Cuma Banyak Pikiran, Ini Tanda Overthinking Sudah Berbahaya

3 hours ago 1

CNN Indonesia

Jumat, 27 Feb 2026 09:45 WIB

Overthinking tak sekadang otak yang tak bisa berhenti berpikir. Dalam beberapa kondisi, overthinking mulai berbahaya dan mengganggu kesehatan mental. Ilustrasi. Dalam beberapa kondisi, overthinking mulai berbahaya dan mengganggu kesehatan mental. (iStockphoto)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Ketika pikiran terus berputar tanpa jeda hingga mengganggu tidur dan aktivitas sehari-hari, itu bisa menjadi tanda overthinking sudah berdampak pada kesehatan mental.

Memikirkan sesuatu secara mendalam sering dianggap sebagai tanda kehati-hatian. Namun, ketika pikiran berputar tanpa henti, mengulang skenario yang sama dan membuat tubuh ikut tegang, itu bukan lagi sekadar refleksi biasa. Overthinking yang dibiarkan berlarut-larut dapat berdampak pada kesehatan mental.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengutip Very Well Mind, overthinking membuat keputusan sederhana terasa berat. Kebiasaan ini tidak membantu menemukan jalan keluar, justru membuat seseorang terjebak dalam lingkaran kekhawatiran dan keraguan yang menghambat tindakan.

Mengutip dari berbagai sumber, berikut merupakan beberapa tanda overthinking sudah mulai mengganggu kesehatan mental.

1. Pikiran tak mau berhenti

Salah satu tanda paling jelas adalah ketika pikiran terus mengulang percakapan yang sudah terjadi, membayangkan skenario terburuk, atau memikirkan kesalahan lama berulang kali. Pola ini dikenal sebagai rumination, yakni merenungkan hal yang sama tanpa menghasilkan solusi.

Saat malam tiba, kondisi ini sering memburuk. Tubuh lelah, tetapi otak tetap aktif, seolah tidak memiliki tombol jeda.

2. Mengganggu kualitas tidur

Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan merenung berlebihan berkaitan dengan kualitas tidur yang buruk. Pikiran yang terus aktif membuat seseorang sulit terlelap atau tidak bisa mencapai tidur nyenyak. Hal ini membuat orang yang overthinking tidak bisa berhenti berpikir walau tubuhnya sudah berada di tempat tidur.

Kurang tidur kemudian memperburuk kondisi emosional keesokan harinya. Akibatnya, kecemasan meningkat dan pikiran semakin sulit dikendalikan. Terbentuklah lingkaran yang sulit diputus.

3. Cemas tanpa henti

Mengutip Women in Balance, overthinking hampir selalu berjalan beriringan dengan kecemasan. Tubuh berada dalam mode siaga terus-menerus, meski tidak ada ancaman nyata.

Dada terasa sesak, jantung berdebar lebih cepat, sulit rileks, dan muncul rasa khawatir berlebihan. Jika berlangsung hampir setiap hari dan mengganggu aktivitas, kondisi ini bisa berkaitan dengan gangguan kecemasan.

4. Terjebak skenario buruk

Overthinking juga sering disertai distorsi kognitif, seperti catastrophizing atau membayangkan hasil terburuk sebagai sesuatu yang hampir pasti terjadi. Kesalahan kecil bisa terasa seperti ancaman besar.

Pola pikir ini meningkatkan stres dan dalam jangka panjang dapat memperbesar risiko depresi karena seseorang terus fokus pada kemungkinan negatif.

5. Sulit mengambil keputusan

Menukil dari NeuroLaunch, menghabiskan waktu lama hanya untuk memilih hal kecil seperti menentukan menu makan atau membalas pesan bisa menjadi tanda overthinking sudah menghambat fungsi sehari-hari.

Terlalu banyak berpikir justru membuat keputusan semakin sulit diambil. Energi mental terkuras sebelum tindakan dilakukan. Dalam jangka panjang, kondisi ini memicu kelelahan mental dan rasa frustrasi pada diri sendiri.

6. Hubungan sosial terganggu

Overthinking juga bisa merusak relasi. Terlalu sering menafsirkan ulang kata-kata orang lain, mempertanyakan niat mereka, atau mencari makna tersembunyi dalam setiap pesan dapat memicu konflik.

Seseorang mungkin membutuhkan kepastian terus-menerus atau justru menarik diri karena takut salah. Kedua pola ini sama-sama melelahkan bagi diri sendiri maupun orang di sekitarnya.

Kebiasaan ini biasanya tidak muncul begitu saja. Peristiwa hidup yang penuh tekanan, ketidakpastian masa depan, pengalaman traumatis, hingga perfeksionisme dapat menjadi pemicu.

Orang dengan standar diri sangat tinggi cenderung menganalisis setiap kemungkinan demi menghindari kesalahan. Namun, karena hidup penuh variabel yang tak bisa dikontrol, pikiran tak pernah benar-benar merasa puas.

Overthinking memang bukan gangguan mental tersendiri. Namun, kebiasaan ini berkaitan dengan peningkatan risiko depresi, kecemasan, hingga gangguan stres pascatrauma jika dibiarkan terus-menerus.

Jika berbagai cara seperti distraksi sehat, meditasi, atau berbagi cerita dengan orang terdekat tidak membantu, berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater bisa menjadi langkah penting. Terapi dapat membantu mengenali pola pikir yang tidak sehat sekaligus melatih strategi mengelolanya.

(nga/asr)

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi