Bukan Hiu atau Paus, Ini Penguasa Lautan Ratusan Juta Tahun Lalu

6 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Hiu dan paus yang memiliki ukuran besar ternyata memiliki pesaing sebagai penguasa lautan di masa lampau, yakni gurita. Sebuah studi terbaru mengungkap bagaimana gurita memiliki lebih banyak peran sebagai predator di ekosistem laut ratusan juta tahun lalu.

Studi yang dipimpin para peneliti di Universitas Hokkaido ini menemukan bahwa gurita periode awal yang diketahui merupakan predator raksasa berada di puncak rantai makanan bersama sejumlah vertebrata laut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gurita adalah hewan bertubuh lunak, dan fosilnya jarang terawetkan dengan baik. Hal ini membuat sejarah evolusinya sangat sulit dilacak dibandingkan dengan hewan yang meninggalkan tulang atau cangkang.

Dalam penelitian ini, para peneliti menggunakan fosil rahang gurita purba untuk merekonstruksi sejarah tersembunyi mereka.

Dengan menggunakan tomografi penggilingan resolusi tinggi dan model kecerdasan buatan, mereka menemukan rahang fosil yang tersembunyi di dalam sampel batuan dari periode Kapur Akhir, yang mencakup periode 100 juta hingga 72 juta tahun yang lalu.

Fosil-fosil yang ditemukan di Jepang dan Pulau Vancouver ini telah terawetkan dengan baik di sedimen dasar laut yang tenang, sehingga mempertahankan bekas keausan halus yang mengungkapkan bagaimana hewan-hewan ini makan.

Fosil-fosil tersebut milik sekelompok gurita bersirip yang telah punah, yang dikenal sebagai Cirrata.

Dengan menganalisis ukuran, bentuk, dan pola keausan rahang, tim tersebut menyimpulkan bahwa hewan-hewan ini adalah predator aktif yang kemungkinan besar menghancurkan mangsa keras dengan gigitan yang kuat.

"Temuan kami menunjukkan bahwa gurita purba merupakan predator raksasa yang menduduki puncak rantai makanan laut pada masa Cretaceous," kata Profesor Yasuhiro Iba dari Universitas Hokkaido, dikutip dari Phys.

"Berdasarkan fosil rahang yang terawetkan dengan sangat baik, kami menunjukkan bahwa hewan-hewan ini memiliki panjang total hingga hampir 20 meter, yang mungkin melebihi ukuran reptil laut besar pada masa yang sama," tambahnya.

Iba menambahkan temuan yang paling mengejutkan, mungkin, adalah tingkat keausan pada rahang. Rahang fosil tersebut menunjukkan banyak retakan, goresan, pecahan, dan penghalusan, yang semuanya merupakan tanda-tanda kekuatan gigitan yang kuat.

"Pada spesimen yang sudah dewasa, hingga 10 persen ujung rahang relatif terhadap panjang rahang total telah terkikis, yang lebih besar daripada yang terlihat pada cephalopoda modern yang memakan mangsa bercangkang keras. Hal ini menunjukkan interaksi berulang dan kuat dengan mangsanya, mengungkap strategi makan yang tak terduga agresif," tuturnya.

Temuan ini menunjukkan bahwa gurita purba ini adalah pemburu yang kuat dan aktif yang mengonsumsi mangsa dalam jumlah besar.

Lebih lanjut, temuan ini mengubah pandangan para ilmuwan mengenai sejarah awal gurita. Fosil-fosil baru ini memperpanjang catatan tertua yang diketahui tentang gurita bersirip sekitar 15 juta tahun dan catatan gurita secara umum sekitar 5 juta tahun, sehingga menjadi bukti keberadaan mereka pada periode sekitar 100 juta tahun yang lalu.

Satu petunjuk yang sangat menarik berasal dari keausan yang tidak merata pada rahangnya.

Pada dua spesies yang diteliti, satu sisi bagian gigitan lebih aus daripada sisi lainnya, yang menunjukkan bahwa hewan-hewan ini mungkin lebih sering menggunakan satu sisi rahangnya.

Asimetri perilaku semacam ini, yang dikenal sebagai lateralisasi, dikaitkan dengan pemrosesan saraf yang canggih pada hewan modern. Penelitian ini menunjukkan bahwa bahkan gurita purba ini mungkin sudah menunjukkan perilaku kompleks yang terkait dengan kecerdasan.

Selama puluhan tahun, para ilmuwan memandang ekosistem laut purba sebagai ekosistem yang didominasi oleh predator vertebrata, sementara invertebrata dianggap menempati tingkatan yang lebih rendah dalam jaring makanan.

Temuan terbaru menunjukkan bahwa gurita raksasa merupakan pengecualian yang tak terduga. invertebrata yang berhasil naik ke tingkatan teratas jaring makanan laut dan bersaing dengan vertebrata besar.

"Penelitian ini memberikan bukti langsung pertama bahwa invertebrata dapat berevolusi menjadi predator puncak raksasa dan cerdas dalam ekosistem yang selama sekitar 400 juta tahun didominasi oleh vertebrata," kata Iba.

(lom/dmi)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi